Advertisement
Wisata

Misteri dan Karomah Prabu Kian Santang, Sang Legenda dari Kerajaan Pajajaran

Kompleks Makam Godog di lereng Karacak menjadi jejak spiritual Sunan Rohmat Suci/Prabu Kian Santang, tempat peziarah mencari ketenangan dan makna pengorbanan iman.

TIMES Indonesia,
Misteri dan Karomah Prabu Kian Santang, Sang Legenda dari Kerajaan Pajajaran
Makam Sunan Rohmat Suci atau Prabu Kian Santang di Godog, Karangpawitan, Kabupaten Garut. (FOTO: Istimewa)
A-AA+

GARUT Jika kaki melangkah ke arah timur pusat kota Garut, tepat di lereng Gunung Karacak yang berselimut kabut, kita akan menemukan sebuah gerbang waktu. Di sanalah bersemayam Sunan Rohmat Suci, figur yang dalam memori kolektif masyarakat Sunda lebih dikenal sebagai Prabu Kian Santang. Sosok ksatria yang menanggalkan mahkota emasnya demi menjemput cahaya iman.

Mendaki anak tangga menuju kompleks Makam Godog bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah metafora tentang pendakian spiritual. Semakin tinggi kita melangkah, keriuhan dunia di bawah sana perlahan memudar, digantikan oleh simfoni gesekan daun pohon besar yang telah berusia ratusan tahun.

Advertisement

Narasi yang berembus di antara para peziarah bukan hanya tentang kematian, melainkan tentang kelahiran kembali. Prabu Kian Santang, putra Sang Prabu Siliwangi yang perkasa, dikisahkan menempuh perjalanan melampaui samudera hingga ke tanah suci Mekah. Di sana, kegagahannya luruh di hadapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sebuah pertemuan yang mengubah pedang peperangannya menjadi pedang dakwah yang lembut.

Sekembalinya ke tanah Pasundan, ia tak lagi datang sebagai calon raja, melainkan sebagai Syekh Sunan Rohmat Suci. Nama "Godog" sendiri, menurut tutur lisan setempat, berasal dari kata "digodog" (digembleng), merujuk pada proses pembersihan diri dan pematangan ilmu agama yang dilakukan beliau di tempat ini.

Memasuki area utama, suasana berubah drastis. Ada keheningan yang "berbicara" melalui wangi dupa dan lantunan selawat yang lirih. Bangunan makam utama berdiri bersahaja namun berwibawa, dikelilingi oleh makam para sahabat setianya seperti Santowaan Darma, Sayyid Keramat, dan Syekh Semelewa.

Di sini, batas antara sejarah dan legenda menipis. Setiap tahunnya, pada bulan Maulid, ritual Lungsur Pusaka menghidupkan kembali memori masa lalu. Saat pusaka-pusaka peninggalan dikeluarkan dan dibersihkan, warga bukan sekadar mencuci besi tua, melainkan sedang merawat ingatan tentang nilai-nilai luhur yang dititipkan sang Sunan.

Bagi penduduk setempat dan para peziarah yang datang dari pelosok Nusantara, Godog adalah tempat pelarian dari lelahnya kehidupan modern. Di bawah bayang-bayang pohon raksasa, banyak yang bersimpuh bukan untuk memuja makam, melainkan untuk merenungkan makna pengorbanan.

Advertisement

Sunan Rohmat Suci mengajarkan bahwa setinggi apa pun kasta seseorang, kemuliaan sejati ditemukan saat ia mampu "menaklukkan" dirinya sendiri. Di puncak Godog yang sunyi ini, pesan itu tetap abadi, bahwa kebenaran harus dicari dengan kerendahan hati, meski harus menyeberangi lautan dan mendaki ribuan anak tangga. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Adis Cahyana
PenulisAdis CahyanaPenulis dan pengamat kebijakan publik. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk isu sosial,politik, hukum dan kriminal, Birokrasi, Seni budaya dan kuliner.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia