Wisata

Yuk Wisata Heritage, Ini 4 Peninggalan Kolonial Belanda di Kepanjen Kabupaten Malang

Sabtu, 12 November 2022 - 09:23 | 177.19k
Jembatan Talang Air Kepanjen merupakan peninggalan kolonial Belanda. (Foto : Kekunaan)
Jembatan Talang Air Kepanjen merupakan peninggalan kolonial Belanda. (Foto : Kekunaan)

TIMESINDONESIA, MALANG – Kepanjen, sebagai ibukota Kabupaten Malang, juga memiliki potensi wisata heritage. Di sini terdapat beberapa bangunan peninggalan kolonial Belanda yang bertahan hingga kini.

Bahkan terdapat bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kepanjen, yang secara teknis fungsinya sangat vital. Semua bangunan peninggalan kolonial ini masih terawat. Namun, secara kondisi tetap mempertahankan Kondisi Heritage atau keasliannya.

Advertisement

Berikut empat bangunan kolonial Belanda di Kepanjen tersebut :

1. Syphon Metro di Desa Talangagung, Kepanjen

Syphon-Metro.jpgSyphon Metro saluran air canggih Peninggalan Kolonial Belanda. (Foto : Nico Channel).

Seperti dikutip dari situs Dinas Sumbermanjing Data Air Kabupaten Malang, Syphon Metro Talangagung merupakan saluran berbentuk seperti pipa raksasa berjumlah dua.

Masing-masing pipa berdiameter 1800 mm. Saluran ini dibuat pada tahun 1903 pada zaman kolonial Belanda. Bahkan masih digunakan hingga kini.

Saluran ini membentang di atas sungai metro yang menghubungkan Kepanjen dengan Talangagung. Saluran ini dibuat sebagai irigasi untuk mengaliri sawah di area Kepanjen dan Kecamatan lain yang ada di sekitarnya. 

2. Jembatan Talang Air Kepanjen.

Jembatan Talang Air Kepanjen ini berada di dua kelurahan – Kelurahan Kepanjen dan Cepokomulyo, Kepanjen. Lokasi jembatan ini berada di sebelah selatan jembatan Sukun, atau di belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Kabupaten Malang.

Data dari Kekunaan, Jembatan Talang ini merupakan bangunan peninggalan Hindia Belanda. Berdasarkan tulisan yang ada di pilar utama dari bangunan itu, jembatan ini dibangun pada tahun 1903. 

Pembangunannya berbarengan dengan pengerjaan Syphon Metro di sebelah baratnya berjarak sekitar 600 meter. Secara historis,  bangunan Jembatan Talang ini merupakan bagian dari proyek pembangunan Daerah Irigasi Molek panjangnya sekitar 20 kilometer.

Jembatan Talang merupakan salah satu bangunan persilangan yang dibangun untuk mengalirkan debit yang dibawa oleh saluran yang jalurnya terpotong lembah dengan bentang panjang atau melewati sungai.

3. Bangunan Stasiun Kepanjen.

Bangunan Stasiun Kepanjen ini merupakan bangunan peninggalan masa Hindia Belanda, yang pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api Malang-Kepanjen sepanjang 19 kilometer.

Data dari Direktori Pariwisata, Pengerjaan jalur kereta api ini dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1896 silam. 

Proyek jalur kereta api Malang-Kepanjen ini merupakan bagian dari proyek besar jalur kereta api jalur Timur jilid 2 (Oosterlijnen-2), yaitu jalur rel Blitar-Wlingi-Kepanjen-Malang. Pengerjaan proyek jalur kereta api ini dilaksanakan dua arah. Arah barat dimulai dari Kediri-Tulungagung-Blitar selesai pada 1884.

4. Rumah Belanda Cepokomulyo, Kepanjen.

Salah-satu-rumah-peninggalan-kolonial-Belanda.jpgSalah satu rumah peninggalan kolonial Belanda di Kepanjen. (Foto : Street View).

Di Kepanjen, terdapat beberapa rumah peninggalan Belanda. Salah satunya ada di Kelurahan Cepokomulyo, Kepanjen. Di situ, terdapat rumah peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri.

Hal ini ditunjukkan dengan rumah bergaya kolonial Belanda yang masih dipertahankan keasliannya. Tidak hanya di Cepokomulyo, di beberapa wilayah Kepanjen juga terdapat rumah peninggalan Belanda.

Tempat lainnya adalah di Pasar Kepanjen yang terdapat beberapa rumah peninggalan kolonial Belanda yang masih terjaga keasliannya. Rumah bangunan peninggalan Kolonial Belanda di Kepanjen Kabupaten Malang ini ke depannya dapat dikembangkan menjadi wisata heritage. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES