Advertisement
Tekno

Fosil T-Rex Termahal Siap Dilelang, Ilmuwan Sebut Ancaman bagi Penelitian

Fosil tersebut akan dilepas melalui rumah lelang Sotheby's di New York pada Selasa (15/7/2026) waktu setempat dengan nilai estimasi mencapai US$30 juta atau sekitar Rp490 miliar.

TIMES Indonesia,
Fosil T-Rex Termahal Siap Dilelang, Ilmuwan Sebut Ancaman bagi Penelitian
Gus ditemukan di kawasan Badlands, South Dakota, lalu digali dan direstorasi melalui proses yang sangat teliti selama enam tahun.
A-AA+

JAKARTA Sebuah fosil Tyrannosaurus rex (T-Rex) berusia sekitar 67 juta tahun yang dijuluki "Gus" diperkirakan menjadi salah satu fosil dinosaurus termahal yang pernah dilelang di dunia. Fosil tersebut akan dilepas melalui rumah lelang Sotheby's di New York pada Selasa (15/7/2026) waktu setempat dengan nilai estimasi mencapai US$30 juta atau sekitar Rp490 miliar.

Namun, pelelangan ini memicu perdebatan di kalangan ilmuwan. Banyak paleontolog menilai fosil langka seperti Gus seharusnya menjadi koleksi museum atau lembaga penelitian, bukan dimiliki kolektor pribadi.

Advertisement

Dengan panjang sekitar 11,6 meter (38 kaki) dan terdiri atas 183 tulang fosil, Gus termasuk salah satu spesimen T-Rex paling lengkap yang pernah ditemukan. Tingkat kelengkapannya mencapai sekitar 63 persen, sehingga dinilai sangat penting untuk penelitian ilmiah.

Dikhawatirkan Hilang dari Dunia Sains

Paleontolog dari Carthage College, Wisconsin, Dr. Thomas Carr, menyebut pelelangan Gus sebagai kerugian besar bagi dunia ilmu pengetahuan.

"Pengetahuan kita tentang dinosaurus belum lengkap. Menjual fosil seperti ini sangat merugikan perkembangan sains dan pemahaman kita terhadap hewan purba yang telah punah," ujarnya.

Menurut Carr, hanya sekitar 10 persen fosil T-Rex hasil penemuan komersial yang akhirnya masuk ke museum atau lembaga publik hingga 2025. Sebagian besar lainnya berakhir di tangan kolektor pribadi sehingga sulit diakses para peneliti.

Ia bahkan menyebut perdagangan fosil dinosaurus sebagai "wabah bagi dunia paleontologi" karena menghambat penelitian ilmiah.

Advertisement

Museum Sulit Bersaing

Harga pembukaan Gus ditetapkan sebesar US$19 juta, angka yang dinilai sudah jauh melampaui kemampuan sebagian besar museum.

Profesor paleontologi dari University of Edinburgh, Steve Brusatte, mengatakan harga fantastis tersebut membuat hanya kalangan superkaya yang mampu membeli fosil langka seperti Gus.

"Ketika kerangka dinosaurus dibeli seorang miliarder, biasanya fosil itu menghilang dari ruang publik. Para ilmuwan tidak lagi dapat mempelajarinya, dan masyarakat kehilangan kesempatan untuk melihatnya di museum," kata Brusatte.

Penemuan yang Memakan Waktu Bertahun-tahun

Gus ditemukan di kawasan Badlands, South Dakota, Amerika Serikat, dan dinamai sesuai pemilik lahan tempat fosil itu ditemukan, Gary "Gus" Licking.

Setelah ditemukan oleh pemburu fosil Thomas Heitkamp, proses penggalian berlangsung selama tiga tahun. Tim kemudian membutuhkan waktu tiga tahun berikutnya untuk membersihkan, mendokumentasikan, dan merekonstruksi kerangka dinosaurus tersebut.

Wakil Presiden Sotheby's sekaligus Kepala Divisi Sains dan Sejarah Alam Global, Cassandra Hatton, menilai harga Gus sepadan dengan kualitas spesimen dan proses panjang yang diperlukan untuk mengevakuasinya.

"Fosil dinosaurus tidak ditemukan dalam kondisi utuh. Dibutuhkan keahlian, ketelitian, dan waktu bertahun-tahun untuk mengenali, menggali, serta merekonstruksinya dengan benar," ujarnya.

Tren Lelang Fosil Bernilai Fantastis

Lelang Gus melanjutkan tren melonjaknya harga fosil dinosaurus dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2024, kerangka Stegosaurus bernama Apex terjual seharga US$44,6 juta, menjadikannya fosil dinosaurus termahal yang pernah dilelang. Sementara pada 2020, kerangka T-Rex terkenal bernama Stan dibeli keluarga kerajaan Abu Dhabi dengan harga US$31,8 juta, yang saat itu memecahkan rekor dunia.

Jika Gus terjual melampaui nilai estimasinya, fosil tersebut berpeluang mencetak rekor baru sekaligus kembali memunculkan perdebatan antara kepentingan komersial dan pelestarian warisan ilmiah. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia