Advertisement
Tekno

Ilmuwan Ungkap Alasan Kera Besar Sering Berpelukan dan Berciuman Seperti Manusia

Ilmuwan menemukan bahwa kera besar seperti simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan memiliki perilaku sosial berupa berpelukan, berciuman, dan saling merawat.

TIMES Indonesia,
Ilmuwan Ungkap Alasan Kera Besar Sering Berpelukan dan Berciuman Seperti Manusia
Simpanse dan kera besar lainnya diketahui menggunakan sentuhan fisik seperti pelukan dan grooming untuk memperkuat hubungan sosial dalam kelompok. (Windzepher/iStock via Getty Images)
A-AA+

JAKARTA Perilaku berpelukan dan berciuman selama ini sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang yang hanya melekat pada manusia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perilaku tersebut ternyata juga menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial kera besar.

Dilansir dari BBC, ilmuwan menemukan bahwa berbagai spesies kera besar seperti simpanse, bonobo, gorila, dan orangutan menggunakan sentuhan fisik bukan sekadar sebagai bentuk kedekatan, tetapi juga sebagai cara membangun hubungan sosial, mengurangi konflik, serta menjaga stabilitas kelompok.

Advertisement

Temuan ini memperlihatkan bahwa komunikasi melalui sentuhan memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua daripada yang selama ini diperkirakan.

Dalam kehidupan primata, hubungan sosial menjadi faktor penting untuk bertahan hidup. Kera besar hidup dalam kelompok yang kompleks, sehingga mereka membutuhkan berbagai cara untuk menjaga kerja sama dan kepercayaan antaranggota.

Salah satu cara yang paling sering dilakukan adalah melalui perilaku grooming atau saling membersihkan tubuh. Aktivitas ini tidak hanya bertujuan menjaga kebersihan, tetapi juga menjadi sarana membangun ikatan emosional.

Selain grooming, para peneliti juga menemukan berbagai bentuk kontak fisik lain seperti berpelukan, menyentuh wajah, hingga perilaku menyerupai ciuman. Tindakan tersebut sering muncul ketika anggota kelompok bertemu kembali setelah berpisah, menyelesaikan konflik, atau menunjukkan dukungan kepada individu lain.

Pada bonobo, misalnya, kontak fisik memiliki peran besar dalam menjaga hubungan sosial. Spesies ini dikenal memiliki tingkat interaksi sosial yang tinggi dan sering menggunakan sentuhan untuk memperkuat ikatan dalam kelompok.

Advertisement

Sementara itu, simpanse juga diketahui melakukan perilaku seperti berpelukan dan mencium sebagai bagian dari proses rekonsiliasi setelah terjadi perselisihan.

Menurut para ilmuwan, perilaku tersebut memberikan gambaran bahwa kemampuan manusia dalam mengekspresikan kedekatan melalui sentuhan kemungkinan berasal dari mekanisme sosial yang sudah berkembang sejak jutaan tahun lalu.

Penelitian terhadap kera besar membantu ilmuwan memahami bagaimana perilaku sosial manusia berkembang. Kemampuan untuk membangun hubungan, menunjukkan empati, dan menjaga kerja sama kemungkinan memiliki dasar biologis yang sama dengan kerabat terdekat manusia di dunia hewan.

Namun, para ahli menegaskan bahwa perilaku kera besar tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan emosi manusia. Meski memiliki kemiripan dalam bentuk tindakan, makna di balik perilaku tersebut dapat berbeda tergantung konteks sosial dan spesiesnya.

Penelitian ini juga memperkuat pemahaman bahwa komunikasi tidak selalu bergantung pada bahasa. Sebelum manusia mengenal kata-kata, sentuhan kemungkinan sudah menjadi salah satu bentuk komunikasi paling awal dalam kehidupan sosial.

Dari perspektif evolusi, perilaku seperti memeluk dan berciuman menunjukkan betapa pentingnya hubungan sosial bagi primata. Ikatan yang kuat dalam kelompok membantu mereka mencari makanan, melindungi diri dari ancaman, serta merawat anggota kelompok yang lebih lemah.

Temuan ini sekaligus mengingatkan bahwa manusia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan dunia primata. Banyak perilaku yang dianggap khas manusia ternyata memiliki jejak panjang dalam sejarah evolusi.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia