Ritual Barong Ider Bumi Suku Osing
Sebagai rangkaian memeriahkan Lebaran 2016, Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar ritual 'barong ider bumi'.

BANYUWANGI – Sebagai rangkaian memeriahkan Lebaran 2016, Suku Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar ritual 'barong ider bumi'.
Ketua Desa Adat Kemiren Suahaimi menjelaskan ritual adat dengan tujuan untuk menjauhkan desa dari segala mara bahaya. Tradisi itu ditandai dengan mengarak barong mengelilingi desa yang diakhiri dengan kenduri massal oleh warga di sepanjang jalan desa.
Ritual 'barong ider bumi' di awali ritual sembur othik-othik, yakni ritual melempar (menyembur) uang receh yang dicampur beras kuning dan bunga. "Melempar uang receh dalam ritual ini melambangkan usaha warga untuk membuang (melempar) sial dari Desa Kemiren," jelas Suhaimi seperti dilansir dari Antara.
Usai ritual sembur othik-othik, para sesepuh dan seluruh warga mengarak tiga barong Osing yang diawali dari pusaran (gerbang masuk) desa ke arah barat menuju tempat mangku barong sejauh dua kilometer sambil membawa dupa dan melafalkan doa-doa untuk keselamatan seluruh warga.
Setelah diarak sejauh dua kilometer, barong-barong itu digiring kembali ke pusaran untuk selamatan bersama. Di tempat inilah puncak acara dilakukan, yakni selamatan dengan menggunakan tumpeng pecel pitik (ayam kampung yang dibakar dengan ditaburi kelapa, red) sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keberkahan.
Puluhan tumpeng pecel pitik ditata rapi berjajar di sepanjang jalan. Masyarakat dan pengunjung yang menyaksikan ritual sakral itu juga turut diajak kenduri karena setiap rumah membuat tumpeng yang sengaja disuguhkan untuk dinikmati warga lain yang hadir. "Ritual ini sudah dijalankan sejak ratusan tahun," ujar Suhaimi.
Diceritakan, awal mula ada ritual ini karena ratusan tahun silam, Desa Kemiren terkena pageblug (wabah penyakit, red). Banyak orang yang pagi hari sakit sorenya meninggal. Tidak hanya wabah kematian yang menyerang warga, ratusan hektare sawah juga diserang hama sehingga menyebabkan gagal panen.
Warga pun mengadakan tirakatan dan berdoa memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya, salah seorang tetua adat Desa Kemiren yang bernama Mbah Buyut Cili mendapatkan wangsit lewat mimpinya.
Dalam mimpinya, sambung Suhaimi, untuk mengusir penyakit dan hama yang melanda desa, penduduk harus mengadakan selamatan kampung dengan menggelar ritual arak-arakan barong untuk menolak bencana.
Barong sendiri adalah kostum dengan topeng dan asesoris yang merupakan penggambaran hewan yang menakutkan. Barong ini dipercaya oleh masyarakat Osing memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat.
Sejak saat itulah, ritual arak barong yang sekarang di sebut barong ider bumi menjadi tradisi warga Kemiren. Barong diarak keliling desa dengan diiringi pembacaan macapat (tembang Jawa) yang berisi doa kepada Sang Khalik dan nenek moyang untuk menolak bahaya (bala) yang mengancam keselamatan penduduk desa.
Bahkan, Barong ider bumi kini menjadi salah satu agenda dari Banyuwangi Festival 2016. "Sudah sejak empat tahun silam pemda memasukkan tradisi ini ke dalam agenda wisata Banyuwangi Festival (B-Fest).
Ini dilakukan untuk menguatkan tradisi lokal agar tidak punah, serta sebagai syiar agar budaya asli Banyuwangi bisa dikenal masyarakat luas," kata Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda.
Ritual adat itu menjadi salah satu atraksi budaya yang menarik perhatian warga dan wisatawan. Ribuan warga tumplek memadati jalan sepanjang desa yang menjadi rute arak-arakan barong. Mereka bukan hanya warga lokal, namun juga masyarakat dari luar daerah Banyuwangi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


