Dulu Raja Ponsel, Kini BlackBerry Berubah Total, Apa yang Dikerjakannya?
BlackBerry tak lagi memproduksi ponsel. Perusahaan kini bertransformasi menjadi pemain utama di bidang keamanan siber, IoT, dan sistem operasi kendaraan.
JAKARTA – Nama BlackBerry pernah menjadi simbol kejayaan ponsel pintar pada era 2000-an. Di masa keemasannya, perangkat dengan keyboard fisik khas dan layanan BlackBerry Messenger (BBM) menjadi pilihan utama kalangan profesional hingga anak muda, termasuk di Indonesia. Namun, dominasi tersebut runtuh setelah iPhone dan ponsel Android mengubah peta persaingan industri smartphone.
Kini, BlackBerry bukan lagi produsen ponsel. Perusahaan asal Kanada itu telah sepenuhnya bertransformasi menjadi penyedia solusi keamanan siber (cybersecurity), Internet of Things (IoT), dan sistem operasi untuk berbagai sektor industri, terutama otomotif.
Dari Raja Smartphone Menjadi Korban Revolusi iPhone
Perjalanan BlackBerry bermula sebagai perusahaan pager sebelum akhirnya sukses di pasar telepon seluler melalui seri BlackBerry Pearl 8100. Popularitasnya terus meningkat lewat lini Bold dan Curve, yang menawarkan layanan pesan instan BBM secara gratis melalui jaringan data.
Ketika Apple meluncurkan iPhone dan mengubah tren smartphone ke layar sentuh, BlackBerry mencoba merespons lewat BlackBerry Storm pada 2008. Namun perangkat tersebut gagal memenuhi ekspektasi pasar karena berbagai kekurangan dari sisi pengalaman pengguna.
Meski demikian, pada 2010 BlackBerry masih mencatat sekitar 21 juta pengguna di Amerika Serikat. Dua tahun kemudian jumlah itu anjlok menjadi sekitar 9 juta pengguna. Secara global, perusahaan masih memiliki sekitar 79 juta pengguna, dengan Indonesia menjadi salah satu pasar yang tetap setia.
Sebagai upaya mempertahankan posisinya, BlackBerry meluncurkan BlackBerry Z3 pada 2014 yang pertama kali dipasarkan secara eksklusif di Indonesia sebelum akhirnya masuk ke India. Namun langkah tersebut tidak mampu membendung dominasi Android dan iPhone.
Beralih ke Android Sebelum Meninggalkan Bisnis Ponsel
Peluncuran sistem operasi BlackBerry 10 beserta sejumlah perangkat baru, termasuk tablet PlayBook, gagal mengembalikan daya saing perusahaan. Dukungan pengembang aplikasi lebih banyak mengalir ke Android dan iOS sehingga ekosistem BlackBerry semakin tertinggal.
Pada 2011, jumlah pengguna iPhone di Amerika Serikat untuk pertama kalinya melampaui BlackBerry. Tren tersebut terus berlanjut hingga pangsa pasar BlackBerry merosot drastis. Pada 2016, lembaga riset Comscore mencatat hanya 0,8 persen pengguna smartphone di AS yang masih memakai perangkat BlackBerry, sementara iOS menguasai 43,9 persen pasar.
Setelah John Chen ditunjuk sebagai CEO pada akhir 2013, BlackBerry mulai mengubah strategi bisnis. Perusahaan meninggalkan sistem operasi buatannya sendiri dan sempat mengadopsi Android untuk beberapa perangkat, termasuk seri BlackBerry KEY2. Setelah itu, BlackBerry menghentikan bisnis smartphone dan memusatkan perhatian pada teknologi perusahaan.
QNX Jadi Andalan BlackBerry di Industri Otomotif
Transformasi terbesar BlackBerry datang melalui QNX Software Systems, perusahaan yang diakuisisi pada 2010. QNX merupakan sistem operasi real-time yang banyak digunakan pada perangkat industri dan kendaraan modern.
Saat ini, teknologi QNX telah digunakan oleh 24 dari 25 produsen mobil listrik dunia. Sistem tersebut juga tertanam pada hampir 300 juta kendaraan dari lebih dari 270 merek dan model.
QNX menjadi fondasi berbagai sistem kendaraan karena mampu menjalankan fungsi penting dengan tingkat keandalan tinggi. Teknologi ini juga mendukung integrasi Apple CarPlay maupun Android Auto, sehingga menjadi bagian penting dalam ekosistem kendaraan modern.
Fokus Baru pada Robotika dan Keamanan Siber
Selain otomotif, BlackBerry kini memperluas bisnisnya ke sektor robotika. Perusahaan mengembangkan solusi perangkat lunak yang digunakan pada robot industri, termasuk robot untuk lini produksi pabrik, pengecatan, hingga robot bedah.
Di sisi lain, pengalaman BlackBerry dalam layanan komunikasi aman melalui BBM berkembang menjadi layanan Secure Communications. Platform ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan komunikasi yang aman bagi institusi dengan standar keamanan tinggi.
Menurut BlackBerry, solusi tersebut telah digunakan oleh berbagai organisasi, termasuk Palang Merah, kepolisian di Inggris, parlemen Kanada, hingga sejumlah rumah sakit.
BlackBerry Tak Lagi di Genggaman, Tetapi Tetap Hadir di Kehidupan Sehari-hari
Meski nama BlackBerry sudah tidak lagi menghiasi pasar smartphone, teknologi perusahaan ini masih digunakan secara luas di balik layar. Setiap kali pengemudi mengoperasikan berbagai fitur pada mobil modern—terutama kendaraan listrik—besar kemungkinan sistem tersebut berjalan menggunakan teknologi QNX milik BlackBerry.
Transformasi ini menunjukkan bahwa meski gagal mempertahankan bisnis ponselnya, BlackBerry berhasil menemukan peran baru sebagai penyedia teknologi penting bagi industri otomotif, Internet of Things, dan keamanan siber. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


