Memotong Rantai Impor, Menjemput Era Baru Industri Grafika di SPE 2026
Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 siap digelar 8–11 Juli di Grand City Surabaya. Pameran ini berfokus mendorong kemandirian mesin cetak lokal guna menekan komponen impor.
SURABAYA – Industri percetakan nasional saat ini menghadapi tantangan ketergantungan besar pada komponen impor yang memengaruhi efisiensi para pelaku usaha grafika lokal. Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga bahan baku, pameran Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 hadir untuk mendorong kemandirian teknologi dan inovasi lokal guna memutus ketergantungan eksternal tersebut.
Pameran edisi ke-19 ini dijadwalkan berlangsung pada 8–11 Juli 2026 di Grand City Convention Center, Surabaya. Agenda ini diproyeksikan menjadi ruang bagi pembuktian inovasi lokal dalam industri grafika.
Ketua Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jawa Timur, Iwan Damar, menegaskan pentingnya kemandirian teknologi tersebut di era digital.
"Pergeseran ke era digital bukanlah kiamat bagi industri grafika. Yang berubah bukanlah volume kebutuhan cetak itu sendiri, melainkan bentuk dan polanya," ujar Iwan di Surabaya, Jumat (3/7/2026).
Iwan menjelaskan bahwa perubahan pola cetak di era modern harus dijawab dengan optimalisasi mesin buatan dalam negeri. Oleh karena itu, kehadiran mesin cetak masa depan berbasis Artificial Intelligence (AI) hingga 3D printing karya anak bangsa dalam pameran SPE 2026 membawa misi untuk memacu lahirnya wirausaha baru, sekaligus menekan ketergantungan pada komponen impor yang membebani biaya operasional.
Pilar Penyokong Sektor Pengolahan Jatim
Kebutuhan akan mesin lokal yang efisien ini dinilai krusial jika berkaca pada posisi strategis sektor grafika dalam postur makroekonomi Jawa Timur. Saat ini, sektor industri pengolahan menyumbang kontribusi terbesar pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim, yakni mencapai 31,45 persen. Industri percetakan bergerak di dalamnya sebagai penyokong rantai pasok industri lain seperti manufaktur, farmasi, hingga makanan dan minuman.
Sinergi antara pemenuhan rantai pasok regional dan kemandirian teknologi ini menjadi landasan optimisme pihak penyelenggara pameran.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menyatakan bahwa penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026 diharapkan menjadi momentum strategis bagi para pelaku industri untuk memperkenalkan perkembangan teknologi percetakan terkini.
"Penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026 diharapkan menjadi momentum strategis bagi para pelaku industri untuk memperkenalkan perkembangan teknologi percetakan terkini, menawarkan solusi produksi yang lebih inovatif dan berdaya saing," urai Daud.
Melalui pameran yang membidik sedikitnya 15.000 pengunjung ini, teknologi diarahkan untuk menjadi solusi produksi yang adaptif bagi para pelaku usaha di dalam negeri.
"Kami ingin pameran ini membuka peluang kolaborasi yang nyata dan luas untuk mempercepat adopsi teknologi sekaligus menjalin kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


