Banyualit Jadi Start Blambangan Kingdom X-plorer Telusuri Kerajaan Blambangan

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Komunitas Blambangan Kingdom X-plorer (BKX) menelusuri sejarah Kerajaan Blambangan dari Banyualit. Yakni sebuah wilayah yang masuk Desa Blimbingsari, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi.
Dari penelusuran itu, tak banyak yang tahu tentang perjalanan panjang wilayah yang berada di ujung timur pulau Jawa ini. Seiring dengan berjalannya waktu, nama Banyualit perlahan tergeser menjadi nama Krajan, Bentengan, Blibis, Pecemengan, dan nama lain yang relatif baru akibat dari pemekaran wilayah.
Advertisement
Dalam ulasan sederhana ini, anggota BKX, Duwi Setiyo Utomo, berusaha menjelaskan peran nama Banyualit yang pernah mendarmakan peran pada masanya.
Menurut dia, sebelum berubah menjadi nama Banyuwangi. Banyualit merupakan pelabuhan yang cukup ramai dan cocok dalam melakukan pendaratan kapal pada masa Kerajaan Blambangan.
"Saat itu ibukotanya masih Kutho Lateng, sekarang salah satu daerah yang berada dalam wilayah administrasi Rogojampi," jelas Tiyo pada TIMES Indonesia, Senin (4/6/2018).
Ketika membahas Kutho Lateng, lanjut Tiyo, erat kaitannya dengan perjuangan era perang pertama Kerajaan Blambangan menghadapi gempuran VOC tahun 1767.
Bahkan erat pula kaitan Banyualit dengan Puncak Perang Bayu pada tahun 1771 - 1772 yang menjadi legenda besar hingga menjadi poros ditetapkannya hari jadi Kabupaten Banyuwangi.
Masih kata Tiyo, Banyualit merupakan kota pelabuhan dari Kutho Lateng. Maka bisa dipastikan ada semacam strategi untuk mempertahankan wilayah dari serangan dari pengganggu.
"Analisis kami tim BKX, nama Bentengan sekarang mengambil dasar dari adanya benteng di pelabuhan Banyualit yang tersisa akibat diserbu oleh VOC saat akan menaklukkan pertahanan terakhir Blambangan sebelum merangsek ke pertahanan terakhir Blambangan di Bayu," ungkap Tiyo.
Tiyo menceritakan, beberapa sumber menyebut peperangan terjadi di wilayah Banyualit pada tahun 1767. Banyualit dikuasai dan penjajah bergerak ke sisi barat. Misi utama terlaksana dengan mengamankan area pendaratan serdadu untuk mempermudah akses dalam melakukan penyerangan.
Selain dalam catatan, di wilayah Banyualit (sekarang masuk perbatasan Patoman dan Blimbingsari) terdapat petilasan Patih Gringsing.
"Tapi belum jelas siapa tokoh yang pernah nilas disana karena dalam sejarah ada beberapa nama Gringsing. Seperti Sayu Gringsing, Singo Gringsing, Kidang Garingsing/Gringsing yang identik nama Gringsing-nya," ungkap Tiyo.
Penelusuran Blambangan Kingdom X-plorer (BKX) tentang sejarah Kerajaan Blambangan dari Banyualit ini memang menarik. Apalagi saat ini Banyuwangi sedang getol menjual pariwisata. Tentu wisata sejarah cukup pas untuk dikembangkan di kota ini. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Deasy Mayasari |