TikTok Didenda Rp126,5 Miliar di Korea Selatan karena Pelanggaran Data Pengguna
TikTok didenda Rp126,5 miliar oleh otoritas Korea Selatan karena pelanggaran perlindungan data pengguna. Sebanyak 9,45 juta data perilaku pengguna diduga dikumpulkan tanpa pemberitahuan memadai untuk kepentingan iklan.
SEOUL – TikTok kembali menghadapi tekanan terkait perlindungan privasi digital. Otoritas Korea Selatan menjatuhkan denda sebesar 10,3 miliar won atau sekitar Rp126,5 miliar kepada platform berbagi video tersebut karena dinilai melanggar aturan pengelolaan data pribadi pengguna.
Sanksi itu menjadi salah satu peringatan keras bagi perusahaan teknologi global mengenai pentingnya transparansi dalam mengelola informasi pengguna. Kasus ini juga kembali membuka perdebatan mengenai bagaimana perusahaan media sosial memanfaatkan data digital untuk kepentingan bisnis.
Berdasarkan laporan dari ANTARA, Komisi Perlindungan Informasi Pribadi Korea Selatan atau Personal Information Protection Commission (PIPC) menyatakan TikTok terbukti mengumpulkan dan menggunakan data perilaku pengguna dari layanan pihak ketiga tanpa dasar hukum yang cukup untuk mendukung sistem iklan yang dipersonalisasi.
Pelanggaran tersebut dilakukan oleh TikTok Pte. Ltd., perusahaan berbasis Singapura yang mengoperasikan layanan TikTok di Korea Selatan. Regulator menilai perusahaan tidak memberikan informasi yang memadai kepada pengguna mengenai praktik pengumpulan data tersebut.
Data Jutaan Pengguna Dikumpulkan untuk Iklan Digital
Dalam penyelidikan yang dilakukan regulator Korea Selatan, TikTok diketahui mengumpulkan data aktivitas daring sekitar 9,45 juta pengguna melalui perangkat pelacak yang dipasang pada situs web dan aplikasi pihak ketiga.
Data perilaku tersebut kemudian digunakan untuk mendukung layanan iklan yang lebih personal. Sistem semacam ini memungkinkan platform menampilkan iklan berdasarkan kebiasaan pengguna saat menjelajah internet.
Namun, PIPC menilai pengguna tidak mendapatkan penjelasan yang cukup mengenai proses pengumpulan data tersebut. Transparansi menjadi salah satu poin utama dalam regulasi perlindungan data modern karena pengguna memiliki hak untuk mengetahui bagaimana informasi pribadi mereka digunakan.
Kasus TikTok ini memperlihatkan semakin ketatnya pengawasan pemerintah terhadap perusahaan teknologi yang mengandalkan data sebagai aset utama. Di era ekonomi digital, data pengguna menjadi komponen penting dalam pengembangan algoritma, pemasaran, hingga peningkatan layanan.
Korea Selatan Perketat Pengawasan Perusahaan Teknologi
Korea Selatan selama beberapa tahun terakhir memperkuat aturan perlindungan data pribadi. Pemerintah negara tersebut menempatkan keamanan informasi pengguna sebagai bagian penting dari ekosistem digital.
Selain TikTok, regulator Korea Selatan juga memberikan sanksi kepada sejumlah perusahaan teknologi lain terkait persoalan serupa. Dalam keputusan yang sama, PIPC turut menjatuhkan denda kepada dua anak perusahaan Apple terkait pengumpulan rekaman suara dan transkrip pengguna asisten suara Siri tanpa persetujuan yang dianggap memadai.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar tidak lepas dari pengawasan ketika mengelola data masyarakat.
Tantangan Besar Industri Media Sosial
Denda terhadap TikTok menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi digital harus berjalan seiring dengan perlindungan hak pengguna. Platform media sosial memang membutuhkan data untuk meningkatkan pengalaman pengguna, tetapi proses pengumpulan dan pemanfaatannya harus dilakukan secara terbuka.
Bagi TikTok, kasus di Korea Selatan menambah daftar panjang persoalan terkait privasi data di berbagai negara. Sebelumnya, perusahaan juga menghadapi pemeriksaan dan sanksi dari sejumlah regulator internasional mengenai praktik pengelolaan informasi pengguna.
Ke depan, perusahaan teknologi diperkirakan akan menghadapi tuntutan lebih besar untuk memperbaiki sistem perlindungan data. Regulasi yang semakin ketat membuat transparansi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan menjadi bagian penting dari kepercayaan pengguna.
Kasus TikTok di Korea Selatan menjadi contoh bahwa di tengah persaingan industri digital yang semakin cepat, keamanan data tetap menjadi isu utama yang menentukan masa depan platform teknologi global.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


