Advertisement
Wawancara Khusus

ISHG dan Rupiah Jeblok, Ekonom INDEF: Trust Lebih Penting daripada Angka

Pasar keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal yang tidak bisa lagi dianggap sebagai fluktuasi biasa. Dalam beberapa bulan terakhir, indeks saham mengalami koreksi tajam, nilai tukar rupiah tertekan, dan arus modal asing terus keluar dari pasar d

TIMES Indonesia,
ISHG dan Rupiah Jeblok, Ekonom INDEF: Trust Lebih Penting daripada Angka
Ekonom Senior INDEF dan Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J. Rachbini.
A-AA+

JAKARTA Pasar keuangan Indonesia sedang mengirimkan sinyal yang tidak bisa lagi dianggap sebagai fluktuasi biasa. Dalam beberapa bulan terakhir, indeks saham mengalami koreksi tajam, nilai tukar rupiah tertekan, dan arus modal asing terus keluar dari pasar domestik. 

Di tengah berbagai penjelasan teknis mengenai kondisi global, suku bunga, maupun geopolitik, muncul satu pertanyaan yang jauh lebih mendasar. Apakah persoalan utama yang sedang dihadapi Indonesia sesungguhnya adalah krisis kepercayaan?

Advertisement

Berikut petikan wawancara TIMES Indonesia dengan Ekonom Senior INDEF dan Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J. Rachbini,  terkait kondisi itu.

Prof Didik, banyak orang melihat penurunan indeks saham dan pelemahan rupiah sebagai bagian dari siklus pasar yang normal. Namun Anda justru melihatnya sebagai sinyal yang serius, bisa Anda jelaskan?

Begini. Yang sedang kita hadapi bukan sekadar koreksi teknikal pasar. Ketika indeks turun dalam waktu yang cukup panjang dan investor asing secara konsisten mengurangi eksposurnya di Indonesia, itu menunjukkan adanya persoalan yang lebih mendalam daripada sekadar sentimen jangka pendek.

Bukankah itu di wilayah pasar keuangan global?

Betul. Pasar keuangan adalah institusi yang sangat sensitif terhadap ekspektasi masa depan. Investor membeli bukan hanya berdasarkan kondisi hari ini, tapi berdasarkan keyakinan mereka terhadap kondisi beberapa tahun ke depan. Ketika keyakinan itu melemah, mereka akan keluar bahkan sebelum masalah ekonomi terlihat secara nyata dalam data statistik.

Anda melihat akar masalahnya adalah trust. Mengapa kepercayaan bisa lebih penting daripada angka ekonomi?

Karena angka adalah hasil, sedangkan trust adalah fondasinya. Negara bisa memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, inflasi terkendali, dan indikator perdagangan yang relatif stabil. Tetapi jika investor mulai meragukan arah kebijakan pemerintah, mereka akan tetap pergi.

Advertisement

Bagaimana dengan negara yang punya beban hutang besar seperti Indonesia? 

Banyak negara memiliki utang yang besar atau defisit fiskal yang tinggi, tetapi mata uangnya tetap kuat dan pasar modalnya tetap menarik. Mengapa? Karena investor percaya pada institusi negara, percaya pada kredibilitas pemerintah, dan percaya bahwa aturan main tidak akan berubah secara tiba-tiba.

Apa yang sebenarnya sedang ditunggu pasar dari pemerintah?

Pasar menunggu kepastian.
Mereka ingin mengetahui apakah kebijakan ekonomi akan dijalankan secara konsisten atau berubah mengikuti tekanan politik jangka pendek. Mereka ingin melihat apakah kebijakan fiskal dikelola secara hati-hati. Mereka ingin memastikan bahwa institusi negara tetap independen dan bekerja secara profesional.

Yang tidak kalah penting adalah kepastian hukum. Investor harus yakin bahwa hak-hak mereka dilindungi dan investasi yang mereka tanamkan tidak terancam oleh perubahan aturan yang mendadak.

Anda menggunakan istilah “getting institutions right” dalam suatu kesempatan. Mengapa institusi menjadi sangat penting?

Karena pasar pada akhirnya berinvestasi pada institusi, bukan pada pidato. Investor melihat apakah bank sentral independen. Mereka melihat kualitas parlemen. Mereka melihat apakah sistem hukum berjalan adil. Mereka melihat apakah lembaga pengawas berfungsi dengan baik.

Kalau institusi kuat, investor akan lebih tenang menghadapi gejolak ekonomi. Tetapi ketika institusi dianggap melemah atau tidak independen, risiko investasi meningkat dan modal akan mencari tempat yang lebih aman.

Anda pernah terlibat dalam Tim Nasional Reformasi Presiden Habibie. Apakah ada pelajaran penting dari masa krisis saat itu?

Sangat banyak. Saat itu Indonesia menghadapi krisis yang jauh lebih berat daripada sekarang. Nilai tukar sempat mencapai sekitar Rp16.800 per dolar AS. Namun pemerintah mengambil langkah-langkah yang mampu memulihkan kepercayaan.
Bank sentral dibuat independen. Reformasi politik dijalankan. Tahanan politik dibebaskan. Undang-undang anti monopoli diterbitkan. Ada sinyal kuat bahwa negara sedang bergerak menuju tata kelola yang lebih sehat.
Hasilnya luar biasa. Kepercayaan kembali hadir dan rupiah menguat drastis hingga sekitar Rp6.500 per dolar AS.

Di era Presiden SBY, fenomena serupa ini juga mendapat perhatian khusus. Mengapa?

Betul. Karena selama bertahun-tahun beliau memilih diam dan menghormati pemerintahan yang sedang berjalan. Sebagai mantan presiden, beliau memahami etika politik. Karena itu ketika akhirnya beliau berbicara, saya melihatnya bukan sebagai kritik politik, melainkan sebagai nasihat kenegaraan.

Apa pesan SBY khusus waktu itu?

Pesan yang disampaikan sangat sederhana tetapi fundamental. Pulihkan trust pasar.

Apa pesan itu yang menurut Anda paling relevan diterapkan saat ini?

SBY selalu memahami bahwa ekonomi bukan hanya urusan fiskal dan moneter. Ekonomi pada akhirnya adalah persoalan kepercayaan. Jika pasar percaya bahwa hukum ditegakkan, kebijakan konsisten, tata kelola baik, dan komunikasi pemerintah kredibel, maka modal akan datang.
Sebaliknya, jika kepercayaan hilang, modal keluar lebih cepat daripada kemampuan pemerintah memperbaiki indikator ekonomi.

Bagaimana pasar melihat APBN dalam konteks kepercayaan?

APBN sesungguhnya adalah dokumen kepercayaan. Pasar tidak hanya melihat angka defisit atau angka belanja. Mereka membaca filosofi pengelolaannya. Mereka menilai apakah belanja dilakukan secara hati-hati atau tidak. Mereka menilai apakah program-program baru dievaluasi dengan baik atau sekadar dijalankan karena pertimbangan politik.

Jika APBN dianggap kredibel, maka pasar akan merasa aman. Tetapi jika APBN dianggap terlalu berisiko, kepercayaan akan melemah.

Apakah Anda melihat ada masalah persepsi terhadap pengelolaan fiskal saat ini?

Yang saya lihat adalah pasar sedang mengajukan banyak pertanyaan. Mereka ingin tahu apakah penerimaan negara realistis. Mereka ingin tahu apakah pengeluaran negara terkendali. Mereka ingin tahu apakah proses pengambilan keputusan fiskal berjalan dengan mekanisme checks and balances yang sehat.
Selama pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab secara meyakinkan, ketidakpastian akan tetap tinggi.

Mengapa investor asing bereaksi begitu cepat?

Karena mereka selalu mengelola risiko. Mereka tidak menunggu sampai masalah benar-benar terjadi. Begitu mereka melihat potensi risiko meningkat, mereka langsung mengurangi eksposur.
Dalam konteks Indonesia, banyak investor asing sudah memperoleh keuntungan yang cukup besar selama bertahun-tahun. Ketika mereka melihat risiko meningkat dan kepercayaan menurun, keputusan paling rasional bagi mereka adalah mengamankan keuntungan dan keluar lebih dulu.

Jika pemerintah ingin memulihkan keadaan, apa langkah pertama yang harus dilakukan?

Membangun kembali kepercayaan.
Bukan dengan slogan. Bukan dengan pencitraan. Tetapi dengan tindakan nyata yang menunjukkan bahwa pemerintah memahami situasi dan memiliki sense of crisis.

Kepercayaan dibangun melalui konsistensi kebijakan, penguatan institusi, kepastian hukum, pengelolaan fiskal yang hati-hati, dan komunikasi yang kredibel.

Apa yang akan terjadi jika trust tidak segera dipulihkan?

Pasar akan memberikan jawabannya. Modal akan terus keluar. Permintaan dolar meningkat. Rupiah akan terus tertekan. Biaya pembiayaan menjadi lebih mahal. Dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi juga akan terdampak.

Karena itu saya selalu mengatakan bahwa dalam ekonomi modern, trust bukan sekadar variabel tambahan. Trust adalah fondasi yang menentukan apakah seluruh bangunan ekonomi dapat berdiri kokoh atau justru runtuh dari dalam.

Kalau harus dirangkum dalam satu kalimat, apa pesan utama Anda kepada pemerintah?

Jangan hanya memperbaiki angka-angka ekonomi. Pulihkan terlebih dahulu kepercayaan yang membuat angka-angka itu dipercaya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Imadudin Muhammad
PenulisImadudin MuhammadBergabung di TIMES Indonesia sejak 2015, menulis soal Olahraga, Pariwisata, Tekno, hingga Event Internasional. Bagian tim Pemeriksa Fakta, memastikan berita tetap berita akurat, relevan, dan terpercaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia