Advertisement
Wisata

Bunker Kaliadem, Jejak Kelam Erupsi Merapi yang Kini Menjadi Wisata Edukasi Favorit

Bunker Kaliadem di lereng Merapi, saksi tragedi awan panas 2006, kini jadi wisata sejarah dan edukasi kebencanaan yang mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.

TIMES Indonesia,
Bunker Kaliadem, Jejak Kelam Erupsi Merapi yang Kini Menjadi Wisata Edukasi Favorit
Bunker Kaliadem yang menjadi wisata edukasi favorit di Kabupaten Sleman. (FOTO: Yahya/TIMES Indonesia)
A-AA+

YOGYAKARTA Di balik keindahan panorama Gunung Merapi yang memukau, tersimpan kisah kelam tentang dahsyatnya kekuatan alam yang pernah mengguncang lereng selatan gunung paling aktif di Indonesia tersebut. Salah satu saksi bisu tragedi itu adalah Bunker Kaliadem, bangunan beton yang kini menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Terletak di kawasan Kaliadem, Kelurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Bunker Kaliadem menjadi magnet wisata yang tidak hanya menawarkan pemandangan alam spektakuler, tetapi juga menyimpan cerita haru yang membekas dalam ingatan masyarakat Merapi.

Advertisement

Bunker Kaliadem dibangun Pemerintah Kabupaten Sleman pada tahun 2001 dan mulai diresmikan pada 2005. Saat itu, bangunan tersebut dirancang sebagai tempat perlindungan darurat bagi warga, relawan, peneliti, maupun petugas pemantau aktivitas Gunung Merapi ketika terjadi erupsi.

Dengan ukuran sekitar 7 meter panjang, 2,5 meter lebar, dan tinggi 2,5 meter, bunker dibangun menggunakan beton bertulang dengan ketebalan khusus yang diyakini mampu menahan panas ekstrem serta terjangan material vulkanik.

Fasilitas pendukung seperti pintu besi, ventilasi udara, tabung oksigen, hingga persediaan air disiapkan untuk menunjang keselamatan para penghuni saat kondisi darurat. Lokasinya yang berjarak sekitar lima kilometer dari puncak Merapi saat itu dianggap cukup aman dan strategis sebagai titik perlindungan.

Namun, kenyataan yang terjadi kemudian membuktikan bahwa kedahsyatan alam sering kali melampaui perhitungan manusia.

Bunker Kaliadem

Tragedi yang Mengubah Sejarah

Tanggal 14 Juni 2006 menjadi hari yang tak pernah dilupakan masyarakat sekitar Merapi. Saat itu, Gunung Merapi memuntahkan awan panas atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai wedhus gembel dengan suhu diperkirakan mencapai 500 hingga 700 derajat Celsius.

Awan panas meluncur dengan kecepatan tinggi, menerjang lereng gunung dan menghantam kawasan Kaliadem. Material vulkanik yang dibawa awan panas kemudian menutup akses masuk bunker hingga tertimbun rapat.

Di dalam bunker terdapat dua relawan yang sedang berlindung, yakni Sudarwanto atau yang akrab dikenal sebagai Kenteng dan Sarjono. Mereka masuk ke bunker dengan harapan bangunan tersebut mampu melindungi dari terjangan awan panas.

Namun harapan itu berubah menjadi tragedi.

Panas ekstrem yang berhasil menembus ruangan membuat suhu di dalam bunker meningkat drastis. Kedua relawan akhirnya ditemukan meninggal dunia dengan kondisi mengenaskan akibat luka bakar berat.

Proses evakuasi pun tidak mudah. Tiga hari setelah erupsi, suhu di dalam bunker masih sangat tinggi, berkisar antara 80 hingga 120 derajat Celsius. Tim penyelamat harus bekerja ekstra keras untuk mengevakuasi korban dari dalam bangunan yang saat itu dianggap sebagai benteng perlindungan terakhir.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah kebencanaan Merapi sekaligus menjadi bahan evaluasi penting terkait sistem mitigasi bencana vulkanik di Indonesia.

 

Kembali Tertimbun Saat Erupsi Besar 2010

Empat tahun setelah tragedi tersebut, Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dalam skala yang lebih besar.

Pada erupsi besar tahun 2010, kawasan Kaliadem kembali diterjang material vulkanik. Bunker yang telah menjadi bagian dari sejarah itu kembali tertimbun hingga kedalaman sekitar empat meter.

Tim gabungan bersama alat berat membutuhkan waktu sekitar 54 jam untuk menemukan dan membersihkan kembali lokasi bunker yang tertutup material vulkanik.

Peristiwa ini semakin menegaskan bahwa kawasan Kaliadem merupakan salah satu zona yang sangat rentan terhadap dampak erupsi Gunung Merapi.

 

Bertransformasi Menjadi Wisata Sejarah dan Edukasi

Seiring berjalannya waktu, fungsi Bunker Kaliadem berubah. Setelah melalui berbagai kajian, bangunan tersebut dinilai tidak lagi efektif digunakan sebagai tempat perlindungan darurat.

Pemerintah bersama masyarakat setempat kemudian mengembangkan kawasan ini sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi kebencanaan.

Kini pengunjung dapat memasuki bunker dan melihat langsung kondisi ruang perlindungan yang pernah menjadi saksi bisu tragedi erupsi Merapi. Beberapa batu besar sisa letusan masih terlihat di sekitar area, menambah kesan autentik dan dramatis.

Suasana gelap dan lembap di dalam bunker menghadirkan pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Banyak pengunjung mengaku merasakan nuansa mencekam sekaligus takjub saat membayangkan situasi yang terjadi ketika awan panas menerjang kawasan tersebut.

Tak hanya menawarkan wisata sejarah, lokasi ini juga menjadi salah satu titik terbaik untuk menikmati panorama Gunung Merapi dari jarak dekat. Hamparan lanskap pegunungan, udara sejuk, serta jejak-jejak erupsi menjadikan kawasan Kaliadem sebagai destinasi favorit wisatawan.

Bunker Kaliadem

Daya Tarik yang Memikat Wisatawan

Eva Dwi L, salah satu wisatawan yang berkunjung ke Bunker Kaliadem, mengaku terkesan dengan pengalaman yang diperoleh selama berada di lokasi tersebut.

“Wisata sejarah yang cukup menarik buat kami. Pemandangan Gunung Merapi sangat indah, hawanya sejuk, fasilitas toilet memadai, dan bisa diakses menggunakan kendaraan pribadi. Sekalian jalan-jalan, wisatawan juga bisa mampir ke Batu Alien, The Nice Playland, maupun The Lost World Castle,” ujar Eva, Senin (8/6/2026).

Selain menggunakan kendaraan pribadi, banyak wisatawan memilih menjelajahi kawasan Merapi dengan jeep wisata. Sensasi menyusuri jalur bekas aliran lava dan medan berbatu menjadi pengalaman yang banyak diminati pengunjung.

 

Menjaga Memori dan Edukasi Kebencanaan

Perwakilan Pengelola Wisata Bunker Kaliadem, Ghaluh, mengatakan pihaknya terus berupaya menjaga kawasan tersebut agar tetap menjadi sarana edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami berkomitmen menjaga Bunker Kaliadem sebagai tempat wisata yang edukatif dan aman. Selain memelihara bangunan asli, kami juga menyediakan pemandu yang dapat menjelaskan sejarah serta kisah di balik tempat ini. Harapannya, pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto, tetapi juga memperoleh pembelajaran tentang pentingnya menghormati alam dan memahami mitigasi bencana,” katanya.

Menurutnya, keberadaan Bunker Kaliadem bukan hanya menjadi aset wisata, tetapi juga media pembelajaran yang mengingatkan masyarakat bahwa hidup berdampingan dengan gunung api memerlukan kewaspadaan dan kesiapsiagaan yang tinggi.

 

Simbol Ketangguhan Lereng Merapi

Lebih dari sekadar bangunan beton, Bunker Kaliadem kini menjelma menjadi simbol ketangguhan masyarakat lereng Merapi dalam menghadapi ancaman bencana alam yang datang sewaktu-waktu.

Kisah pilu yang pernah terjadi di tempat tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi dan infrastruktur memiliki keterbatasan di hadapan kekuatan alam. Namun di sisi lain, tragedi itu juga melahirkan semangat untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperkuat sistem mitigasi bencana.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Sleman, Bunker Kaliadem bukan hanya destinasi untuk menikmati keindahan Merapi. Tempat ini adalah ruang refleksi, tempat di mana sejarah, edukasi, dan penghormatan terhadap alam bertemu dalam satu kawasan yang sarat makna. (*)

 

Pewarta: Yahya Haqul Mubin

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Soni Haryono
PenulisSoni HaryonoSarjana Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta (1993). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia