Tekno

Serangan Ransomware Meningkat, Ancaman Terhadap Keamanan Data

Kamis, 09 Mei 2024 - 11:45 | 29.72k
Ilustrasi Ransomware. (Foto: https://twitter.com/cipherstorm)
Ilustrasi Ransomware. (Foto: https://twitter.com/cipherstorm)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Menurut laporan Unit 42 dari Palo Alto Networks, penyedia layanan keamanan data siber, serangan ransomware multi-pemerasan secara global meningkat sebesar 49 persen dari tahun 2022 ke 2023. 

Ransomware, sebuah jenis perangkat jahat yang dirancang untuk mengenkripsi sistem komputer atau data dan meminta tebusan, terus menjadi pusat perhatian sebagai aktivitas kriminal yang menguntungkan.

Laporan Unit 42 Ransomware Retrospective mencatat adanya lonjakan signifikan dalam jumlah korban, dengan 3.998 korban dilaporkan pada tahun 2023, meningkat dari 2.679 korban pada tahun sebelumnya.

Temuan tersebut juga didukung dengan penemuan 25 situs bocoran baru pada 2023, menunjukkan betapa permasalahan ransomware terus berkembang dan menjadi lebih kompleks.

LockBit ransomware tetap menjadi pemain utama dalam adegan ransomware global, ASEAN, dan khususnya di Indonesia.

Wakil Presiden Regional ASEAN dari Palo Alto Networks, Steven Scheurmann, mengidentifikasi tiga industri yang paling terpengaruh oleh serangan ransomware secara global, termasuk manufaktur, layanan profesional dan hukum, serta teknologi tinggi.

Secara global, Amerika Serikat menjadi target utama serangan ransomware pada 2023 hingga meraup korban sebesar 47,6 persen, diikuti Inggris, Kanada, dan Jerman.

Di ASEAN sendiri, tiga industri teratas yang terdampak ransomware adalah manufaktur, ritel, dan konstruksi. Thailand menjadi negara yang paling sering diserang oleh ransomware di wilayah ASEAN, diikuti oleh Singapura, Malaysia, dan Indonesia.

Serangan Ransomware di Indonesia

Di Indonesia, serangan ransomware pada 2023 terutama memengaruhi tiga industri teratas, yaitu ritel, transportasi dan logistik, serta utilitas dan energi.

Steven menggambarkan bagaimana pelaku kejahatan siber semakin menggunakan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (machine learning) untuk meningkatkan efektivitas serangan mereka.

"Mereka itu bagi informasi bersama, bilang, 'hey target ini rada gampang kita serang bersama sekarang'. Jadi mereka sangat terorganisasi, kecepatan super canggih," ujarnya.

Menanggapi tantangan tersebut, Steven menekankan pentingnya pelatihan sumber daya manusia, kerja sama antar-lembaga, dan keterlibatan dengan berbagai vendor keamanan data sebagai langkah-langkah kunci untuk menjaga keamanan data di ASEAN.

Selain itu, ia menyoroti perlunya kerangka kerja hukum yang jelas di negara-negara ASEAN untuk melindungi data dan mencegah serangan ransomware yang lebih lanjut. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES