Tekno

Potensi dan Tantangan Fitur Dubbing AI YouTube dalam Pendidikan Menurut Akademi AI Indonesia

Minggu, 25 Juni 2023 - 05:38 | 275.82k
Ilustrasi. Belajar makin dimudahkan dengan perkembangan AI. (Foto: Dokumen)
Ilustrasi. Belajar makin dimudahkan dengan perkembangan AI. (Foto: Dokumen)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – AI semakin merambah ke berbagai bidang, termasuk pendidikan. Salah satu terobosan terbaru adalah fitur dubbing AI multibahasa yang dikembangkan oleh YouTube dan Aloud, yang menurut peneliti AI dari Akademi AI Indonesia (AAI), Fajar Trang Bawono, memiliki potensi luar biasa untuk mengubah cara belajar dan berkomunikasi.

"Fitur ini membuka akses ke konten pembelajaran dalam bahasa yang akrab bagi siswa dari latar belakang budaya yang beragam," kata Fajar.

"Ini memungkinkan siswa untuk memperdalam pemahaman mereka tanpa batasan bahasa dan mempromosikan inklusi dalam pembelajaran."

Tantangan dalam Pemanfaatan Fitur Dubbing AI Multibahasa

Meskipun fitur ini menjanjikan banyak manfaat, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. "Keakuratan terjemahan otomatis dan konteks yang sesuai adalah faktor penting," ungkap Fajar.

"Kualitas suara yang dihasilkan oleh AI juga perlu ditingkatkan. Selain itu, penting untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada teknologi, yang dapat mengurangi kemampuan siswa dalam berkomunikasi langsung dalam bahasa target dan menghambat perkembangan keterampilan interaksi sosial."

Meski ada tantangan, fitur dubbing AI multibahasa menjanjikan masa depan pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan. "Dengan terus mendorong inovasi, kolaborasi, dan kesadaran akan potensi dan tantangan, fitur dubbing AI multibahasa dalam pendidikan dapat menjadi perjalanan menuju masa depan pendidikan yang inklusif, global, dan berkelanjutan," kata Fajar.

Begitu kita mampu merangkul teknologi ini sebagai alat dan bukan pengganti, dapat memperluas cakrawala pendidikan, menggabungkan keunikan budaya, dan menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif.

Fajar percaya bahwa saat kita melampaui batas bahasa dan merangkul keberagaman, kita menciptakan ruang untuk pertumbuhan, inspirasi, dan kesempatan bagi setiap siswa untuk meraih impian mereka dalam pendidikan yang memperkaya jiwa mereka.

Masa Depan Pendidikan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Seiring dengan perkembangan teknologi ini, perlu dilakukan penjembatanan antara potensi manfaat dan tantangan yang ada. Fajar menekankan pentingnya evaluasi yang cermat, pengembangan konten berkualitas, dan pendekatan yang berfokus pada siswa sebagai kunci untuk mencapai keberhasilan pemanfaatan fitur ini.

"Pendidikan harus tetap berfokus pada siswa, bukan teknologi itu sendiri. Dengan menggunakan fitur dubbing AI multibahasa sebagai alat untuk memperkaya pengalaman belajar siswa, bukan sebagai pengganti proses belajar tradisional, kita dapat mencapai hasil terbaik," paparnya.

Masa Depan Fitur Dubbing AI Multibahasa

Menurut Fajar, fitur dubbing AI multibahasa memiliki potensi besar dalam mendorong inklusivitas dan keragaman dalam pendidikan. Ia berharap bahwa teknologi ini akan terus dikembangkan dan ditingkatkan untuk mengatasi tantangan yang ada.

"Ini adalah perjalanan, bukan tujuan akhir. Fitur dubbing AI multibahasa dalam pendidikan harus terus berevolusi dan beradaptasi dengan kebutuhan siswa dan lingkungan belajar yang terus berubah," tutup Fajar.

Fajar yakin bahwa fitur dubbing AI multibahasa dapat digunakan dalam pendidikan, serta tantangan yang perlu dihadapi dan diatasi. Meskipun ada tantangan yang harus diatasi, potensi manfaatnya sangat luar biasa dan memberi harapan untuk masa depan pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang tepat, fitur dubbing AI multibahasa ini dapat menjadi alat yang kuat untuk memperluas cakrawala pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih beragam dan inklusif. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Khoirul Anwar
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES