Advertisement
Wisata

Gunung Galunggung Jadi Nostalgia Perantau Kembali ke Alam Tasikmalaya

Libur Lebaran 2026, Gunung Galunggung di Tasikmalaya dipadati ribuan wisatawan dan pemudik. Simak pesona tangga ikonik, kawah vulkanik, hingga pemandian air panasnya.

TIMES Indonesia,
Gunung Galunggung Jadi Nostalgia Perantau Kembali ke Alam Tasikmalaya
Sejumlah pengunjung menggunakan campervan saat menikmati alam Gunung Galunggung bersama keluarga, beberapa waktu yang lalu. (Foto: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
A-AA+

Tasikmalaya Libur panjang Idulfitri selalu membawa narasi tersendiri bagi destinasi wisata di Indonesia. Di wilayah Priangan Timur, Gunung Galunggung tetap menjadi magnet utama yang hampir selalu dipadati pengunjung. Setiap tahun, kawasan wisata alam di Tasikmalaya ini berubah menjadi "laukan wisatawan" saat momen Lebaran tiba.

Ribuan pengunjung memenuhi jalur menuju gunung berapi yang terkenal dengan kawah luas dan tangga panjang ikoniknya tersebut. Fenomena menarik yang terlihat adalah mayoritas pengunjung merupakan kaum perantau. Bagi mereka, Galunggung bukan sekadar destinasi wisata, melainkan bagian dari sejarah hidup dan ruang untuk menghidupkan kembali kenangan masa kecil.

Advertisement

Nostalgia di Antara Ratusan Anak Tangga

CDN Image
Dua orang wisatawan saat membuka tenda di blok Pasir Datar Galunggung beberapa Waktu yang lalu. (FOTO : Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Sejak matahari muncul di balik perbukitan, deretan kendaraan mulai dari sepeda motor hingga bus pariwisata telah memadati area parkir. Ikon utama yang diburu adalah tangga panjang yang membelah lereng gunung menuju kawah. Jalur ini menjadi tantangan tersendiri sekaligus tempat favorit wisatawan untuk mengabadikan momen.

Bagi perantau asal Bandung, Jakarta, hingga luar Jawa, menaiki ratusan anak tangga ini adalah perjalanan kembali ke masa lalu. Tangga yang dulu terasa sangat tinggi saat mereka masih kecil, kini menjadi saksi bisu pertumbuhan mereka.

Di puncak, wisatawan disambut hamparan kawah luas yang dikelilingi dinding gunung menjulang tinggi. Lanskap vulkanik ini terbentuk dari sejarah panjang, termasuk letusan besar pada tahun 1982 yang sempat memengaruhi jalur penerbangan internasional. Kini, bekas kekuatan alam tersebut bertransformasi menjadi keindahan yang memikat.

Geliat Ekonomi dan Hangatnya Kebersamaan

Momen Lebaran di Galunggung juga kental dengan nuansa kekeluargaan. Banyak keluarga menggelar tikar di area terbuka, menikmati bekal makanan rumah di tengah udara pegunungan yang sejuk.

Advertisement

Lonjakan wisatawan ini turut membawa dampak ekonomi signifikan bagi warga lokal. Deretan warung di sepanjang jalur wisata menawarkan kuliner khas Tasikmalaya, seperti gorengan, lalapan, hingga minuman tradisional lahang (air nira). Sektor pariwisata ini menjadi napas penghidupan bagi warga sekitar, mulai dari jasa parkir hingga penyewaan tikar.

Selain kawah, pemandian air panas alami yang berasal dari aktivitas geotermal menjadi pilihan favorit untuk relaksasi. Wisatawan biasanya menghabiskan waktu berendam untuk melepas penat setelah mendaki ribuan anak tangga.

Tantangan Pengelolaan dan Potensi Masa Depan

CDN Image
Bibir kawah Gunung Galunggung, foto diambil beberapa Waktu yang lalu. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

Secara geologis, Gunung Galunggung yang berketinggian 2.167 mdpl ini merupakan gunung berapi aktif. Keindahannya saat ini menunjukkan bagaimana alam mampu memulihkan diri dari bencana menjadi potensi wisata unggulan.

Namun, di balik keramaian tersebut, terdapat tantangan besar dalam pengelolaan, terutama terkait volume sampah dan kepadatan jalur wisata. Kesadaran lingkungan menjadi kunci agar keindahan Galunggung tetap lestari. Beberapa komunitas lokal mulai aktif mengedukasi pengunjung untuk menjaga kebersihan kawasan.

Gunung Galunggung memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat ekowisata nasional yang menggabungkan edukasi geologi dan budaya lokal. Dengan pengelolaan berkelanjutan dan penguatan fasilitas, destinasi ini diprediksi akan terus menjadi ikon pariwisata Jawa Barat di masa depan.

Saat senja mulai turun dan cahaya keemasan menyinari lereng gunung, satu per satu wisatawan mulai beranjak pulang. Bagi mereka, hari itu bukan sekadar liburan, melainkan sebuah kepulangan menuju kenangan yang akan selalu hidup di setiap perayaan Lebaran. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Harniwan Obech
PenulisHarniwan ObechSarjana Administrasi Negara, STIA YPPT Priatim, (Angkatan tahun 1994). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 18-04-2021, Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia