Nilai Historis Petilasan Prabu Tawang Alun Dikhawatirkan Hilang
Modernisasi dan penambahan fasilitas bermain yang ada didestinasi wisata religi Rawa Bayu, di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, dianggap kurang tepat.

JAKARTA – Modernisasi dan penambahan fasilitas bermain yang ada didestinasi wisata religi Rawa Bayu, di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, Jawa Timur, dianggap kurang tepat. Seharusnya, Rawa Bayu dibiarkan apa adanya. Jika tidak, kehistorisan tempat bersejarah yang sangat disakralkan tersebut dikhawatirkan akan memudar.
Pernyataan ini secara tegas disampaikan dua juru kunci Rawa Bayu, Mbah Saji dan Mbah Jinis saat diwawancarai TIMES Indonesia, Selasa (2/5/2017). Mbah Jinis, juru kunci yang bertugas menjaga Petilasan Prabu Tawang Alun dan Sumber Kamulyan, beranggapan, perubahan tidak semestinya dilakukan secara ekstrem. Apalagi merubah Rawa Bayu menjadi tempat bermain.
Menurutnya, Rawa Bayu tidak bisa disamakan dengan tempat wisata lain yang dibangun hanya untuk meraup keuntungan. Dan seharusnya pihak pengelola lebih memilih mempertahankan kearifan yang telah dimiliki Rawa Bayu.
“Justru yang perlu diperhatikan adalah merawat tempat-tempat sakral yang ada disini. Saya khawatir modernisasi akan merusak semuanya,” jelas Mbah Jinis.
Perubahan itu, sambung Mbah Jinis, mulai dikeluhkan oleh pengunjung yang datang ke petilasan Prabu Tawang Alun yang datang untuk mandi dan mengambil air dari sumber Kamulyan. Prabu Tawang Alun sendiri adalah salah satu raja Blambangan yang paling berjaya. Dan dimasa hidupnya dia pernah bertapa untuk mencari petunjuk dari sang Pencipta di rawa yang terletak dikaki Gunung Raung tersebut.
“Kata mereka Rawa Bayu sekarang ini seperti kehilangan kemagisannya. Kalau dulu tempat ini memang sakral,” jelas juru kunci yang sehari-hari tinggal ditempat itu.
Sementara itu, Mbah Saji, juru kunci pura sisi utara, beranggapan, perubahan yang terjadi di Rawa Bayu saat ini sebanarnya tidak dikehendaki oleh penunggu Rawa Bayu.
“Semestinya tempat ini cukup dijadikan sarana wisata sejarah dan religi. Toh, mulai dulu tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung,” jelas Mbah Saji.
Namun demikian, dua orang juru kunci Rawa Bayu itu mengaku pasrah. Mereka mengaku tidak memiliki kewenangan untuk turut campur terhadap pengelolaan tempat itu. Keduanya hanya bisa berharap, Pemerintah Daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata segera turun tangan menyikapi persoalan itu agar tidak ada pro kontra dikemudian hari.
Seperti diberitakan sebelumnya, tempat wisata Rawa Bayu saat ini banyak mengalami perubahan. Tempat wisata yang terletak di Desa Bayu, Kecamatan Songgon tersebut saat ini telah disulap menjadi tempat wisata komersil. Lengkap dengan perahu dan rumah apung untuk bermain dan mengitari rawa. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


