Tak Sekadar Mendengar, Ilmuwan China Ciptakan Perangkat yang Membantu Otak Memahami Suara
Terobosan baru datang dari China. Peneliti Universitas Nankai mengembangkan perangkat saraf bionik pertama di dunia yang membantu otak memahami suara, bukan sekadar mendengarnya.
JAKARTA – Selama puluhan tahun, teknologi implan koklea menjadi harapan bagi jutaan penyandang gangguan pendengaran. Perangkat tersebut mampu mengubah gelombang suara menjadi sinyal listrik sehingga seseorang dapat kembali mendengar. Namun, bagi sebagian pasien dengan kerusakan saraf pendengaran yang berat, teknologi itu memiliki keterbatasan besar. Suara memang terdengar, tetapi otak belum tentu benar-benar mampu memahaminya.
Kini, harapan baru datang dari China.
Tim peneliti dari Universitas Nankai, Tianjin, berhasil mengembangkan perangkat saraf bionik pertama di dunia yang dirancang bukan hanya untuk mengembalikan kemampuan mendengar, tetapi juga membantu otak memahami makna dari suara yang diterimanya.
Inovasi ini menjadi lompatan penting dalam dunia teknologi medis. Fokusnya tidak lagi sebatas memulihkan indera pendengaran, melainkan membangun kembali fungsi biologis yang selama ini dilakukan oleh saraf pendengaran manusia.
Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature Materials pada 1 Juli 2026 melalui studi berjudul Artificial Neuromorphic Interface for Hearing Restoration.
Saat Mendengar Saja Tidak Lagi Cukup
Banyak orang menganggap proses mendengar hanya melibatkan telinga. Padahal, telinga hanyalah pintu masuk.
Suara yang diterima telinga harus diteruskan melalui saraf pendengaran menuju otak. Di sanalah sinyal-sinyal tersebut diolah menjadi kata, musik, peringatan, atau suara orang yang sedang berbicara.
Jika jalur saraf ini mengalami kerusakan, otak kehilangan "jembatan" untuk memahami informasi suara.
Inilah yang terjadi pada penderita gangguan pendengaran sensorineural, jenis ketulian yang disebabkan oleh kerusakan saraf pendengaran. Berdasarkan penelitian tersebut, kondisi ini diperkirakan dialami sekitar tiga persen populasi dunia.
Selama ini, implan koklea masih mengandalkan sisa fungsi saraf pendengaran pasien. Ketika saraf itu rusak total, perangkat secanggih apa pun menjadi kurang efektif.
Meniru Cara Kerja Saraf Manusia
Ketua tim peneliti, Xu Wentao dari Fakultas Rekayasa Elektronika dan Optik Universitas Nankai, menjelaskan bahwa tujuan penelitian mereka jauh melampaui konsep alat bantu dengar konvensional.
Menurut Xu, implan koklea saat ini baru mampu membantu seseorang mendengar suara. Namun, sistem tersebut masih dibatasi mekanisme pemrosesan sinyal berbasis waktu dan jumlah elektroda yang terbatas. Akibatnya, kemampuan mengenali percakapan, terutama di lingkungan yang ramai, masih jauh dari cara kerja pendengaran alami manusia.
Karena itu, timnya mengembangkan perangkat berbasis antarmuka neuromorfik, yakni sistem elektronik yang meniru cara kerja jaringan saraf biologis.
Teknologi tersebut bekerja seperti saraf pendengaran buatan.
Perangkat ini mampu menangkap suara dari lingkungan sekitar, menyaring kebisingan, menganalisis informasi yang penting, mengubahnya menjadi pola sinyal menyerupai impuls saraf alami, kemudian mengirimkan informasi tersebut ke otak dalam bentuk yang lebih mudah dipahami.
Dengan kata lain, perangkat ini tidak sekadar memperkuat suara, tetapi juga membantu otak mengenali mana informasi yang benar-benar penting.
Dari Memulihkan Persepsi Menuju Membangun Kembali Fungsi
Xu Wentao menyebut terobosan ini sebagai perubahan paradigma dalam dunia rehabilitasi pendengaran.
Jika selama ini teknologi hanya berupaya memulihkan persepsi suara, perangkat baru tersebut dirancang untuk membangun kembali fungsi pendengaran secara lebih alami.
Pendekatan ini membuka peluang baru bagi pasien yang selama ini tidak lagi memperoleh manfaat optimal dari implan koklea.
Lebih jauh lagi, sistem tersebut mengintegrasikan seluruh proses dalam satu lingkaran saraf artifisial, mulai dari akuisisi suara, pengodean sinyal, pemrosesan semantik, hingga keluaran bioelektrik.
Konsep ini menjadikan perangkat bekerja lebih menyerupai sistem pendengaran biologis dibanding alat bantu dengar yang tersedia saat ini.
Potensi Besar bagi Dunia Medis
Meski masih berada pada tahap penelitian, pengembangan teknologi ini dinilai memiliki prospek yang sangat luas.
Selain rehabilitasi gangguan pendengaran, prinsip kerja antarmuka neuromorfik berpotensi diterapkan dalam berbagai bidang teknologi kesehatan.
Di antaranya prostetik saraf, antarmuka otak-komputer (brain-computer interface), kecerdasan bionik, hingga sistem kesehatan cerdas yang memanfaatkan kecerdasan buatan.
Pengembangan teknologi semacam ini juga menjadi bagian dari tren global untuk menciptakan perangkat medis yang tidak hanya menggantikan fungsi organ tubuh, tetapi mampu berinteraksi langsung dengan sistem saraf manusia secara lebih alami.
Jalan Panjang Menuju Penggunaan Klinis
Meski hasil penelitian menunjukkan prospek yang menjanjikan, perjalanan menuju penggunaan secara luas masih membutuhkan waktu.
Perangkat tersebut masih harus melewati berbagai tahapan pengujian keamanan, efektivitas, hingga uji klinis sebelum dapat digunakan oleh pasien.
Tim peneliti Universitas Nankai menyatakan akan terus menyempurnakan teknologi tersebut agar dapat dipindahkan dari laboratorium menuju praktik medis.
Mereka juga berharap inovasi ini menjadi awal lahirnya berbagai perangkat prostetik saraf generasi baru yang mampu bekerja semakin mendekati kemampuan alami tubuh manusia.
Jika pengembangan berjalan sesuai harapan, masa depan teknologi pendengaran mungkin tidak lagi hanya membuat seseorang mendengar kembali. Teknologi itu juga dapat membantu otak memahami dunia melalui suara, sebagaimana yang dilakukan sistem pendengaran manusia sejak lahir.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


