Kejar Target 17 Juta Wisman, Kemenpar Geser Fokus ke Pasar Asia
Kemenpar menggeser fokus ke pasar Asia demi kejar target 17 juta wisman 2026 sebagai strategi mitigasi dampak konflik Timur Tengah terhadap pariwisata RI.
Bali – Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah memaksa sektor pariwisata nasional melakukan rekalibrasi strategi secara cepat. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kini secara resmi mengalihkan prioritas pemasaran jangka pendek ke pasar Asia dan Oceania guna mengamankan target ambisius kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2026.
Langkah ini diambil menyusul terganggunya jalur transit udara internasional di wilayah konflik, yang secara langsung berdampak pada aksesibilitas wisman dari pasar jarak jauh (long-haul) seperti Eropa dan Amerika Serikat.
Pivot Strategis: Memaknai Angka dan Proyeksi
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa pergeseran ini adalah bentuk dinamisme kebijakan berbasis data. Indonesia tidak hanya sekadar bertahan, tetapi sedang menghitung ulang potensi dari negara-negara tetangga yang memiliki risiko hambatan penerbangan lebih rendah.
"Untuk ASEAN, prioritas utama kami adalah Malaysia dan Singapura, disusul tren positif dari Filipina, Vietnam, dan Thailand. Selain itu, Asia Timur (China, Jepang, Korea), Oceania (Australia), serta Asia Selatan (India) menjadi tumpuan utama jangka pendek saat ini," ujar Made Ayu di sela konferensi pers Bali Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, Senin (30/3/2026).
Keputusan ini memiliki landasan angka yang krusial. Setelah sukses mendatangkan 15,4 juta wisman pada 2025, tahun ini Kemenpar dibebankan target kenaikan signifikan di angka 16 hingga 17 juta kunjungan.
Realokasi Anggaran dan Tantangan Avtur
Kemenpar menyadari bahwa ambisi tanpa adaptasi anggaran adalah mustahil. Oleh karena itu, skema pendanaan promosi yang semula dialokasikan untuk pasar Barat kini mulai digeser ke kawasan Asia.
Pergeseran ini juga mempertimbangkan variabel ekonomi mikro, seperti lonjakan harga avtur yang memicu kenaikan harga tiket pesawat. Made Ayu menekankan bahwa industri harus tetap "percaya diri namun realistis".
"Kami menghitung setiap data, mulai dari dampak jumlah pesawat hingga kenaikan harga tiket akibat avtur. Karena itu, kami menerapkan strategi berlapis: jangka pendek, menengah, dan panjang," tambahnya.
Nasib Pasar Eropa dan Isu Konektivitas
Meski fokus bergeser ke Asia, Kemenpar menegaskan tidak meninggalkan pasar Eropa dan Amerika. Namun, profil wisatawan dari wilayah tersebut diprediksi akan mengalami perubahan. Konflik di Timur Tengah sebagai titik transit utama otomatis menyaring wisatawan berdasarkan daya beli.
Wisatawan long-haul yang tetap menuju Indonesia, khususnya Bali, diprediksi berasal dari kalangan menengah-atas (high-end) yang bersedia membayar harga tiket lebih mahal melalui jalur alternatif seperti Singapura.
Tantangan terbesar saat ini adalah konektivitas. Untuk itu, Kemenpar terus melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Perhubungan guna memastikan ketersediaan slot penerbangan langsung maupun lanjutan yang kompetitif dari negara-negara tetangga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


