Tekno

Peneliti Unpad Kembangkan Alat Pemeriksa Janin Detect Me

Rabu, 17 Januari 2024 - 21:26 | 38.31k
Tangkapan layar Pakar kesehatan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Restuning Widiasih, dalam podcast Hasil Riset dan Diseminasi (HaRD Talk) Universitas Padjadjaran pada saluran berbagi video milik Unpad. (ANTARA/HO)
Tangkapan layar Pakar kesehatan dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Restuning Widiasih, dalam podcast Hasil Riset dan Diseminasi (HaRD Talk) Universitas Padjadjaran pada saluran berbagi video milik Unpad. (ANTARA/HO)

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Pakar kesehatan Universitas Padjadjaran (Unpad) Restuning Widiasih bersama dengan anggota tim peneliti mengembangkan alat periksa kesehatan janin portabel berbasis nirkabel atau Internet of Things (IoT). Alat ini kemudian diberi nama Detect Me.

Restu mengatakan pengembangan alat itu dilandasi tingkat kematian janin di Indonesia yang masih tinggi akibat pendeteksian terlambat karena kurangnya pengetahuan para ibu hingga kurangnya akses terhadap layanan kesehatan, utamanya di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Indonesia.

"Terlebih pandemi COVID-19 juga sempat menjadi penghalang bagi para ibu untuk memeriksakan janinnya ke fasilitas kesehatan. Kondisi inilah yang mendorong untuk pengembangan alat pendeteksi kesehatan janin ini," kata Restu yang juga Wakil Dekan II Fakultas Keperawatan Unpad. di Bandung, Jawa Barat, Rabu (17/1/2024).

Restu mengatakan alat itu ukurannya cukup kecil sehingga mudah dibawa kemana-mana dan penggunaannya relatif mudah karena dapat terhubung ke telepon pintar secara nirkabel melalui jaringan internet, sehingga para ibu dapat langsung memantau denyut jantung dan pergerakan janin mereka dengan membuka aplikasi ponsel.

"Teknologi smartphone ini sebenarnya sudah dekat dengan masyarakat Indonesia. Jadi terkait ada sinyal atau tidak, aksesnya susah atau enggak, bagaimana mendeteksinya, rasanya itu sudah bukan masalah besar di Indonesia," ujarnya.

Alat tersebut lanjutnya, juga bermanfaat bagi mereka yang kehamilannya berisiko tinggi. Lebih lanjut Restu menjelaskan ada lima tahapan sebelum alat itu dapat diproduksi dan digunakan masyarakat. Saat ini proses pengembangan alat tersebut masih berada pada tahap pertama yakni pengecekan kemampuan alat untuk membedakan denyut jantung ibu dan janin, serta perancangan aplikasi.

Setelah tahap satu terlewati, maka tahap kedua adalah perangkat mulai disambungkan ke aplikasi smartphone secara nirkabel.

"Setelah itu, perangkat akan terus dimodifikasi hingga ukurannya menjadi makin kecil dan makin portabel. Jika pengembangannya sudah mencapai tahap final, perangkat akan melewati berbagai pengujian, sebelum dapat diproduksi secara massal," tuturnya.

Dalam proses pembuatan dan pengembangan alat ini, pihaknya bekerja sama dengan pakar-pakar dari berbagai institusi, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Telkom University, dan RSUP Hasan Sadikin Bandung.

"Untuk alat ini sampai di layanan kesehatan atau di pasaran, mungkin membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun lagi, karena prosesnya memang kita masih terus mencari yang betul-betul aman, betul-betul portabel, betul-betul mudah untuk digunakan," ujarnya.

Sejauh ini, kata dia, sudah terdapat mitra industri yang bersedia bekerja sama dengan pihak peneliti untuk mendistribusikan ke toko-toko kesehatan. Di samping itu, tim peneliti juga merencanakan diseminasi alat tersebut kepada lembaga-lembaga pemerintahan, serta LSM yang berfokus pada bidang kesehatan ibu dan anak, agar alat itu dapat dengan mudah diakses masyarakat melalui faskes-fakses di sekitar mereka.

Berdasarkan perhitungan kasar Restu, untuk saat ini, kisaran harga Detect Me masih berada pada rentang Rp1 juta ke atas. Atas kendala ini, Restu dan timnya mempertimbangkan solusi berupa sistem peminjaman bagi ibu yang kehamilannya berisiko tinggi.

"Kami juga sudah mempertimbangkan ke depannya, apakah alat ini harus dimiliki atau bisa dipinjamkan. Jadi, tidak selalu juga ibu-ibu tuh harus beli, kemudian mengeluarkan uang. Bisa juga, ini menjadi bagian dari fasilitas kesehatan yang ada di Indonesia, dimana ibu-ibu yang berisiko tinggi hamilnya ataupun janinnya, itu dipinjamkan alat supaya ketika dia di rumah, dia tetap bisa memantau," ucap Restu. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES