Advertisement
Wisata

Pasar Beringharjo: Legenda yang Tetap Menjadi Denyut Nadi Ekonomi dan Wisata Yogyakarta

Pasar Beringharjo di Yogyakarta, berdiri sejak 1758, tetap ramai dengan omzet Rp2 triliun/tahun. Ikon batik, kuliner, dan arsitektur Jawa-Kolonial. Destinasi wajib wisatawan yang padukan sejarah dan ekonomi.

TIMES Indonesia,
Pasar Beringharjo: Legenda yang Tetap Menjadi Denyut Nadi Ekonomi dan Wisata Yogyakarta
Suasana Pasar Beringharjo yang ada di Kawasan Jalan Malioboro Kota Yogyakarta. (FOTO: Yahya/TIMES Indonesia)
A-AA+

YOGYAKARTA Berdiri kokoh di jantung kota, tepatnya di Jalan Margo Mulyo No.16, Gondomanan, Pasar Beringharjo bukan sekadar tempat transaksi jual beli. Pasar ini adalah saksi bisu perjalanan sejarah, budaya, dan ekonomi Yogyakarta yang telah berlangsung selama berabad-abad, hingga kini tetap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kisah Pasar Beringharjo bermula pada tahun 1758, saat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat baru saja berdiri. Kawasan yang dulunya berupa hutan beringin lebat mulai dimanfaatkan warga sekitar untuk kegiatan perdagangan sederhana, sehingga dikenal dengan sebutan "Pasar Gedhe".

Advertisement

Baru pada tanggal 24 Maret 1929, di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, nama "Beringharjo" resmi diberikan. Kata "Bering" merujuk pada hutan beringin yang dulunya menaungi tempat ini, sedangkan "Harjo" berarti kesejahteraan. Nama ini bukan sekadar label, melainkan doa agar pasar ini selalu menjadi sumber rejeki dan ketenteraman bagi masyarakat.

Pembangunan pasar yang lebih tertata dimulai pada tahun 1925, saat Keraton bekerja sama dengan Nederlansch Indisch Beton Maatschappij, perusahaan beton asal Belanda. Hasilnya, bangunan dengan perpaduan arsitektur Jawa dan kolonial Belanda yang elegan namun tetap akrab hingga kini masih terjaga dengan baik.

Geliat Ekonomi yang Tetap Kuat

Meskipun zaman terus berubah dan muncul berbagai pusat perbelanjaan modern, Pasar Beringharjo tetap menunjukkan ketangguhannya. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, saat melakukan kunjungan kerja pada Selasa, 17 Maret 2026 lalu.

"Realita di lapangan sangat kontras dengan narasi 'mati suri' yang sering dilontarkan. Ternyata di sini masih ramai, omzetnya tinggi, perputarannya bisa sampai Rp2 triliun per tahun. Jadi kelihatannya tidak semati suri yang dibilang," ujar Menkeu Purbaya yang didampingi langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Data Dinas Perdagangan DIY mencatat, terdapat lebih dari 2.000 pedagang aktif yang beroperasi di pasar ini dengan rata-rata transaksi harian mencapai Rp5–6 miliar. Kontribusi pasar ini sangat besar terhadap perekonomian daerah, mengingat sektor UMKM sendiri menyumbang sekitar 60 persen terhadap PDRB DIY.

Advertisement

Ramai Pengunjung, Beragam Daya Tarik

Kehidupan di Pasar Beringharjo selalu terasa hidup. Pada hari biasa, jumlah pengunjung rata-rata mencapai sekitar 1.500 orang per hari. Namun, saat musim liburan seperti Lebaran atau Tahun Baru, angka ini bisa melonjak drastis.

Misalnya pada libur Lebaran 2026, puncak kunjungan mencapai 17.248 orang dalam satu hari. Bahkan hingga H+4 Lebaran, jumlah pengunjung masih stabil di kisaran 15.000–17.000 orang per hari. Tidak heran jika lorong-lorong pasar selalu dipenuhi keriuhan tawar-menawar dan aktivitas yang sibuk.

Apa yang membuat pengunjung betah? Jawabannya terletak pada keberagaman produk yang ditawarkan:

  • Batik dan Tekstil: Menjadi ikon utama pasar ini, tersedia berbagai jenis batik mulai dari batik tulis, cap, hingga kain dengan motif khas Yogyakarta dengan harga yang beragam.
  • Kuliner Khas: Di lantai dua terdapat sentra kuliner yang menawarkan berbagai jajanan legendaris. Baru-baru ini, Wingko dan Bakpia Ngasem menjadi primadona baru yang banyak dicari wisatawan karena rasanya yang autentik dan proses pembuatannya yang masih tradisional.
  • Kerajinan Tangan dan Aksesoris: Berbagai barang unik seperti perhiasan, tas, sepatu, hingga oleh-oleh khas Jogja bisa ditemukan dengan mudah.

Selain berbelanja, pengunjung juga bisa menikmati suasana bangunan bersejarah, beristirahat di kantin, atau melaksanakan ibadah di mushola yang tersedia. Kebersihan dan kenyamanan pasar juga terus dijaga agar pengunjung merasa nyaman.

“Belanja di Pasar Beringharjo produknya tak kalah dengan yang ada di mall, kualitasnya bagus dan harganya cukup terjangkau,” terang Anisa, seorang pengunjung Pasar Beringharjo, Minggu (3/5/2026).

Harapan untuk Masa Depan

Keberadaan Pasar Beringharjo membuktikan bahwa pasar tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan dukungan pemerintah dan semangat para pedagang yang terus berinovasi, pasar ini diharapkan tetap menjadi jantung ekonomi sekaligus ikon budaya yang membanggakan Yogyakarta di mata dunia.

Bagi siapa saja yang berkunjung ke Yogyakarta, singgah di Pasar Beringharjo adalah pengalaman yang tidak boleh dilewatkan—tempat di mana sejarah, budaya, dan kehidupan berpadu dalam satu harmoni yang indah. (*)

Pewarta: Yahya Haqul Mubin

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A Riyadi
PenulisA RiyadiSarjana Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2004) dan Magister Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (2016). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia