Advertisement
Wawancara Khusus

Alasan dan Rahasia Haji Tamattu?

Di balik jeda antara umrah dan haji, terdapat pesan mendalam bahwa manusia perlu beristirahat, merenung, dan memperkuat niat sebelum berdiri di Arafah.

TIMES Indonesia,
Alasan dan Rahasia Haji Tamattu?
KH. Dr. Abdul Adzim Irsad, Pembimbing Haji ESQ Tours Travel. (Foto: Dok Pribadi for TIMES Indonesia)
A-AA+

MAKKAH Ibadah haji merupakan puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Namun, tidak semua calon jemaah memahami bahwa dalam syariat Islam terdapat beberapa pilihan manasik yang memberikan kemudahan sesuai kondisi masing-masing.

Salah satu yang paling banyak dipilih jemaah Indonesia adalah Haji Tamattu’. Model haji ini dinilai paling praktis, nyaman, dan sesuai dengan kondisi jemaah Indonesia yang menempuh perjalanan panjang serta membutuhkan waktu adaptasi sebelum memasuki puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Advertisement

Wawancara Khusus TIMES Indonesia kali ini bersama KH. Dr. Abdul Adzim Irsad, Pembimbing Haji ESQ Tours & Travel, mengupas secara mendalam alasan fikih, dasar hadis, pandangan para ulama, hingga rahasia spiritual di balik Haji Tamattu’.

Profil Narasumber

Abdul Adzim Irsad adalah pembimbing haji dan umrah di ESQ Tours & Travel. Ia dikenal aktif membimbing jemaah Indonesia dalam memahami manasik secara komprehensif, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari aspek fikih dan makna ruhaniah.

Menurutnya, memahami jenis haji sangat penting agar jemaah tidak sekadar menjalankan ritual, tetapi juga mengetahui hikmah dan rahasia syariat yang penuh kemudahan.

“Allah tidak pernah menghendaki ibadah menjadi beban yang menyulitkan. Justru di balik setiap aturan, selalu ada kasih sayang dan kemudahan,” ujarnya.

Berikut Wawancara Khusus Bersama Pembimbing Haji ESQ Tours Travel

Banyak jemaah Indonesia memilih Haji Tamattu’. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan Haji Tamattu’?

Advertisement

Secara bahasa, tamattu’ berasal dari kata mata’a yang berarti menikmati, memperoleh kemudahan, atau bersenang-senang. Dalam konteks ibadah haji, Haji Tamattu’ berarti seseorang menunaikan umrah terlebih dahulu pada bulan-bulan haji, kemudian bertahallul, lalu kembali berihram untuk melaksanakan haji pada tanggal 8 Dzulhijjah.

Setelah selesai umrah dan tahallul, jemaah kembali ke kondisi normal. Mereka boleh mengenakan pakaian biasa, menggunakan wewangian, memotong rambut dan kuku, bahkan bagi pasangan suami istri diperbolehkan melakukan hubungan suami istri.

Karena itu, model haji ini disebut tamattu’, karena jemaah diberikan kesempatan untuk menikmati masa istirahat sebelum memasuki rangkaian ibadah haji yang lebih berat.

“Tamattu’ bukan sekadar cara berhaji, tetapi bentuk kasih sayang Allah yang memberikan jeda agar jemaah memulihkan fisik dan menenangkan jiwa.”

Benarkah Rasulullah SAW sendiri menganjurkan Haji Tamattu’?

Ya, banyak hadis shahih yang menjadi dasar kuat bahwa Haji Tamattu’ memiliki keutamaan yang sangat besar.

Salah satunya adalah hadis riwayat Abdullah bin Umar dalam Sahih al-Bukhari:

“Rasulullah SAW melaksanakan Haji Wada’ secara tamattu’ dengan umrah terlebih dahulu kemudian haji.”

Selain itu, Nabi SAW juga bersabda:

“Seandainya aku mengetahui apa yang aku ketahui sekarang, niscaya aku tidak membawa hewan hadyu, dan aku akan menjadikan ihramku sebagai umrah.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW sangat menyukai model tamattu’, karena memberikan kemudahan bagi umatnya.

“Kalau Rasulullah SAW sendiri berharap dapat melaksanakan tamattu’, maka itu menunjukkan betapa besar keutamaannya.”

Mengapa Imam Al-Nawawi justru merekomendasikan Haji Tamattu’?

Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Yahya bin Sharaf al-Nawawi menjelaskan bahwa terdapat riwayat shahih yang menyebut Rasulullah SAW melakukan ifrad, qiran, maupun tamattu’. Menurut beliau, semua riwayat tersebut benar dan dapat dikompromikan.

Namun, Imam Al-Nawawi tetap menegaskan bahwa Haji Tamattu’ merupakan pilihan yang sangat dianjurkan, karena berdasarkan hadis-hadis shahih, Nabi SAW menunjukkan preferensi terhadap model tersebut.

“Imam Al-Nawawi tidak hanya membolehkan, tetapi juga menganjurkan Tamattu’ karena dinilai paling sesuai dengan semangat kemudahan dalam Islam.”

Mengapa Haji Tamattu’ sangat cocok bagi jemaah Indonesia?

Mayoritas jemaah Indonesia menempuh perjalanan panjang, menghadapi perubahan iklim, dan memerlukan penyesuaian fisik yang tidak ringan.

Dengan Haji Tamattu’, jemaah dapat menyelesaikan umrah terlebih dahulu, kemudian beristirahat selama beberapa hari hingga tiba tanggal 8 Dzulhijjah.

Masa tunggu ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak tawaf sunnah, membaca Al-Qur’an, menjaga salat berjemaah di Masjidil Haram, dan mempersiapkan diri secara mental.

“Tamattu’ memberikan kesempatan kepada jemaah untuk beribadah dengan tenang, bukan dengan tubuh yang kelelahan.”

Apakah ada kewajiban khusus bagi jemaah yang memilih Haji Tamattu’?

Ya. Jemaah yang melaksanakan Haji Tamattu’ wajib membayar dam sebagai bentuk syukur atas kemudahan yang Allah berikan.

Jika tidak mampu, Allah memberikan alternatif berupa puasa selama 10 hari.

Dasarnya adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 196:

“Maka barang siapa yang tidak mendapatkan hewan kurban, wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari setelah kamu kembali.”

Biasanya tiga hari dilakukan di Tanah Suci, dan tujuh hari sisanya setelah kembali ke Indonesia.

“Islam selalu menyediakan solusi. Ketika tidak mampu membayar dam, masih ada jalan ibadah lain yang bernilai sama.”

Bagaimana pandangan Imam Al-Ghazali tentang Haji Tamattu’?

Dalam kitab Asrar al-Hajj, Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan bahwa Haji Tamattu’ memiliki lima syarat utama, di antaranya pelakunya bukan penduduk Makkah, melaksanakan umrah terlebih dahulu, dan tetap berada di Makkah hingga musim haji.

Imam Al-Ghazali juga menekankan bahwa kemudahan dalam Tamattu’ bukan sekadar dispensasi, tetapi sarana agar jemaah dapat memusatkan hati kepada Allah.

“Menurut Imam Al-Ghazali, hakikat haji bukan pada beratnya perjalanan, tetapi pada hadirnya hati yang tunduk.”

Apa yang boleh dilakukan jemaah setelah tahallul umrah?

Setelah tahallul, semua larangan ihram berakhir.

Imam Al-Nawawi dalam Al-Majmu’ menjelaskan bahwa jemaah boleh memakai pakaian biasa, menggunakan parfum, memotong kuku, memotong rambut, dan melakukan seluruh aktivitas normal.

Masa ini menjadi kesempatan penting untuk memulihkan stamina sebelum memasuki puncak ibadah haji.

“Allah memberi jeda agar jemaah tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga siap secara spiritual.”

Apa yang sebaiknya dilakukan selama menunggu tanggal 8 Dzulhijjah?

Masa tunggu adalah waktu yang sangat berharga.

Jemaah dianjurkan memperbanyak tawaf sunnah, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan menjaga salat berjemaah di Masjidil Haram jika memungkinkan.

Sebagian ulama juga membolehkan umrah sunnah tambahan melalui miqat di Masjid Aisyah (Tan'im).

Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW:

“Antara satu umrah dengan umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mengapa banyak jemaah Indonesia melakukan umrah berulang kali?

Banyak jemaah merasa bahwa kesempatan berada di Tanah Suci adalah anugerah yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Mereka ingin memaksimalkan setiap detik dengan memperbanyak ibadah.

Ketika ditanya alasan mereka, sering kali jawabannya sangat sederhana namun menyentuh:

“Belum tentu kami bisa kembali lagi ke sini.”

Itulah ungkapan kerinduan seorang hamba yang ingin mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk akhirat.

Apakah para ulama sepakat tentang umrah berkali-kali?

Tidak seluruh ulama memiliki pandangan yang sama.

Muhammad bin Idris al-Syafi'i memandang umrah berulang kali dalam satu tahun sebagai amalan yang dianjurkan.

Sementara Malik bin Anas menilai hal itu makruh jika terlalu sering.

Adapun Ibn Qudamah berpendapat sebaiknya tidak lebih dari satu kali dalam sebulan.

Namun semuanya sepakat bahwa fokus utama tetap menjaga kekhusyukan dan kesehatan.

Apa rahasia spiritual terbesar di balik Haji Tamattu’?

Rahasia terbesarnya adalah bahwa Islam tidak memuliakan kesulitan demi kesulitan itu sendiri.

Allah memuliakan ketaatan, ketulusan, dan kesungguhan hati.

Tamattu’ mengajarkan bahwa ibadah terbaik adalah ibadah yang dijalani dengan keseimbangan antara fisik, akal, dan ruh.

“Haji bukan perlombaan siapa yang paling lelah, tetapi siapa yang paling ikhlas dan paling tunduk kepada Allah.”

Apa pesan Anda bagi calon jemaah Indonesia?

Pahami bahwa Haji Tamattu’ bukan pilihan kelas dua. Justru banyak ulama besar memandangnya sebagai pilihan yang sangat utama.

Pelajarilah manasik dengan benar, jaga kesehatan, dan siapkan hati untuk perjalanan yang penuh makna.

“Yang terpenting dalam haji bukan seberapa mewah fasilitasnya, tetapi seberapa bersih hati kita ketika menjawab panggilan Allah.”

Apa kalimat penutup yang paling tepat untuk memahami Haji Tamattu’?

Haji Tamattu’ adalah pelajaran bahwa Allah selalu memberi kemudahan bagi hamba-Nya.

Di balik jeda antara umrah dan haji, terdapat pesan mendalam bahwa manusia perlu beristirahat, merenung, dan memperkuat niat sebelum berdiri di Arafah.

“Pada akhirnya, yang menjadikan haji bernilai bukan beratnya perjalanan, tetapi ketulusan hati yang berserah sepenuhnya kepada Allah SWT.” (*/MCH)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ahmad Nuril Fahmi
PenulisAhmad Nuril FahmiSarjana Ilmu Hukum Universitas Bung Karno (UBK) Bergabung dengan TIMES Indonesia dan bertugas di wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak 2020. Sudah meliput berbagai isu baik politik, hukum, humaniora, teknologi, bisnis dan peristiwa yang bersifat lokal, nasional, dan internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia