Advertisement
Wisata

Sejarah Putri Ningrat dan Pangeran Dibalik Cerita Objek Wisata Bojongsalawe

Setiap objek wisata di Kabupaten Pangandaran sarat akan kisah dan sejarah dibaliknya. Salah satunya di Bojongsalawe Kecamatan Parigi, yang saat ini menjadi dermaga pemberhentian.

TIMES Indonesia,
Sejarah Putri Ningrat dan Pangeran Dibalik Cerita Objek Wisata Bojongsalawe
Objek wisata Bojongsalawe di Pangandaran (Foto: Dinar/TIMES Indonesia)
A-AA+

PANGANDARAN Setiap objek wisata di Kabupaten Pangandaran sarat akan kisah dan sejarah dibaliknya. Salah satunya di Bojongsalawe Kecamatan Parigi, yang saat ini menjadi dermaga pemberhentian. Siapa sangka, tersimpan cerita dibalik dua orang putri yang memperebutkan seorang Raden Ningrat.

Seorang tokoh budaya asal Bojongsalawe, Ki Dahori (83) menjelaskan bahwa nama Bojongsalawe sendiri berasal dari kisah cinta berujung pembunuhan seorang pria tampan.

Advertisement

Bojongsalawe-Pangandaran-2.jpg

Pada awalnya, ada seorang putri yang sangat cantik bernama Nyimas Ningrum Kusuma dan tinggal di daerah Cireundang. Lokasi tersebut kini menjadi bangunan SMAN 1 Parigi. Kemunculan Nyimas Ningrum yang tiba-tiba ternyata diiringi niat ingin mencari seorang pria tampan dari suatu kerajaan. Sebelumnya mereka telah memutuskan untuk bertemu.

Setelah pertemuan singkatnya tersebut, Nyimas Kusuma dan Raden Surya Ningrat menjalin asmara. Akan tetapi tidak bertahan lama setelah kedatangan putri dari kerajaan lain yang bernama Nyimas Putri Banas Pati dan tak kalah cantik. Terjadilah perebutan pangeran oleh kedua putri tersebut.

Sangat disayangkan, cinta Nyimas Putri Banas Pati ditolak mentah-mentah. Akibatnya ia marah sehingga memutuskan untuk melakukan perbuatan keji yakni membunuh Raden Surya Ningrat. Nyimas Putri memerintahkan pengawalnya untuk menculik dan menghanyutkan Raden Surya Ningrat ke pantai Bojong Salawe.

"Tapi sesungguhnya Raden Surya pada saat itu tidak benar-benar mati, tubuhnya terselip di antara batu karang laut. Tak disangka ilmu kanuragan Raden Surya Ningrat bisa menyelamatkanya dan terhindar dari maut," tutur Ki Dahori kepada TIMES Indonesia, Selasa (02/02/2021).

Advertisement

Pada akhirnya, Raden Surya Ningrat memilih untuk hidup di tengah himpitan batu karang yang ada di Pantai Bojongsalawe. Ini menggambarkan suasana keadaannya dimana Raden Surya Ningrat terjebak antara dua pilihan sulit yang melibatkan perasaan dua Puteri Ningrat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

D
PenulisDinar Prameswari (MG-331) Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia