Advertisement
Tekno

Misteri 'Bahasa' Paus Sperma Mulai Terpecahkan, Ilmuwan Rekam Pola Suara Unik di Laut China Selatan

Penelitian terbaru mengungkap pola komunikasi paus sperma yang lebih kompleks dari dugaan, membuka jalan memahami bahasa mamalia laut terbesar bergigi di dunia.

TIMES Indonesia,
Misteri 'Bahasa' Paus Sperma Mulai Terpecahkan, Ilmuwan Rekam Pola Suara Unik di Laut China Selatan
Foto dokumentasi ini memperlihatkan seekor paus sperma terlihat di perairan Laut China Selatan. (Xinhua)
A-AA+

JAKARTA Laut China Selatan kembali menjadi lokasi penemuan ilmiah yang menarik perhatian dunia. Para peneliti berhasil mengungkap pola komunikasi paus sperma (Physeter macrocephalus) melalui rekaman suara bawah laut yang menunjukkan bahwa mamalia raksasa ini memiliki sistem komunikasi jauh lebih kompleks dibanding perkiraan sebelumnya.

Penelitian dilakukan menggunakan jaringan hidrofon atau mikrofon bawah air untuk merekam suara paus sperma di habitat alaminya. Hasilnya menunjukkan adanya rangkaian bunyi klik atau codas yang digunakan paus untuk saling berkomunikasi.

Advertisement

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa paus sperma tidak sekadar menghasilkan suara acak untuk navigasi atau mencari mangsa. Sebaliknya, pola bunyi yang terekam memperlihatkan struktur komunikasi yang konsisten, sehingga diduga memiliki fungsi sosial tertentu.

Para ilmuwan menemukan bahwa setiap kelompok paus memiliki variasi pola klik yang berbeda. Fenomena ini disebut menyerupai "dialek", sehingga setiap kelompok diduga memiliki identitas komunikasi sendiri.

Paus sperma dikenal sebagai salah satu hewan dengan kemampuan menghasilkan suara paling kuat di dunia. Bunyi klik yang dipancarkannya dapat menjalar hingga jarak puluhan kilometer di bawah laut. Kemampuan tersebut membantu mereka berburu di perairan dalam yang gelap sekaligus menjaga komunikasi dengan anggota kelompoknya.

Dalam penelitian di Laut China Selatan, para peneliti memanfaatkan teknologi pemrosesan data dan analisis kecerdasan buatan (AI) untuk membedakan pola suara yang dihasilkan setiap individu. Pendekatan ini memungkinkan ribuan rekaman suara dianalisis secara lebih akurat dibanding metode konvensional.

Hasil analisis menunjukkan bahwa urutan, ritme, hingga jeda antar bunyi klik tidak terjadi secara acak. Justru terdapat pola yang berulang dan konsisten, sehingga memunculkan dugaan adanya aturan komunikasi tertentu di antara paus sperma.

Advertisement

Penemuan ini dinilai penting bagi dunia konservasi. Dengan memahami pola komunikasi paus, ilmuwan dapat mengetahui perilaku sosial, kebiasaan migrasi, hingga respons mamalia laut tersebut terhadap perubahan lingkungan maupun aktivitas manusia seperti pelayaran dan eksplorasi bawah laut.

Kajian serupa sebelumnya juga dilakukan melalui proyek internasional Cetacean Translation Initiative (CETI), yang berupaya memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menerjemahkan pola komunikasi paus sperma. Proyek itu mengumpulkan miliaran data suara paus guna mengidentifikasi kemungkinan adanya struktur bahasa pada mamalia laut tersebut.

Laut China Selatan sendiri merupakan salah satu kawasan penting bagi kehidupan berbagai spesies mamalia laut. Perairan yang dalam menyediakan habitat ideal bagi paus sperma yang mampu menyelam hingga lebih dari 2.000 meter untuk mencari cumi-cumi dan mangsa lainnya.

Meski masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan terbaru ini menjadi langkah besar dalam memahami kehidupan paus sperma. Semakin banyak pola komunikasi yang berhasil dipecahkan, semakin besar pula peluang ilmuwan memahami cara mamalia laut tersebut berinteraksi, bekerja sama, bahkan kemungkinan menyampaikan informasi di dalam kelompoknya.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia