Advertisement
Tekno

Lionel Messi Mendadak Dibenci? Efek Algoritma hingga AI Disorot usai Piala Dunia 2026

Lionel Messi menjadi sasaran kritik usai Piala Dunia 2026. Analis media sosial menilai algoritma, AI, dan narasi berulang turut membentuk persepsi publik.

TIMES Indonesia,
Lionel Messi Mendadak Dibenci? Efek Algoritma hingga AI Disorot usai Piala Dunia 2026
Lionel Messi merayakan kemenangan Argentina atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta. (AP Photo/Rebecca Blackwell)
A-AA+

JAKARTA Lionel Messi menghadapi situasi yang berbeda dibanding empat tahun lalu. Jika pada Piala Dunia 2022 ia menjadi simbol perjuangan yang didukung jutaan penggemar, pada Piala Dunia 2026 kapten Timnas Argentina justru menjadi sasaran kritik di berbagai platform media sosial.

Gelombang sentimen negatif terhadap Messi muncul seiring perjalanan Argentina menuju final hingga akhirnya kalah 0-1 dari Spanyol. Berbagai cuplikan pertandingan, keputusan wasit, pelanggaran, hingga insiden di lapangan ramai beredar di media sosial dengan narasi yang menggambarkan Messi dan Argentina memperoleh perlakuan istimewa.

Advertisement

Kondisi tersebut semakin memanas setelah Argentina gagal mempertahankan gelar juara dunia. Kericuhan antarpemain usai laga final hingga sikap beberapa pemain Argentina saat seremoni juara ikut menjadi bahan perdebatan di dunia maya.

Meski tidak selalu terlibat langsung dalam berbagai insiden tersebut, Messi tetap menjadi sasaran kritik. Di media sosial, muncul berbagai label negatif seperti "cheat" hingga "villain", yang kontras dengan citranya sebagai pahlawan sepak bola dunia pada Piala Dunia 2022.

Algoritma Dinilai Memperkuat Sentimen Negatif

Analis media sosial sekaligus content strategist di bidang private markets, Rosie (@therosieum), menilai perubahan persepsi publik terhadap Messi tidak hanya dipengaruhi penampilannya di lapangan, tetapi juga cara algoritma media sosial bekerja.

Menurut Rosie, platform digital cenderung memprioritaskan konten yang memicu emosi, kemarahan, dan perdebatan karena menghasilkan interaksi yang lebih tinggi.

"Saya sudah menonton sepak bola seumur hidup, dan pekerjaan saya sehari-hari adalah membentuk narasi. Saya tahu persis berapa biayanya untuk mengubah opini publik," tulis Rosie melalui akun X miliknya, yang dikutip Rabu (22/7/2026).

Advertisement

Ia menjelaskan bahwa pembentukan narasi sering kali tidak diawali dengan informasi yang sepenuhnya salah. Sebaliknya, narasi dibangun dari potongan kejadian nyata yang dipilih secara selektif, kemudian diberi judul atau keterangan tertentu sehingga mengarahkan audiens pada kesimpulan tertentu.

Akibatnya, video pelanggaran tanpa konteks lengkap atau keputusan wasit tanpa tayangan ulang menyebar luas dan memperkuat persepsi negatif terhadap Messi maupun Timnas Argentina.

Efek Pengulangan Membentuk Persepsi

Rosie juga menyoroti fenomena psikologis illusory truth effect, yakni kecenderungan seseorang mempercayai sebuah informasi karena terus-menerus melihatnya, meskipun kebenarannya belum terverifikasi.

Menurutnya, satu unggahan belum tentu mengubah opini publik. Namun ketika narasi serupa muncul puluhan hingga ratusan kali selama beberapa pekan, banyak orang mulai menganggapnya sebagai fakta.

Pandangan tersebut sejalan dengan penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menganalisis sekitar 126 ribu rangkaian berita di Twitter selama 11 tahun.

Penelitian itu menemukan bahwa informasi palsu menyebar lebih cepat dibandingkan informasi yang benar dan memiliki peluang sekitar 70 persen lebih besar untuk dibagikan ulang.

AI Mempercepat Produksi Konten

Rosie menilai perkembangan kecerdasan artifisial (AI) semakin mempercepat penyebaran narasi di internet.

Jika sebelumnya operasi pembentukan opini membutuhkan biaya besar untuk produksi video, artikel, maupun distribusi konten, kini teknologi AI memungkinkan proses tersebut dilakukan secara jauh lebih cepat dan murah.

Data NewsGuard menunjukkan jumlah situs berita berbasis AI meningkat drastis, dari hanya 49 situs pada Mei 2023 menjadi 614 situs pada akhir tahun yang sama.

Per 23 Juni 2026, NewsGuard mencatat terdapat 3.749 situs penghasil konten AI dalam 16 bahasa yang memproduksi artikel dalam jumlah besar dengan sedikit atau tanpa pengawasan manusia.

Meski demikian, Rosie tidak menyatakan bahwa seluruh kritik terhadap Messi berasal dari kampanye yang terorganisasi. Ia menegaskan analisisnya hanya menggambarkan pola umum mengenai bagaimana algoritma media sosial, pengulangan informasi, dan teknologi AI dapat memperkuat pembentukan opini publik.

"Saya tidak khawatir soal Messi. Dia sudah punya semua trofi yang penting dan 20 tahun rekaman pertandingan. Yang saya khawatirkan adalah semua hal lain," tulis Rosie.

Fenomena yang dialami Messi, menurutnya, menjadi contoh bagaimana ekosistem digital modern mampu membentuk persepsi publik secara cepat. Di era algoritma dan AI, narasi yang paling sering muncul belum tentu merupakan narasi yang paling akurat.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia