Advertisement
Wisata

Kenakan Pakaian Adat Sasak, Bupati Lombok Barat Hadiri Puncak Acara Perang Topat 2019

Dengan menggunakan pakaian Adat Sasak, Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid menghadiri acara puncak Perang Topat 2019, di Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Rabu (11/12/2019).

TIMES Indonesia,
Kenakan Pakaian Adat Sasak, Bupati Lombok Barat Hadiri Puncak Acara Perang Topat 2019
Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid saat memberi kata sambutan di acara puncak Perang Topat 2019, Rabu (11/12/2019).(FOTO: Anugrah Dany/TIMES Indonesia)
A-AA+

LOMBOK BARAT Dengan menggunakan pakaian adat Sasak, Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid menghadiri acara puncak Perang Topat 2019, di Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Rabu (11/12/2019).

Tampak hadir dalam acara itu, Wakil Bupati Lombok Barat, Sumiyatun, Kapolresta Mataram Kombes Pol. Guntur Herditrianto, S.I.K, Dandim 1606/Lobar Kolonel Czi Efrijon Kroll, S.IP. MM, para OPD lingkup Lombok Barat, serta tokoh agama baik dari Islam maupun Hindu.

Advertisement

Perang-Topat-2019-2.jpg

Dalam sambutannya, Bupati Lombok Barat menyampaikan, Perang Topat bukan merupakan perang sungguhan, melainkan sebuah tradisi masyarakat Lombok Barat yang sudah berlangsung ratusan tahun. 

Ia mengatakan, tradisi ini melambangkan kedamaian masyarakat Lombok Barat saat mempraktikkan hidup dalam keberagaman. Islam dan Hindu menyatu tanpa ada gesekan dan konfrontasi hingga sekarang.

"Rangkaian kegiatan Perang Topat adalah salah satu bukti kehidupan keberagamaan, yang didasari oleh kebersamaan serta nilai-nilai sepenanggungan. Ini sangat hidup di Kabupaten Lombok Barat," kata Fauzan.

"Dalam acara ini seluruhnya melibatkan dua agama dan dua suku, yaitu Agama Islam, Agama Hindu dan Suku Sasak serta Suku Bali," sambungnya.

Advertisement

Fauzan menerangkan, dalam sejarahnya Perang Topat juga melibatkan kedua suku yang ada di wilayah Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Perang-Topat-2019-3.jpg

Sejarah Agama Islam, kata Fauzan, saat itu diawali dengan kedatangan Raden Mas Sumilir dari Demak dalam menyebarkan agama Islam di daerah Lingsar. Pada waktu bersamaan  datang juga orang-orang Hindu dari Bali. 

"Dalam situasi yang demikian, muncul kebijakan dari tokoh-tokoh kedua agama itu untuk meminalisir konflik dalam sebuah tradisi Perang Topat ini," paparnya.

Fauzan menambahkan, pada pelaksanaan Perang Topat di tahun 2020 mendatang, pihaknya akan membuat acara tersebut lebih besar lagi.

"Nantinya, sebelum acara puncak Perang Topat ini berlangsung, saya akan keliling ke Bali mengajak Bupati serta Wali Kota untuk menghadiri acara ini ditahun depan," kata Fauzan.

Selanjutnya, dengan masih menggunakan pakaian adat Sasak, Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid memimpin jalannya Perang Topat 2019 dengan cara melempar ketupat kepada warga yang hadir di acara tersebut. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Anugrah Dany Septono
PenulisAnugrah Dany SeptonoBergabung di TIMES Indonesia sejak 6 Juli 2018. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, ekonomi bisnis, pendidikan, seni budaya, olahraga dan pariwisata. Saat ini berada di Kota Solo, Jawa Tengah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia