Wisata

Lampaui Target, Wisatawan ke Kota Yogyakarta Tembus 5,1 Juta

Minggu, 23 Oktober 2022 - 18:36 | 26.84k
Wisatawan saat berkunjung ke Titik Nol Kilometer di Kawasan Malioboro Kota Yogyakarta. (FOTO: A Riyadi/TIMES Indonesia)
Wisatawan saat berkunjung ke Titik Nol Kilometer di Kawasan Malioboro Kota Yogyakarta. (FOTO: A Riyadi/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Kerinduan masyarakat untuk berwisata seolah terlampiaskan seiring dengan melandainya Covid-19. Dunia Pariwisata di Kota Yogyakarta pun terus bergeliat. Hal itu dapat dibuktinya dengan meningkatnya kunjungan wisatawan ke kota gudeg ini.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Yogyakarta, Wahyu Hendratmoko mengungkapkan berdasarkan penghitungan hingga September 2022, jumlah pelancong yang terdata sudah lebih dari dua kali lipat, melampaui target kunjungan untuk satu tahun penuh.

Advertisement

“Hingga saat ini, sedikitnya 5,1 juta wisatawan berbondong-bondong mengunjungi deretan destinasi di Kota Yogyaarta,” kata Wahyu, Minggu (23/10/2022).

Padahal, sejak awal Pemkot Yogyakarta hanya mematok target 2 juta wisatawan di 2022. Target itu ditetapkan karena tahun lalu kondisi pariwisata masih terpuruk gara-gara ada pandemic Covid-19.

“Ini melebihi target jumlah kunjungan wisatawan yang ditetapkan Pemkot Yogyakarta. Angka itu juga lebih tinggi dibanding sebelum pandemi. Makanya, kita harus menjaganya, ya, agar momentum ini bisa menjadikan pariwisata Yogya pulih dan lebih kuat," harap Wahyu.

Wahyu pun menjelaskan, selama ini penghitungan angka kunjungan wisatawan ke Yogyakarta itu mendasarkan pada beberapa parameter. Antara lain, dari jumlah wisatawan yang menginap di hotel berbintang dan nonbintang, kemudian jumlah pelancong yang mengunjungi destinasi-destinasi wisata, yang tersebar di penjuru Kota Yogyakarta.

“Sehingga, angka kunjungan wisatawan 5,1 juta itu belum dihitung dari wisatawan one day trip, yang berkunjung ke Kawasan Malioboro saja misalnya. Tapi paling tidak itu telah merepresentasikan karakter dari jumlah kunjungan wisatawan. Agar kami bisa secepatnya mengambil strategi untuk memperbaiki dan meningkatkan sektor pariwisata ke depan," tutur Wahyu.

Sementara, Penjabat (Pj) Wali Kota Yogyakarta, Sumadi mengungkapkan fenomena tersebut menjadi bukti nyata, bahwa Kota Yogyakarta masih memiliki potensi dan nama atau branding yang sudah dikenal masyarakat. Sehingga, ketika situasi pandemi Covid-19 berangsur melandai, kebangkitan pariwisata pun segera dirasakan.

“Sekarang tinggal bagaimana nama besar Yogyakarta yang sudah dikenal, kita kemas sebagai sebuah potensi yang bisa mendorong tingkat kunjungan wisatawan. Supaya potensi itu dapat dimaksimalkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Singgih Raharjo mengungkapkan Pergerakan atau mobilitas wisatawan di DIY sudah mencapai setidaknya di kisaran 80 persen hingga 85 persen pada triwulan III 2022. Dengan capaian tersebut, diharapkan pergerakan wisatawan pada triwulan akhir 2022 mengalami peningkatan sehingga mampu membangkitkan kembali industri pariwisata DIY yang pada akhirnya memberikan dampak ganda atau multiplier effect bagi perekonomian di DIY.

Singgih Raharjo menyebutkan  hal ini menjadi peluang besar yang harus ditangkap dan dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh seluruh pelaku industri pariwisata di DIY.

“Adanya peningkatan pergerakan wisatawan ini pun berpengaruh terhadap industri turunan lainnya. Hal tersebut merupakan sinyal positif masa pandemi Covid-19 yang mulai mereda dan terkendali dengan bagus sehingga menuju endemi. Kemudian diikuti adanya kepercayaan wisatawan untuk mengunjungi DIY," ujar Singgih.

Diungkapkan,berdasarkan data triwulanan pergerakan wisatawan yang dihimpun Dispar DIY pada triwulan III 2022 sudah berkisar di prosentase 80 persen sampai 85 persen. Namun pihaknya masih menunggu rilis data di triwulan IV 2022 yang diperkirakan akan terjadi peningkatan.

“Peningkatan itu tidak hanya dari sisi jumlah tetapi dari sisi pertumbuhan ekonomi di DIY. Teman-teman Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY melaporkan pergerakan tamu cukup bagus, ada penurunan sedikit di Agustus lalu karena masa libur sekolah sudah berakhir. Tetapi saya berharap di September hingga Oktober ini ada perbaikan atau koreksi sehingga okupansinya bisa mendekati 90 persen sampai 95 persen, "ungkapnya.

Momentum meningkatnya kebutuhan pergerakan wisatawan ini diharapkan Singgih agar ditangkap dan dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh para pelaku industri pariwisata di DIY. Dirinya menekankan pentingnya pelaksanaan protokol kesehatan dan tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Saya kira situasi yang sudah sangat bagus ini bisa diambil peluang seluruh pelaku industri pariwisata di DIY dengan tetap menjalankan pola hidup sehat yang saat ini sudah berjalan seperti cuci tangan sesering mungkin, didukung sarana dan prasarana (sarpras) yang harus dipastikan berjalan dengan baik. Sistem reservasi juga perlu dijalankan dan ditingkatkan karena memberikan kemudahan dan transparansi bagi wisatawan," jelasnya.

Kepala Dispar DIY menyebut kepastian menjadi komponen penting dan krusial bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kota Yogyakarta dan wilayah lain di DIY. Pihaknya sekaligus tetap meningkatkan terus-menerus kepastian seperti hospitality dan lainnya agar DIY bisa menjadi tuan rumah yang baik. Sebab, pariwisata di Kota Yogyakarta juga menjadi penggerak perekonomian daerah jika tercederai maka dipastikan bakal memberikan efek kurang baik. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES