Sejak 1617, Tradisi Ithuk-Ithukan Banyuwangi Tetap Lestari di Tengah Modernisasi
Tradisi Ithuk-Ithukan di Rejopuro, Banyuwangi, tetap lestari sejak 1617 sebagai wujud syukur masyarakat Suku Osing atas sumber mata air yang tak pernah surut.
BANYUWANGI – Lebih dari empat abad sejak pertama kali digelar pada 1617, tradisi Ithuk-Ithukan di Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tetap bertahan di tengah arus modernisasi.
Ritual warisan leluhur Suku Osing ini terus dijaga sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan warga hingga kini.
Tahun ini, tradisi Ithuk-Ithukan kembali dilaksanakan pada Rabu (29/4/2026), bertepatan dengan 12 Dzulqa’dah dalam kalender Islam.
Prosesi diawali dengan pembuatan ithuk, yakni wadah makanan dari daun pisang yang dilipat rapi. Di dalamnya berisi nasi lengkap dengan lauk khas pecel pitik, berupa ayam suwir dengan parutan kelapa berbumbu khas.
Sebelum diarak, seluruh ithuk bersama tumpeng pethetheng didoakan terlebih dahulu dalam prosesi bersama. Suasana khidmat menyelimuti ritual saat warga memanjatkan doa, harapan, dan rasa syukur atas berkah alam yang terus mengalir.
Selanjutnya, puluhan perempuan mengenakan busana khas Suku Osing berjalan beriringan membawa ithuk-ithukan dan tumpeng pethetheng menuju Sumber Hajar, mata air utama yang menjadi penopang kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Di lokasi sumber mata air, warga menggelar tikar dan makan bersama. Kesederhanaan tradisi tercermin dari menu serta kebersamaan warga yang menikmati hidangan masing-masing secara gayeng.
Ketua Adat Rejopuro, Sarino atau yang akrab disapa Nang Inok, menegaskan tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas karunia alam yang terus terjaga.
“Tradisi Ithuk-Ithukan ini bentuk rasa syukur masyarakat Rejopuro atas berlimpahnya mata air yang tak pernah surut meski musim kemarau dan juga tidak pernah banjir walaupun di musim penghujan,” ujar Nang Inok.
Menurutnya, lebih dari sekadar ritual tahunan, Ithuk-Ithukan juga menjadi ruang mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Tradisi yang diwariskan leluhur kami ini menunjukkan bagaimana untuk saling berbagi dan menyayangi sesama manusia,” tambahnya.
Kepala Desa Kampung Anyar, Suwandi, menambahkan tradisi tersebut berakar dari rasa syukur atas keberadaan Sumber Kajar atau Hajar yang tak pernah mati dan mengairi ratusan hektare lahan pertanian di Glagah dan sekitarnya.
“Ini merupakan wujud syukur kami atas nikmat air, terutama karena desa kami tidak pernah kekurangan air. Kami mengajak seluruh warga ikut bersyukur dan bersama-sama menjalankan tradisi menuju mata air,” katanya.
Tradisi Ithuk-Ithukan tidak hanya diikuti warga Kampung Anyar, tetapi juga masyarakat desa sekitar.
Salah satunya Susianti, warga Desa Kemiren berusia sekitar 80 tahun, yang mengaku telah mengikuti tradisi tersebut sejak kecil.
“Sejak saya kecil diajak bapak. Sampai sekarang ikut,” ujarnya.
Keberlangsungan tradisi Ithuk-Ithukan menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Osing Banyuwangi terus menjaga warisan budaya leluhur sekaligus merawat harmoni sosial dan rasa syukur terhadap sumber kehidupan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


