Inilah Sejarah dan Makna Arsitektur Khas Tionghoa Kuno di Cirebon
Cirebon menjadi salah satu wilayah di Nusantara yang dijadikan tujuan perdagangan bangsa Tiongkok pada zaman dahulu. Bahkan, tidak jarang mereka memilih menetap di tempat tujuan.

CIREBON – Cirebon menjadi salah satu wilayah di Nusantara yang dijadikan tujuan perdagangan bangsa Tiongkok pada zaman dahulu. Bahkan, tidak jarang mereka memilih menetap di tempat tujuan. Mereka membangun rumah-rumah tempat tinggal dengan gaya arsitektur khas Tionghoa. Umumnya, mereka tinggal berkelompok dan membentuk sebuah perkampungan. Karena itu, tidak heran jika ada istilah Pecinan atau kampung para warga Tionghoa.
Budayawan Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang menjelaskan, pada umumnya perumahan warga Tionghoa yang dibangun awal 1900-an berdasarkan keseimbangan lingkungan dan alam, yang selalu berporos pada utara selatan. Hal ini dikarenakan Chi datang dari selatan Khatulistiwa dan ada dinding pelindung, yang ditata berorientasi ke dalam.
"Ini mengandung makna sebagai pelindung keluarga. Soalnya berdasarkan ajaran Kong Hu Cu, jika keluarga kuat, masyarakat kuat, kota kuat, maka negara juga jadi kuat," jelasnya kepada TIMES Indonesia, Minggu (7/6/2020).
Jeremy melanjutkan umumnya bangunan depan rumah warga Tionghoa cukup lebar. Hal ini mengandung arti siap menampung atau terima rejeki. Sebagian besar bangunan milik warga Tionghoa terkena matahari terbit, yang mengandung arti siap menyongsong kehidupan.
Bagian fasad atau wajah bangunan di atas membentuk seperempat lingkaran. Hal ini merupakan simbol bumi dan bumi sebagai lambang kehidupan. "Pola seperempat lingkaran ini, maknanya bangunan dan rumah tinggal adalah bagian dari kehidupan," tuturnya.
Keunikan lainnya yang khas pada rumah warga Tionghoa, lanjutnya, adalah atap yang cenderung berpola gelombang. Pola ini mempunyai arti dinamika hidup yang kadang beruntung dan kadang tertimpa ujian.
Jeremy melanjutkan biasanya di ruang tengah ada sumur langit yang disebut Tien Chong. Ruang tengah ini berfungsi sebagai sirkulasi udara, di mana altarnya menghadap langit terbuka tanpa sajian, kecuali bunga sedap malam yang harum.
Di dekat kamar tidur dari orang yang dituakan, ada ruang meja sembahyang yang mengandung arti menghormati orang yang dituakan. "Kemudian ada ruang keluarga untuk berkumpul bersama keluarga," ungkapnya.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

