Wisata

Candi Jago, Jejak Spiritualitas Hindu-Buddha yang Megah

Jumat, 05 April 2024 - 11:20 | 26.99k
Candi Jago di Malang yang merupakan peninggalan Kerajaan Singasari. (Foto: Khasanul Imal/ TIMES Indonesia)
Candi Jago di Malang yang merupakan peninggalan Kerajaan Singasari. (Foto: Khasanul Imal/ TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Bersembunyi di keindahan lembah Gunung Bromo, Candi Jago memancarkan pesona sejarah yang tak terlupakan. Bangunan megah ini adalah warisan agung dari Kerajaan Singasari, mewariskan kebesaran Hindu yang mengagumkan.

Namun, tak berhenti di situ, jejak Majapahit - penerus gemilang Singasari - turut terpatri dalam dinding-dinding candi ini dengan sentuhan harmonis agama Hindu dan Buddha.

Dibangun dalam rentang waktu yang memukau, sekitar tahun 1268-1280 Masehi, keelokan Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Meskipun kini terjepit di antara hingar-bingar permukiman, keagungan Candi Jago tidak pernah surut. Di tengah hiruk pikuk kota, ia tetap menjaga pesonanya sebagai Candi Tumpang, diakui juga sebagai Candi Cungkup oleh warga sekitar.

Sejak 2016, Candi Jago telah diakui sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Nasional oleh Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 203/M/2016, bersanding dengan Candi Badut. Pengakuan tersebut merupakan hasil dari penelitian teliti yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur pada 2015.

Candi-Jago-2.jpg

Namun, jejak penelitian bukanlah yang pertama kali diukir dalam sejarah candi ini. Sejak tahun 1854, para peneliti seperti R.H.T. Friederich, J.F.G. Brumund, Fergusson, Veth, J.L.A. Brandes, hingga Stamford Raffles pada 1917, telah menorehkan catatan penting tentang kebesaran Candi Jago.

Sejarah Candi Jago

Begitu dalam cerita yang terpatri dalam kitab-kitab sejarah kuno seperti Negarakertagama dan Pararaton, Candi Jago tidak sekadar menjadi struktur batu yang megah, melainkan jajaghu, sebuah monumen keagungan yang mengharu biru.

Cerita ini membuka tabir masa lalu yang membanggakan, di mana Candi Jago disulap dari imajinasi menjadi karya nyata sebagai penghormatan kepada Sri Jaya Wisnuwardhana, sang Raja Singasari yang perkasa, putra dari Anusapati. Dan pembangunan candi megah ini, menurut catatan sejarah, terjadi setelah kepahlawanan Wisnuwardhana berakhir tragis dengan mangkatnya pada tahun 1268 Masehi.

Kisah-kisah yang terpatri dalam Negarakertagama memperlihatkan bagaimana Wisnuwardhana, memerintah dengan gagah berani dalam kurun waktu 1248-1268 M, sambil memeluk keyakinan unik Siwa Buddha, sebuah aliran yang mencampur adukkan ajaran luhur Hindu Siwa dengan kedamaian Buddha.

Dan melalui Candi Jago, keindahan dan kekuatan aliran tersebut terpampang jelas, terutama dalam rupa-rupa pahatan padma (teratai) yang menjulang anggun dari bonggolnya, menghiasi setiap sudut arca. Motif yang memikat ini, sebuah simbol popularitas pada zaman kejayaan Singasari, menjadi saksi bisu akan kemegahan masa silam.

Namun, meski Candi Jago mengembara dalam riwayat Singasari, tetapi jejaknya melintasi zaman, mengikatkan diri dalam belantara sejarah Majapahit yang besar. Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Jawa, meneruskan kejayaan yang diukir oleh Singasari, memeluk warisan kebesaran dan kebijaksanaan dari masa lalu yang bercahaya. Sehingga, Candi Jago tak hanya menjadi saksi bisu akan kegemilangan Singasari, namun juga saksi akan perjalanan panjang kerajaan besar yang mengatur tanah Jawa.

Dalam gemerlap kejayaan Nusantara, Kerajaan Majapahit melambung tinggi di puncak kejayaannya di bawah pimpinan Maharaja Hayam Wuruk, juga dikenal sebagai Sri Rajasanagara, yang bersama dengan mahapatih legendaris, Gajah Mada, mengukir sejarah gemilang pada abad ke-14 (1350-1389 M). Di tengah derap langkah kerajaan, Candi Jago menjadi saksi bisu akan kehadiran megah Hayam Wuruk, yang dikabarkan sering mengunjungi keajaiban sejarah itu.

Candi-Jago-3.jpg

Namun, sebelum kemegahan itu mencapai puncaknya, Candi Jago telah merasakan sentuhan keajaiban dari tangan Adityawarman. Sebuah perintah mulia dari keluarga Kerajaan Majapahit yang mengejutkan, sebagaimana yang diuraikan oleh C.C. Berg dalam Penulisan Sejarah Jawa (1985).

Adityawarman, seorang putra bangsa yang tumbuh besar di pangkuan kebesaran Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur, memimpin dengan gemilang sebagai Perdana Menteri Majapahit pada masa pemerintahan ibunda Hayam Wuruk, Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350 M). Perjalanan hidupnya memainkan peran besar dalam diplomasi kerajaan, menjelma sebagai duta besar Majapahit untuk Cina di masa pemerintahan raja sebelumnya, Sri Jayanagara (1309-1328 M).

Namun, panggung sejarah mengantarnya pada perjalanan yang tak terduga. Pada tahun 1347 M, Adityawarman menjelma sebagai penguasa di Kerajaan Melayu, merajut kejayaan di bumi Sumatera. Dari sana, mempertaruhkan segala jiwa dan raga, sebagaimana yang diceritakan dalam tulisan F.D.K. Bosch dalam De inscriptie op het Mansjuri-beeld van 1265 Caka (1921), Adityawarman memulai misi suci memugar Candi Jago, sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian kepada leluhur dan keluarganya di Tanah Jawa yang suci.

Relief, Corak, dan Arsitektur Candi Jago

Dalam keajaiban arsitektur dan spiritualitas, Candi Jago menyuguhkan paduan yang memukau antara agama Hindu dan Buddha, mengilhami pengunjung dengan keagungan Siwa Buddha yang melampaui batas-batas dunia. Bangunan megah ini memperlihatkan keanggunan perpaduan agama Hindu-Buddha melalui desain arsitektur yang memukau.

Melangkah di atas punden berundak yang menggoda, Candi Jago mempersembahkan kemiripan yang mengagumkan dengan struktur punden berundak kuno. Dengan kokohnya, bangunan utama candi mendominasi teras tertinggi, menghadap ke barat dengan kokohnya. Setiap langkah pengunjung dihiasi dengan dua anak tangga yang menjembatani antar tingkat kaki candi, mengajak mereka dalam perjalanan spiritual yang menggetarkan.

Dari sudut pandang yang lebih teknis, candi ini menawarkan bentangan yang memukau dengan dasar berbentuk bujur sangkar, mencapai ukuran yang menakjubkan sebesar 23,71 x 14 meter, sementara tingginya yang tersisa, meskipun pernah merasakan dentuman masa lalu, masih tegak perkasa mencapai 9,97 meter, dengan setia menghadap ke barat.

Dalam kemegahannya, struktur kaki candi yang berundak tiga tingkat menahan beban sejarah, sementara badan candi, walau hanya tersisa ambang pintu, masih menggoda dengan ceruk-ceruk relif yang menyebar dari kaki hingga ke dinding ruangan teratas.

Dan di antara jalinan batu-batu yang kokoh, terukirlah relief-relief yang mempesona, mempersembahkan kisah-kisah yang melingkupi perjalanan jiwa manusia. Dari hiasan itu, muncul ragam cerita yang mencurahkan unsur-unsur pelepasan kepergian, mengisyaratkan perjalanan megah candi ini yang tak terlepas dari peristiwa mangkatnya Raja Wisnuwardhana, sebuah kisah yang tak lekang oleh waktu.

Dalam lorong-lorong masa lalu, Candi Jago menawarkan lebih dari sekadar relief batu biasa; itu adalah cerminan penuh keajaiban dari perpaduan antara dunia Hindu dan Buddha yang menggetarkan jiwa. Wisnuwardhana, yang menapaki jalan agama Siwa Buddha, meninggalkan jejak kebesaran spiritualnya yang mengilhami setiap relief yang menghiasi candi ini.

Dari langit-langit bawah, cerita-cerita dari aliran Buddha menghias teras paling bawah, mempersembahkan Tantri Kamandaka dan Kunjarakarna dengan keanggunan yang mempesona. Di sana, terpahat gambaran tragis Buddha Wairocana membawa Kunjarakarna melalui gerbang neraka, menampilkan konsekuensi yang tak terhindarkan dari perbuatan manusia di dunia ini.

Namun, cerita tak berhenti di situ. Pada dinding teras kedua, cerita Hindu dari Mahabharata merajut kisah yang tak tertandingi, mengisahkan Parthayajna dan Arjuna Wiwaha dengan gemerlapnya. Sementara itu, teras ketiga menyambut kita dengan kelanjutan cerita epik Arjunawiwaha, menawarkan pemandangan megah dari perang Krisna dengan Kalayawana yang mengguncang hati.

Namun, keajaiban candi Jago tak hanya terpampang dalam relief-reliefnya yang memukau. Di tengah-tengah pelataran depan, kita disambut oleh tatakan arca raksasa yang mencapai diameter sekitar 1 meter, dengan bunga padma yang menjulang anggun dari bonggolnya. Dan di sudut barat halaman candi, arca Amoghapasa berlengan delapan mempersembahkan keagungan yang tak terpadai, meskipun kepala raksasa yang melatarinya telah menghilang, dan lengannya terpatah. Di sebelahnya, arca kepala rasaksa setinggi sekitar 1 meter memancarkan kekuatan misterius yang melintasi zaman.

Dalam setiap batu dan relief, Candi Jago menyimpan cerita-cerita yang mempesona, membiarkan kita merasakan keajaiban spiritual yang tak terlupakan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES