Advertisement
Wawancara Khusus

Pindah dari Haji Reguler ke Haji Khusus Bukan Upgrade, Tapi Harus Daftar Ulang

Perpindahan dari Haji Reguler ke Haji Khusus bukan upgrade layanan, melainkan pembatalan pendaftaran lama dan pendaftaran ulang dengan nomor porsi baru.

TIMES Indonesia,
Pindah dari Haji Reguler ke Haji Khusus Bukan Upgrade, Tapi Harus Daftar Ulang
H. Muhamad Solihin, Direktur Operasional dan Sales ESQ Tours Travel
A-AA+

JAKARTA Wansus Times menghadirkan wawancara eksklusif bersama H. Muhammad Solihin, praktisi dan pemerhati penyelenggaraan ibadah haji yang selama ini aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang regulasi haji di Indonesia.

Dalam wawancara ini, H. Muhammad Solihin meluruskan satu kesalahpahaman yang paling sering terjadi di tengah calon jemaah, yakni anggapan bahwa perpindahan dari Haji Reguler ke Haji Khusus hanyalah bentuk upgrade layanan. Menurutnya, persepsi tersebut tidak tepat.

Advertisement

“Pindah dari Haji Reguler ke Haji Khusus bukan upgrade. Itu pembatalan pendaftaran lama, pengembalian setoran, lalu daftar ulang dengan nomor porsi yang benar-benar baru,” tegas yang juga Direktur Operasional dan Sales ESQ Tours Travel, Jumat (15/5/2026) pada TIMES Indonesia.

Penjelasan ini penting karena banyak calon jemaah yang tergiur ingin berangkat lebih cepat dengan fasilitas hotel bintang lima dan tenda yang lebih dekat ke Jamarat, tanpa memahami konsekuensi administratif dan hukum yang menyertainya.

Profil Narasumber

H. Muhammad Solihin dikenal sebagai praktisi dan konsultan penyelenggaraan ibadah haji yang aktif mengedukasi masyarakat mengenai tata kelola haji, regulasi Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj RI), dan hak-hak jemaah haji Indonesia.

Melalui berbagai tulisan, seminar, dan diskusi publik, ia konsisten mengajak calon jemaah agar memahami proses pendaftaran, nomor porsi, pelimpahan, pembatalan, hingga mekanisme perpindahan antarjalur haji.

Menurut H. Muhammad Solihin, literasi haji merupakan kebutuhan mendesak agar masyarakat tidak mengambil keputusan besar berdasarkan asumsi atau informasi yang belum terverifikasi.

Advertisement

“Kesalahan memahami aturan hari ini bisa berdampak bertahun-tahun ke depan. Karena haji adalah ibadah seumur hidup,” ujarnya.

Hasil Wawancara Wansus Times

Apa yang sebenarnya harus dipahami masyarakat tentang perpindahan dari Haji Reguler ke Haji Khusus?

Yang paling penting dipahami adalah bahwa pindah dari Haji Reguler ke Haji Khusus bukanlah upgrade layanan. Ini bukan seperti menaikkan kelas dari ekonomi ke bisnis. Secara hukum dan administrasi, itu adalah pembatalan pendaftaran lama, pengembalian setoran, lalu mendaftar ulang di sistem yang berbeda.

Jadi bukan pindah nomor porsi, melainkan memulai antrean baru dengan nomor porsi yang benar-benar baru.

Mengapa banyak calon jemaah salah memahami hal ini?

Karena banyak orang melihat Haji Khusus hanya dari sisi fasilitas. Mereka membayangkan hotel bintang lima, tenda yang lebih dekat dengan Jamarat, dan masa tunggu yang lebih singkat. Lalu muncul anggapan bahwa cukup memindahkan nomor porsi dari Haji Reguler.

Padahal, Haji Reguler dan Haji Khusus adalah dua sistem yang berbeda secara total. Sistem administrasi, daftar tunggu, pelunasan, dan mekanisme keberangkatannya juga berbeda.

Kalau seseorang masuk ke Haji Khusus, dia tidak membawa nomor porsi lamanya. Dia masuk ke sistem baru.

Apakah aturan yang berlaku memang menegaskan hal tersebut?

Ya, sangat jelas. Dalam Peraturan Menteri Haji dan Umrah Nomor 4 Tahun 2025 ditegaskan bahwa Jemaah Haji Khusus adalah jemaah yang menjalankan ibadah haji melalui Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Artinya, jalur Haji Khusus berdiri dalam sistem tersendiri dan tidak terhubung secara administratif dengan Haji Reguler.

Secara hukum tidak ada mekanisme transfer otomatis nomor porsi dari Haji Reguler ke Haji Khusus ataupun sebaliknya.

Jika seseorang tetap ingin berpindah ke Haji Khusus, apa langkah yang harus dilakukan?

Pertama, jemaah harus membatalkan pendaftaran Haji Reguler. Kedua, mengurus pengembalian setoran awal. Setelah itu, barulah mendaftar kembali melalui PIHK untuk memperoleh nomor porsi baru.

Proses yang sama berlaku jika jemaah ingin kembali dari Haji Khusus ke Haji Reguler.

Intinya sederhana: batal dulu, lalu daftar ulang.”

Apakah ada jenis perpindahan yang memang diperbolehkan dalam aturan?

Ada, tetapi hanya antar-PIHK, yaitu sesama jalur Haji Khusus. Misalnya, jemaah pindah dari PIHK A ke PIHK B karena alasan penggabungan keluarga atau perubahan paket layanan.

Perpindahan itu hanya boleh dilakukan satu kali dan tidak boleh setelah pelunasan Bipih Khusus.

PIHK juga dilarang memungut biaya perpindahan dari jemaah.

Apa risiko terbesar jika seseorang memutuskan berpindah jalur?

Risiko terbesarnya adalah kehilangan nomor antrean lama.

Bayangkan seseorang sudah menunggu 12 hingga 15 tahun di Haji Reguler. Begitu pembatalan dilakukan, nomor porsi tersebut hilang dan tidak bisa dikembalikan.

Kalau nanti ada kendala finansial atau alasan lain, maka semuanya harus dimulai dari awal.

Apa yang harus dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan tersebut?

Jangan hanya tergoda ingin berangkat cepat. Pertimbangkan kondisi keuangan, usia, kesehatan, dukungan keluarga, dan target keberangkatan yang realistis.

Keputusan besar seperti ini harus diambil berdasarkan pemahaman yang benar, bukan karena rumor atau informasi dari grup percakapan.

Haji adalah ibadah seumur hidup. Kesalahan memahami aturan bisa berdampak bertahun-tahun.

Menurut Anda, seberapa penting literasi haji bagi masyarakat?

Sangat penting. Banyak persoalan justru muncul karena kurangnya pemahaman terhadap regulasi.

Jemaah harus mengetahui hak-haknya, memahami nomor porsi, mekanisme pelimpahan, pembatalan, hingga proses perpindahan jalur.

Jemaah harus menjadi subjek yang memahami haknya, bukan sekadar objek administrasi.

Pada akhirnya, bagaimana sebaiknya calon jemaah menentukan pilihan?

Haji Reguler dan Haji Khusus bukan soal mana yang lebih baik. Yang terpenting adalah mana yang paling sesuai dengan kesiapan masing-masing.

Kalau memiliki kemampuan finansial dan ingin berangkat lebih cepat, Haji Khusus dapat menjadi pilihan. Tetapi harus dipahami bahwa itu berarti membatalkan pendaftaran lama dan memulai dari awal.

Jika antrean reguler sudah mendekati jadwal keberangkatan, mempertahankan jalur yang sudah berjalan sering kali menjadi keputusan yang lebih bijaksana.

Apa pesan Anda bagi seluruh calon jemaah haji Indonesia?

Yang paling penting bukan jalurnya, tetapi bagaimana kita menjaga niat.

Karena yang berangkat ke Tanah Suci bukan yang paling kaya, bukan yang paling cepat, tetapi yang paling Allah panggil.(*)
 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia