Advertisement
Tekno

LinkedIn Mulai Bersih-Bersih Feed dari Konten AI yang Minim Nilai Tambah

LinkedIn menyiapkan kebijakan baru untuk menekan penyebaran konten AI berkualitas rendah atau AI slop. Langkah ini dilakukan guna menjaga kualitas diskusi profesional dan kepercayaan pengguna.

TIMES Indonesia,
LinkedIn Mulai Bersih-Bersih Feed dari Konten AI yang Minim Nilai Tambah
LinkedIn akan memerangi penyebaran konten AI kualitas rendah demi menjaga kepercayaan pengguna.
A-AA+

JAKARTA Platform jejaring profesional LinkedIn dikabarkan akan mengumumkan langkah baru untuk menekan penyebaran konten berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dinilai minim nilai tambah atau sering disebut sebagai “AI slop”.

Kebijakan tersebut dirancang untuk mengurangi kemunculan unggahan generik, konten daur ulang, hingga berbagai bentuk umpan keterlibatan (engagement bait) yang semakin banyak memenuhi linimasa pengguna.

Advertisement

Dikutip dari technewsworld.com, LinkedIn tidak hanya menargetkan konten yang terlihat seperti hasil produksi massal AI, tetapi juga unggahan yang dianggap tidak menawarkan perspektif baru, pengalaman nyata, maupun keahlian yang relevan. Bahkan pola kalimat tertentu yang sering diasosiasikan dengan hasil generatif AI disebut turut menjadi perhatian dalam sistem evaluasi platform tersebut.

Apabila sebuah unggahan dinilai memiliki kualitas rendah atau bersifat manipulatif, konten tersebut tidak akan lagi dipromosikan melalui rekomendasi kepada pengguna lain. Meski demikian, postingan itu masih dapat dilihat oleh koneksi langsung maupun para pengikut akun yang bersangkutan.

Kebijakan ini menandai upaya LinkedIn untuk membedakan antara konten yang benar-benar memberikan wawasan profesional dengan materi yang hanya mengulang gagasan lama tanpa kontribusi baru. Namun, sejumlah pengamat menilai tugas tersebut tidak akan mudah dilakukan.

Jonathan Sterling, Direktur Pemasaran Foxtown Marketing, menyebut proses identifikasi konten AI berkualitas rendah merupakan tantangan yang terus berubah. Menurutnya, kemampuan model AI yang semakin menyerupai cara manusia menulis membuat proses deteksi menjadi jauh lebih kompleks. Di sisi lain, LinkedIn juga harus berhati-hati agar tidak menghukum kreator yang menggunakan AI secara wajar sebagai alat bantu penulisan.

Pandangan serupa disampaikan Ethan Yang dari perusahaan riset AI CTGT. Ia menilai perbedaan utama bukan terletak pada penggunaan AI itu sendiri, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan. Menurutnya, profesional yang memiliki riset, pengalaman, dan sudut pandang asli tetap dapat menghasilkan konten bernilai meski menggunakan AI untuk membantu penyusunan tulisan.

Advertisement

Sementara itu, Dustin Engel dari Elegant Disruption mengingatkan bahwa masalah kualitas konten tidak sepenuhnya berasal dari AI. Sebelum era kecerdasan buatan generatif berkembang, internet dan media sosial juga telah dipenuhi berbagai bentuk konten berkualitas rendah. Karena itu, fokus utama seharusnya adalah mengurangi perilaku spam dan praktik mengejar interaksi secara berlebihan, bukan sekadar memburu jejak penggunaan AI.

Tantangan lainnya adalah risiko kesalahan identifikasi. Beberapa ciri yang sering dianggap sebagai indikator tulisan AI, seperti penggunaan tanda hubung, elipsis, atau pola kalimat tertentu, juga lazim digunakan dalam komunikasi profesional sehari-hari. Kondisi ini membuat garis pemisah antara konten autentik dan konten otomatis menjadi semakin kabur.

Meski demikian, banyak analis menilai langkah LinkedIn merupakan kebutuhan strategis untuk menjaga relevansi platform di masa depan. Jika feed dipenuhi teks generik yang diproduksi secara massal, nilai utama LinkedIn sebagai ruang berbagi pengalaman profesional dan membangun reputasi dapat terkikis.

Rob Enderle dari Enderle Group menilai ancaman terbesar dari AI slop adalah menurunnya kepercayaan pengguna. Ketika orang sulit membedakan pengalaman nyata seorang profesional dengan ringkasan otomatis yang dibuat mesin, kualitas interaksi akan menurun dan keterlibatan pengguna berpotensi ikut merosot.

Di sisi lain, para pelaku pemasaran mengakui bahwa konten AI generik masih efektif dalam jangka pendek karena mampu diproduksi cepat dan murah. Selama bertahun-tahun, algoritma berbagai platform digital juga cenderung memberikan keuntungan kepada akun yang memproduksi konten dalam jumlah besar. Karena itu, perubahan kebijakan LinkedIn dinilai sebagai upaya menggeser fokus dari kuantitas menuju kualitas.

Sejumlah pengamat bahkan menilai bahwa pertarungan melawan AI slop akan menjadi salah satu tantangan terbesar platform digital dalam dekade mendatang. Bukan hanya soal kemampuan mengembangkan AI yang lebih canggih, tetapi juga tentang bagaimana platform mampu memastikan keaslian, kredibilitas, dan kualitas informasi yang diterima pengguna setiap hari. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia