Advertisement
Tekno

Tak Hanya Kelelawar, Manusia Ternyata Bisa Bernavigasi dengan Pantulan Suara

Riset menunjukkan kemampuan echolocation tidak hanya dimiliki kelelawar dan lumba-lumba. Manusia juga dapat mempelajarinya, bahkan otak mengalami perubahan setelah menjalani pelatihan intensif.

TIMES Indonesia,
Tak Hanya Kelelawar, Manusia Ternyata Bisa Bernavigasi dengan Pantulan Suara
Ilustrasi: Seorang peserta melakukan uji echolocation di ruang akustik dengan memanfaatkan pantulan suara untuk mengenali posisi objek.
A-AA+

JAKARTA Kemampuan mendeteksi benda melalui pantulan suara selama ini identik dengan kelelawar dan lumba-lumba. Namun, penelitian terbaru menunjukkan manusia juga memiliki potensi yang sama. Bahkan, kemampuan tersebut dapat dipelajari hanya dalam waktu sekitar 10 minggu dan terbukti mengubah cara kerja otak.

Temuan ini kembali menjadi perhatian dunia setelah dipublikasikan dalam ulasan ilmiah yang mengangkat hasil penelitian para ilmuwan dari Durham University, Inggris. Studi tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan echolocation bukan sekadar bakat alami, melainkan keterampilan yang bisa dilatih oleh hampir semua orang.

Advertisement

Echolocation adalah teknik mengenali lingkungan dengan menghasilkan bunyi, biasanya berupa bunyi klik dari mulut, kemudian mendengarkan pantulan suaranya. Dari gema tersebut, otak mampu memperkirakan posisi, ukuran, hingga bentuk objek yang berada di sekitar.

Teknik ini selama bertahun-tahun telah dimanfaatkan sebagian penyandang tunanetra untuk bernavigasi secara mandiri. Mereka mengandalkan bunyi klik dari lidah atau ketukan tongkat sebagai "sensor" alami untuk membaca lingkungan.

Latihan 10 Minggu Sudah Memberikan Hasil

Berdasarkan laporan dari ScienceAlert yang mengulas hasil riset di jurnal PLOS One, para peneliti melibatkan peserta tunanetra maupun peserta dengan penglihatan normal. Selama sekitar 10 minggu, mereka dilatih menghasilkan bunyi klik dan mengenali pantulan suaranya.

Hasilnya cukup mengejutkan. Hampir seluruh peserta mengalami peningkatan kemampuan dalam mendeteksi keberadaan objek, menentukan arah, hingga memperkirakan jarak hanya dengan mengandalkan pendengaran.

Lebih menarik lagi, pemindaian otak menunjukkan adanya perubahan pada jaringan saraf setelah pelatihan selesai. Area otak yang bertugas memproses informasi spasial dan sensorik menjadi lebih aktif dibandingkan sebelum latihan dimulai.

Advertisement

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa otak manusia memiliki tingkat plastisitas yang sangat tinggi. Dengan kata lain, struktur dan koneksi antarsel saraf dapat berubah ketika seseorang mempelajari keterampilan baru.

Otak Beradaptasi dengan Cara Baru

Perubahan pada jaringan otak sebenarnya bukan hal yang asing dalam dunia neurosains. Setiap kali seseorang mempelajari bahasa baru, memainkan alat musik, atau menguasai olahraga tertentu, otak akan membangun jalur komunikasi baru antar-neuron.

Namun, echolocation dinilai unik karena melibatkan kemampuan otak mengubah informasi suara menjadi gambaran ruang tiga dimensi.

Kemampuan tersebut membuat otak memanfaatkan pendengaran dengan cara yang jauh lebih kompleks daripada sekadar mengenali suara. Informasi pantulan bunyi diproses untuk membentuk persepsi mengenai bentuk dan posisi objek di sekitar pengguna.

Peneliti menilai mekanisme ini menjelaskan mengapa sejumlah penyandang tunanetra mampu berjalan di lingkungan padat, menghindari rintangan, bahkan bersepeda hanya dengan mengandalkan pantulan suara.

Berpotensi Membantu Rehabilitasi Penyandang Tunanetra

Temuan tersebut membuka peluang baru dalam dunia rehabilitasi. Jika pelatihan echolocation dapat diterapkan lebih luas, metode ini berpotensi meningkatkan mobilitas serta kemandirian penyandang gangguan penglihatan.

Selain itu, penelitian ini memperkuat pemahaman bahwa kehilangan satu fungsi indera tidak selalu mengurangi kemampuan otak. Sebaliknya, otak justru mampu beradaptasi dengan mengoptimalkan fungsi indera lain melalui proses belajar.

Para ilmuwan juga menilai riset ini dapat menjadi dasar pengembangan metode pelatihan sensorik yang lebih efektif di masa depan, termasuk untuk rehabilitasi pasien yang mengalami gangguan neurologis.

Masih Membutuhkan Penelitian Lanjutan

Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa kemampuan echolocation setiap orang tidak akan berkembang pada tingkat yang sama. Faktor usia, intensitas latihan, serta kemampuan pendengaran diperkirakan memengaruhi hasil akhir.

Para ilmuwan juga menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk mengetahui seberapa lama perubahan jaringan otak tersebut dapat bertahan setelah latihan dihentikan. Mereka juga ingin memahami bagian otak mana yang paling berperan dalam proses adaptasi ini.

Meski demikian, temuan tersebut memperlihatkan satu hal penting: otak manusia jauh lebih fleksibel daripada yang selama ini diperkirakan. Hanya dalam hitungan minggu, manusia ternyata mampu mempelajari cara "melihat" lingkungan melalui suara, sebuah kemampuan yang selama ini identik dengan dunia satwa.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia