Selain Indah, di Ranu Ini Banyak Ditemukan Benda Pra Sejarah
Berwisata ke ranu-ranu (danau) di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Tumur, tidak hanya bisa menikmati panorama alam. Di sana, juga banyak ditemukan kapak dari tradisi neolitikum 500 tahun sebelum masehi.

PROBOLINGGO – Berwisata ke ranu-ranu (danau) di Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jawa Tumur, tidak hanya bisa menikmati panorama alam. Di sana, juga banyak ditemukan kapak dari tradisi neolitikum 500 tahun sebelum masehi.
Kapak-kapak itu, disimpan warga di sekitar ranu. Balai Arkeologi Yogyakarta yang punya wilayah kerja Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur, pernah melakukan penelitian tentang itu, dalam kurun waktu 2008 dan 2010-2012.
"Kapak itu sebagian di sana (Tiris, Red) dan disimpan warga. Sebagian dibawa ke balai untuk diteliti," kata Gunadi, peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta kepada TIMES Indonesia, akhir pekan lalu.
Gunadi menyatakan, penelitian tentang Permukiman Masa Lampau di Kawasan Danau itu difokuskan di tiga ranu. Meliputi Ranu Gedang di Desa Ranu Gedang di tahun 2008, Ranu Segaran di Desa Segaran di tahun 2008, serta Ranu Betok di Desa Ranu Agung di tahun 2010-2011.

“Rata-rata di semua ranu, ditemukan empat sampai lima kapak," kata pemimpin penelitian kelahiran Kabupaten Klaten, Jawa Tengah itu.
Menurut Gunadi, asahan pada kapak-kapak tersebut, sudah mulai halus. Ciri itu sesuai dengan ciri perkakas zaman pra sejarah. Tepatnya di zaman batu modern (neolitikum) atau 500 tahun sebelum masehi.
Ia menjelaskan, penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui permukiman masa lampau di kawasan danau atau ranu. Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo menjadi pilihan karena kecamatan yang terletak di lereng pegunungan argopuro tersebut mempunyai banyak ranu.
Pertanyaan yang ingin dijawab dengan penelitian tersebut adalah, apakah kawasan ranu menjadi daya tarik manusia lampau untuk tinggal dan bermukim di kawasan tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan itu, Gunadi bersama 12 anggota timnya mempunyai satu hipotesa: Kawasan ranu telah menjadi daya tarik kehidupan manusia di jaman lampau.
Hipotesa tersebut diperoleh karena ranu mengandung air dan ikan sebagai kebutuhan konsumsi manusia. “Kalau ini (kebutuhan manusia, Red) ada, berarti ada orang,” terang Gunadi. Dengan bekal hipotesa itu, penelitian mulai dilakukan.
Dalam setiap ranu, penelitian dilakukan selama 12 hari. Selama penelitian berlangsung, Gunadi beserta timnya, bermukim di rumah-rumah warga sekitar ranu secara bergantian.
Dengan ditemukannya kapak dari tradisi neolitikum, penelitian tersebut menyimpulkan, kawasan ranu di Kecamatan Tiris telah dihuni manusia sejak jaman pra sejarah.
Sejumlah legenda yang beredar di masyarakat, juga menujukkan hal itu. Legenda di kalangan masyarakat di sekitar Ranu Betok misalnya, menyebutkan bahwa nama Betok berasal dari nama jenis ikan betok yang konon terdapat di ranu tersebut.
Legenda itu juga pertanda kalau debit air Ranu Betok dulu cukup banyak. Sementara kini, kondisinya sudah jauh menyusut. Ranu itu juga dipenuhi enceng gondok. Meski begitu, hingga sekarang Ranu Betok tetap menjadi daya tarik masyarakat di sekitarnya untuk bermukim.
Nah, berkaitan dengan temuan itu, pihaknya memberikan saran kepada Pemkab Probolinggo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) untuk menghimpun kapak tersebut dari warga.
Selanjutnya, benda pra sejarah itu disimpan di museum dan menjadi wisata sejarah. Dengan demikian, wisatawan juga bisa belajar sejarah, di samping menikmati panorama alam saat berkunjung.
"Benda-benda itu disimpan masyarakat sekitar. Tapi fungsinya sudah jauh berbeda. Salah satunya, disimpan di tempat beras dengan keyakinan, berasnya bakal awet," ujar Gunadi. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


