Jembatan Kaca Bromo Siap beroperasi Akhir Juni dengan SOP Ketat
Wisatawan yang akan berlibur ke Gunung Bromo, Probolinggo pada akhir Juni ini mendapat satu opsi baru. Jembatan kaca Bromo dipastikan mulai beroperasi. Pengelola menegaskan kesiapan mereka dalam mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.
PROBOLINGGO – Wisatawan yang akan berlibur ke Gunung Bromo, Probolinggo pada akhir Juni ini mendapat satu opsi baru. Jembatan kaca Bromo dipastikan mulai beroperasi. Pengelola menegaskan kesiapan mereka dalam mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.
CV. Sinergi Permata Semesta, anggota The Lawu Group, resmi menandatangani perjanjian sewa aset dengan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) pada Kamis (11/6/2026). Proses serah terima ini menjadi pintu terakhir sebelum jembatan kaca tersebut dibuka untuk umum.
Yang menarik, pengelola jembatan kaca Bromo bukanlah operator baru. Mereka sudah memiliki pengalaman mengoperasikan jembatan kaca di Kemuning Sky Hill, Jawa Tengah.
Direktur Utama CV. Sinergi Permata Semesta, Achmad Ridho, mengakui bahwa pengalaman itu menjadi bekal penting. Tapi ia menegaskan, faktor utama yang diutamakan bukanlah pengalaman semata, melainkan kepatuhan terhadap SOP.
“Dalam operasional jembatan kaca ini, kami tetap akan mengikuti segala SOP yang sudah ada. Meskipun pada dasarnya kami telah berpengalaman di Kemuning Sky Hill,” ujar Ridho usai penandatanganan perjanjian.
SOP yang dimaksud adalah ketentuan teknis dari Balai Geoteknik, Terowongan, dan Struktur (BGTS). Aturan itu mengikat secara rinci, mulai dari ketahanan material kaca, batas maksimal beban pengunjung setiap sesi, hingga prosedur evakuasi darurat. Dengan pengalaman yang telah dimiliki, pengelola dinilai lebih siap dibandingkan operator yang benar-benar baru dalam hal kepatuhan dan antisipasi risiko.
Perjanjian sewa aset Barang Milik Negara ini berlaku selama lima tahun, terhitung sejak 11 Juni 2026 hingga 10 Juni 2031. Kepala BBTNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha menyebut, seluruh aset yang disewakan akan dimanfaatkan untuk aktivitas wisata alam. Aset tersebut meliputi tanah area jembatan kaca seluas 2.429 meter persegi, bangunan shuttle area dan sarana pendukung seluas 791 meter persegi, serta jembatan pejalan kaki struktur lantai kaca seluas 360 meter persegi yang berada di jalan kabupaten Probolinggo.
Rudijanta menambahkan, pemanfaatan aset ini merupakan tindak lanjut dari serah terima dari Kementerian Pekerjaan Umum kepada Kementerian Kehutanan pada Oktober 2025. Infrastruktur itu dibangun untuk mendukung pengembangan kawasan strategis pariwisata nasional sekaligus memperkuat daya tarik wisata alam di kawasan konservasi.
Pengelolaan jembatan kaca juga menjadi bentuk sinergi antara BBTNBTS dengan Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengoptimalkan pengelolaan kawasan, meningkatkan kualitas pelayanan wisata, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengesampingkan prinsip konservasi.
Achmad Ridho yang juga menjabat General Manager The Lawu Group menyatakan, pihaknya akan segera melakukan inspeksi dan perawatan pra operasional. Targetnya, sebelum musim libur sekolah akhir bulan ini, jembatan kaca Bromo sudah bisa melayani pengunjung.
Selain kepatuhan terhadap SOP, The Lawu Group berkomitmen melestarikan kawasan konservasi dan memberdayakan sumber daya manusia serta UMKM setempat. Prioritas utama diberikan kepada warga di kawasan Bromo. Kemajuan wisata, kata Ridho, harus beriringan dengan kesejahteraan ekonomi bersama. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


