Bukit Paralayang Bantul Jadi Magnet Wisatawan, Eksotik Panorama bak Negeri di Atas Awan
Pesona Bukit Paralayang Parangtritis–Watugupit, ikon wisata baru Yogyakarta: panorama laut dan perbukitan, spot paralayang favorit, sunset spektakuler, serta menggerakkan ekonomi warga.
YOGYAKARTA – Pesona alam Yogyakarta memang seolah tidak pernah habis untuk dijelajahi. Salah satu destinasi yang kini semakin populer di kalangan wisatawan adalah kawasan Bukit Paralayang yang berada di wilayah Parangtritis hingga Watugupit, Gunungkidul. Tidak hanya menyuguhkan panorama laut dan perbukitan yang memukau, kawasan ini juga dikenal sebagai pusat olahraga udara yang menjadi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bukit Paralayang menjelma menjadi ikon wisata baru di Yogyakarta. Banyak wisatawan datang untuk menikmati sensasi terbang di atas garis pantai selatan, berburu sunset, hingga sekadar bersantai menikmati suasana alam dari ketinggian.
Namun di balik popularitasnya saat ini, Bukit Paralayang ternyata menyimpan sejarah panjang yang menarik untuk diketahui.
Berawal dari Bukit Biasa hingga Jadi Spot Paralayang Favorit
Salah satu lokasi yang paling terkenal adalah Bukit Paralayang Parangtritis yang berada di perbatasan Bantul dan Gunungkidul, Yogyakarta. Dahulu, kawasan ini hanyalah perbukitan biasa yang langsung menghadap Samudera Hindia.
Perkembangan kawasan tersebut mulai terlihat pada tahun 1991 ketika dibangun landasan beton pertama sebagai fasilitas olahraga paralayang. Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga udara, pembangunan terus dilakukan. Pada tahun 1998, fasilitas pendukung seperti pendopo bergaya joglo, tangga akses, serta area parkir mulai dibangun untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
Popularitas olahraga paralayang sendiri mulai berkembang di Indonesia sejak akhir 1980-an. Saat itu, sejumlah tokoh olahraga dirgantara mulai memperkenalkan aktivitas terbang menggunakan parasut yang dikenal dengan istilah “olahraga terjun gunung”.
Selain Parangtritis, kawasan lain yang juga terkenal adalah Bukit Paralayang Watugupit yang berada di Dusun Watu Gupit, Desa Girirejo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul.
Nama “Watugupit” berasal dari bahasa Jawa, yakni “watu” yang berarti batu dan “gupit” yang berarti terpotong. Nama tersebut merujuk pada formasi batuan di kawasan itu yang tampak seperti terbelah oleh aliran air.
Awalnya, bukit ini hanya dikenal warga sekitar sebagai lokasi menikmati panorama alam. Namun memasuki awal tahun 2000-an, kawasan tersebut mulai ramai dikunjungi para penggemar olahraga udara. Puncaknya terjadi pada tahun 2005 ketika lokasi itu resmi ditetapkan sebagai spot paralayang oleh Federasi Aero Sport Indonesia atau FASI.
Sejak saat itu, nama Bukit Watugupit semakin dikenal luas dan menjadi salah satu destinasi favorit olahraga paralayang di Indonesia.
Panorama Spektakuler yang Bikin Wisatawan Betah
Saat ini, kedua lokasi tersebut menawarkan pengalaman wisata yang berbeda namun sama-sama memanjakan mata.
Bukit Paralayang Parangtritis dikenal memiliki panorama garis pantai yang berpadu dengan deburan ombak Laut Selatan. Dari atas bukit, wisatawan dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang kerap disebut sebagai salah satu sunset terbaik di Yogyakarta.
Sementara itu, Bukit Watugupit menghadirkan panorama hijau berupa hamparan sawah, perbukitan, serta bentang laut luas yang terlihat begitu eksotis dari ketinggian.
Tak heran jika kawasan ini menjadi surga bagi pemburu foto estetik dan konten media sosial. Banyak pengunjung rela datang menjelang sore demi mendapatkan momen sunset yang dramatis dengan latar langit jingga.
Selain menjadi lokasi latihan atlet dan kompetisi paralayang, tempat ini juga ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati suasana santai bersama keluarga maupun pasangan.
Fasilitas wisata pun kini semakin lengkap. Area parkir luas, tempat duduk santai, gazebo, hingga kios UMKM yang menjual makanan khas dan minuman tersedia untuk memenuhi kebutuhan pengunjung.
Wisatawan Sebut Pemandangannya Mirip Luar Negeri
Daya tarik Bukit Paralayang tidak hanya dirasakan wisatawan lokal, tetapi juga pelancong dari luar daerah yang penasaran dengan keindahan alam Yogyakarta.
Salah satu wisatawan asal Malang mengaku terkesan dengan pengalaman yang didapat selama berada di lokasi.
“Paralayang di sini benar-benar worth it. Pemandangannya seperti di luar negeri. Instrukturnya juga ramah banget, bahkan ngajak foto pakai drone. Pokoknya recommended,” ujar salah satu backpacker yang berkunjung ke kawasan tersebut.
Sementara itu, pihak pengelola wisata menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Menurut pengelola, pengembangan kawasan wisata tidak hanya fokus pada sektor pariwisata, tetapi juga bertujuan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pemberdayaan UMKM dan lapangan kerja baru.
“Kami ingin Bukit Paralayang menjadi kebanggaan masyarakat Yogyakarta sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi warga sekitar,” ungkap perwakilan pengelola.
Bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan Bukit Paralayang secara maksimal, waktu terbaik untuk datang adalah pada pagi atau sore hari.
Pagi hari menawarkan udara segar dengan pemandangan laut dan perbukitan yang terlihat lebih jelas. Sedangkan sore hari menjadi waktu favorit wisatawan untuk menikmati sunset romantis dari atas bukit.
Dengan perpaduan sejarah panjang, olahraga ekstrem, serta panorama alam yang menawan, Bukit Paralayang Yogyakarta terus menjadi destinasi wajib bagi siapa saja yang berkunjung ke Kota Gudeg. (*)
Pewarta: Yahya Haqul Mubin
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


