Wisata

Punya Track Alam Menawan, Pandantoyo Potensial Jadi Desa Wisata Bersepeda

Jumat, 30 September 2022 - 23:36 | 37.90k
Adhie Widyatama, Pemilik Pesanggrahan Sepeda sekaligus inisiator  inisiator wisata bersepeda  track alam Desa Pandantoyo, Kabupaten Kediri (Foto: Yobby/TIMES Indonesia)
Adhie Widyatama, Pemilik Pesanggrahan Sepeda sekaligus inisiator inisiator wisata bersepeda track alam Desa Pandantoyo, Kabupaten Kediri (Foto: Yobby/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, KEDIRIKabupaten Kediri memiliki potensi wisata desa yang sangat besar. Setiap desa di kabupaten yang dikenal sebaga Bumi Panjalu ini memiliki ciri khas unik yang bisa dikembangkan. Salah satunya di Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar yang terletak di kaki Gunung Kelud. Tidak banyak yang mengetahui desa Pandantoyo menyimpan potensi untuk menjadi desa wisata bersepeda

Desa Pandantoyo yang memilki rute track alam dengan pesona yang menawan, menawarkan tidak hanya olahraga tapi juga olahrasa. Bersepeda di jalur sepanjang 15 km ini, para pegowes diajak keluar ke alam untuk menikmati pemandangan yang tidak bisa didapat ketika bersepeda di perkotaan. Bersepeda di alam bebas ini juga sekaligus bisa memperkuat pertemanan, saat dilakukan bersama dalam satu rombongan. 

Advertisement

"Ada semangat untuk saling menjaga kawan, mereka semakin rekat. Karena olahraga dia dapat, badan sehat, hatinya juga jadi senang. Padahal tidak lebih dari 15 km tapi rasanya sama seperti bersepeda 30 sampai 50 km," tutur pemilik Pesanggrahan Sepeda Adhi Widyatama, yang juga inisiator wisata bersepeda  track alam Desa Pandantoyo, saat ditemui Rabu (28/09/2022). 

Rute track alam dimulai di Pesanggrahan Sepeda menuju Sumber Ringin Biting, menyusuri sungai lalu masuk ke kawasan perkebunan PTPN Sumber Lumbu. Disini para pegowes akan diajak untuk berpetualang ke masa lalu, dengan melihat sejumlah bangunan peninggalan kolonial Belanda seperti PLTA yang dibangun kolonial Belanda serta makam kerabat Kerajaan Belanda.

Track-Sepeda.jpg

Setelah dari area perkebunan Sumber Lumbu, para pegowes diajak menikmati kopi dan bersantai sejenak di "jacuzi alam", yang terbentuk alami. Setelah itu, pegowes diajak menikmati makan siang dengan menu kuliner seperti Nasi Lodho atau sate Kambing sebelum akhirnya kembali ke Pesanggrahan Sepeda. 

"Para pegowes juga bisa menikmati Amazon-nya Pandantoyo. Yang teduh karena pohon-pohonnya sangat rapat, sekitar tiga ratus meter. Disitu saat musim jambu monyet bisa bebas memetik," kata Adhie. 

Tidak sekadar bersepeda, nantinya juga ada kegiatan bersama mulai dari menanam bibit pohon hingga menebar benih ikan, yang semua sudah disiapkan Pesanggrahan Sepeda. Gowes melintasi alam Desa Pandantoyo ini biasanya dimulai sekitar pukul 7 pagi dan dengan berbagai kegiatan biasanya selesai pukul 1 siang.

Segala jenis sepeda, kecuali sepeda balap bisa diajak bersepeda lintas alam desa Pandantoyo. "Kalau sepeda balap, risikonya karena bannya itu juga kecil serta sensitif waktu terbentur saya tidak menyarankan," ujar pria 48 tahun itu menambahkan. 

Adhie mengungkapkan untuk memandu menyusuri track alam desa Pandantoyo dirinya tidak mematok tarif alias gratis. Bersepeda melintasi track alam desa Pandantoyo ini mulai dibuka oleh Adi sekitar 2018. Ia melihat potensi keindahan alam di desa tersebut. Setelah itu dari mulut ke mulut keberadaan track alam Pandantoyo dan juga Pesanggrahan Sepeda mulai dikenal di kalangan para pegowes. 

Mereka yang datang berkunjung tidak hanya pegowes lokal, tapi juga internasional. Sebelum pandemi covid-19 melanda, ada dua orang warga Amerika Serikat dan Inggris yang sempat menginap di Pesanggrahan Sepeda. Tempat ini memang menyediakan selain tempat tidur tapi juga sejumlah fasilitas lain seperti Wi-Fi, dapur, kamar mandi, dan TV yang semua tidak dipungut biaya. 

Sebelum pandemi, Pesanggrahan Sepeda menerima hingga puluhan pegowes terutama saat akhir pekan. Dia menuturkan, pegowes dari Amerika Serikat sempat menginap selama 3 minggu. Ada pula turis asal London yang sempat menginap selama dua malam tiga hari. Selebihnya merupakan pegowes tanah air seperti Padang, Semarang, Jogja, Bandung, dan Jombang.

"Mereka  bersama keluarganya buat tenda di sini terus adakan kegiatan tanam pohon. Terakhir ada dari komunitas Palm Turi 81," tutur pria yang dikenal akrab di kalangan pegowes sebagai Cak Mancal ini.

Track-Sepeda-a.jpg

Saat ini sendiri di Indonesia hanya ada satu desa wisata bersepeda yakni di Yogyakarta. Dengan segala potensi yang ada di Pandantoyo, desa yang terletak sekitar 16 km dari perbatasan Kabupaten dan Kota Kediri itu bisa menjadi sebuah desa wisata sepeda. Keberadaannya menambah pemasukan bagi warga desa setempat. Anak-anak muda desa juga bisa diajak untuk terlibat di dalam pengurusan pengelolaan wisata bersepeda. 

Adhie menilai potensi Desa Pandantoyo sangat menjanjikan. Menurutnya, dengan adanya wisata bersepeda kegiatan ekonomi masyarakat di luar sektor pertanian ini juga akan muncul secara alamiah.

"Misalnya masyarakat bisa menawarkan barang yang bisa jadi ini cendera mata baik itu yang eh diambil dari potensi alam langsung maupun yang buatan itu bisa.Juga kalau sudah menjadi kawasan wisata bersepeda nantinya bisa muncul penginapan ala pedesaan," kata Adhie. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES