Advertisement
Tekno

Kamera Digital Terbesar di Dunia Mulai Misi 10 Tahun, Siap Ungkap Misteri Alam Semesta

Observatorium Vera C. Rubin di Chile memulai misi 10 tahun menggunakan kamera digital terbesar di dunia untuk memetakan langit selatan, mencari asteroid hingga mengungkap misteri materi gelap.

TIMES Indonesia,
Kamera Digital Terbesar di Dunia Mulai Misi 10 Tahun, Siap Ungkap Misteri Alam Semesta
Observatorium Vera C. Rubin, tempat kamera digital terbesar di dunia melakukan tugas memotret benda langit.
A-AA+

JAKARTA Kamera digital terbesar di dunia resmi memulai misi ilmiah selama satu dekade untuk memetakan langit malam di belahan bumi selatan. Instrumen raksasa yang dipasang di Observatorium Vera C. Rubin, Chile, itu diharapkan mampu membuka tabir berbagai misteri alam semesta, mulai dari jutaan asteroid hingga keberadaan Planet Kesembilan yang masih menjadi hipotesis.

Kamera tersebut ditempatkan di puncak Cerro Pachón, pegunungan di Chile yang dikenal memiliki kondisi langit sangat jernih untuk pengamatan astronomi. Dengan ukuran hampir sebesar sebuah mobil kecil dan bobot sekitar 3.000 kilogram, kamera ini menjadi kamera digital terbesar yang pernah digunakan dalam penelitian astronomi.

Advertisement

Selama 10 tahun ke depan, kamera tersebut diproyeksikan mengambil sekitar 700 hingga 800 gambar setiap malam. Seluruh data yang dikumpulkan akan membentuk salah satu peta langit paling lengkap yang pernah dibuat manusia.

Wakil Direktur Operasi NSF-DOE Vera C. Rubin Observatory, Phil Marshall, Kamis (2/6/2026) mengatakan proyek ini memungkinkan para ilmuwan memetakan seluruh langit malam di belahan bumi selatan sekaligus menyusun sensus paling rinci mengenai objek-objek di Tata Surya.

Menurut Marshall, hasil pengamatan juga akan dimanfaatkan untuk menemukan jutaan asteroid yang belum teridentifikasi, mencari keberadaan Planet Kesembilan yang hingga kini masih menjadi dugaan para astronom, memetakan struktur Galaksi Bima Sakti, serta mempelajari fenomena supernova, lubang hitam, materi gelap, dan energi gelap.

Observatorium tersebut dinamai Vera C. Rubin, astronom Amerika Serikat yang dikenal sebagai pelopor penelitian mengenai materi gelap. Melalui pengamatannya terhadap pergerakan galaksi, Rubin memberikan bukti kuat pertama bahwa sebagian besar massa alam semesta tidak dapat diamati secara langsung dan dikenal sebagai dark matter atau materi gelap.

Sebelum memulai operasi ilmiah penuh, Observatorium Vera C. Rubin telah merilis sejumlah citra perdana tahun lalu. Salah satunya adalah gambar spektakuler Lagoon Nebula, kawasan pembentukan bintang yang berada ribuan tahun cahaya dari Bumi.

Advertisement

Marshall menilai proyek ini menjadi contoh penting kolaborasi ilmiah berskala internasional. Menurutnya, penelitian ambisius seperti ini hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama berbagai lembaga dan ilmuwan dari berbagai negara.

Melalui misi selama satu dekade, Observatorium Vera C. Rubin diharapkan menghasilkan kumpulan data astronomi terbesar dalam sejarah. Data tersebut diperkirakan akan membantu para astronom memahami evolusi alam semesta, mengungkap sifat materi dan energi gelap, serta menemukan berbagai objek langit yang selama ini belum pernah teramati. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia