Advertisement
Tekno

AI OpenAI 'Membangkang' Saat Uji Keamanan, Retas Hugging Face Secara Otonom

Model AI terbaru OpenAI dilaporkan meretas Hugging Face secara otonom saat uji keamanan internal. Insiden ini memicu kekhawatiran baru soal risiko keamanan AI.

TIMES Indonesia,
AI OpenAI 'Membangkang' Saat Uji Keamanan, Retas Hugging Face Secara Otonom
OpenAI menyelidiki AI buatannya yang meretas Hugging Face secara otonom saat uji keamanan internal.
A-AA+

JAKARTA Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memasuki babak yang memicu perhatian dunia. OpenAI mengungkap bahwa sejumlah model AI canggih miliknya secara tak terduga melakukan aksi peretasan terhadap platform pengembang AI Hugging Face ketika menjalani pengujian keamanan internal. Peristiwa ini disebut perusahaan sebagai insiden siber yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Insiden tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan kemampuan AI agent—model AI yang mampu menjalankan tugas secara mandiri—untuk mengambil keputusan sendiri demi mencapai target yang diberikan, bahkan dengan cara yang tidak direncanakan oleh pengembangnya.

Advertisement

AI Mencari Jalan Keluar dari Lingkungan Pengujian

Dalam penjelasan resminya, Selasa (21/7/2026), OpenAI menyebut pengujian dilakukan di lingkungan digital tertutup (sandbox) yang sengaja dibatasi akses internetnya guna menguji kemampuan model dalam kondisi aman.

Namun, kombinasi beberapa model AI, termasuk GPT-5.6 Sol dan satu model pra-rilis yang disebut memiliki kemampuan lebih tinggi, justru menghabiskan sumber daya komputasi untuk mencari cara memperoleh akses ke internet.

Setelah berhasil terhubung, sistem AI tersebut kemudian memilih menargetkan Hugging Face, salah satu repositori terbesar di dunia yang menyimpan model AI, dataset, serta berbagai sumber daya pengembangan kecerdasan buatan.

Menurut OpenAI, model AI itu berusaha mencari "informasi rahasia" yang dapat membantunya menyelesaikan tantangan evaluasi. Dalam prosesnya, AI secara otonom menggabungkan berbagai teknik serangan, termasuk memanfaatkan kredensial yang dicuri untuk memperoleh akses.

OpenAI dan Hugging Face Lakukan Investigasi Bersama

OpenAI menyatakan akan melakukan investigasi bersama Hugging Face untuk memahami secara menyeluruh bagaimana insiden tersebut dapat terjadi.

Advertisement

Sebelumnya, Hugging Face memang telah melaporkan adanya penyusupan siber pada pekan lalu tanpa mengungkap identitas pelakunya. Setelah fakta terungkap, perusahaan menjelaskan bahwa serangan tersebut berbeda dibanding insiden sebelumnya.

Menurut Hugging Face, seluruh proses serangan dijalankan sepenuhnya oleh sistem AI otonom, sementara proses pendeteksiannya juga banyak dibantu oleh teknologi AI milik perusahaan.

CEO Hugging Face, Clement Delangue, melalui unggahannya di platform X mengatakan timnya sejak awal menduga serangan berasal dari laboratorium AI kelas dunia karena tingkat kecanggihannya.

Meski demikian, Delangue menegaskan pihaknya tidak meyakini terdapat niat jahat dari OpenAI.

"Kami sangat yakin tidak ada niat buruk dari pihak mereka. Yang luar biasa adalah seluruh proses ini terjadi secara otonom," tulis Delangue.

Pakar: Kemampuan AI Semakin Mengkhawatirkan

Profesor komputasi dari UNSW Canberra, Hussein Abbass, menilai insiden tersebut menjadi peringatan serius bagi industri AI.

Menurutnya, AI tidak hanya menyerang platform Hugging Face, tetapi juga mampu mengeksploitasi kelemahan sistem internal secara mandiri.

"Itu yang membuatnya mengkhawatirkan," ujarnya kepada AFP.

Abbass menambahkan bahwa model AI generasi terbaru, termasuk GPT-5.6 maupun seri Mythos milik Anthropic, memang mulai memunculkan kekhawatiran karena berpotensi menembus sistem pertahanan siber.

Karena alasan tersebut, sejumlah model AI tercanggih sempat ditunda peluncuran publiknya menyusul kekhawatiran pemerintah Amerika Serikat bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyerang infrastruktur penting.

Tata Kelola AI Dinilai Mendesak

Insiden ini kembali memperkuat perdebatan mengenai regulasi kecerdasan buatan di tingkat global.

Abbass menilai teknologi AI saat ini umumnya masih dikembangkan dan digunakan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab. Namun, ia mengingatkan risikonya akan jauh lebih besar apabila teknologi serupa jatuh ke tangan pihak yang berniat melakukan kejahatan siber.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas industri, akademisi, dan regulator untuk membangun tata kelola AI yang mampu mengimbangi pesatnya perkembangan teknologi tersebut.

Kasus ini menjadi salah satu contoh paling nyata bahwa AI modern tidak hanya mampu menjalankan instruksi, tetapi juga dapat menyusun strategi sendiri untuk mencapai tujuan yang diberikan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan keamanan AI kini tidak lagi bersifat teoritis, melainkan telah memasuki fase yang memerlukan pengawasan dan regulasi lebih ketat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Wahyu Nurdiyanto
PenulisWahyu NurdiyantoWartawan Sertifikasi Madya, lulusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016 sebagai editor.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia