Lebih Tua dari Borobudur, Situs Perahu Kuno Abad Ke-7 di Rembang Jadi Magnet Peneliti dan Wisatawan Manca
Cagar budaya yang merekam jejak kejayaan maritim Nusantara ini dinilai memiliki usia yang lebih tua dari Candi Borobudur.
REMBANG – Situs perahu kuno abad ke-7 hingga ke-8 Masehi yang terletak di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menjadi magnet bagi para peneliti dan wisatawan.
Hal tersebut karena cagar budaya yang merekam jejak kejayaan maritim Nusantara ini dinilai memiliki usia yang lebih tua dari Candi Borobudur.
Situs ini berada di sebuah ruang pamer khusus berbentuk aula berpagar besi, lengkap dengan panel informasi yang memaparkan kronologi penemuan hingga proses konservasinya.
Juru Pelihara Situs Perahu Kuno Punjulharjo, Muhammad Iksan menceritakan bahwa situs bersejarah ini ditemukan secara tidak sengaja oleh warga setempat pada Sabtu, 26 Juli 2008 silam, sekira pukul 07.30 WIB.
Saat itu pemilik lahan sedang melakukan penggalian tanah sedalam dua meter untuk mengalihfungsikan lahannya menjadi tambak garam.
"Tiba-tiba cangkul warga menyentuh benda keras yang awalnya disangka batang pohon tumbang," kata Iksan saat ditemui di Wisata Prahukuno, Senin (29/6/2026).
Ia menambahkan, perahu dengan panjang sekitar 15 meter tersebut ditemukan dalam kondisi yang relatif utuh pada jarak sekitar 500 meter dari garis pantai.
Awalnya, warga sempat berencana menjual kayu tersebut, namun pedagang kayu yang datang menolak karena menduga kuat bahwa benda tersebut merupakan cagar budaya yang dilindungi undang-undang.
Pemerintah Desa Punjulharjo kemudian melaporkan temuan ini ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang serta Balai Arkeologi. Langkah ekskavasi dan penelitian arkeologis pun segera dilakukan.
Berdasarkan analisis laboratorium terhadap sampel tali ijuk perahu oleh Balai Arkeologi, dipastikan bahwa perahu tersebut berasal dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi.
Teknologi pembuatannya menggunakan teknik papan ikat dan kupingan pengikat (sewn-plank and lashed-lug technique), yaitu teknik khas Asia Tenggara masa lampau yang mengandalkan ikatan tali ijuk dan pasak kayu tanpa paku besi.
Selain struktur utama perahu, proses ekskavasi juga berhasil mengamankan sejumlah artefak pendukung aktivitas pelayaran masa lalu, seperti alat-alat memasak (paui), kendi, serta fragmen tulang hewan yang diduga kuat sebagai bekal perjalanan para pelaut.
Konservasi Berkelanjutan
Mengingat kondisi kayu perahu yang sudah berabad-abad terendam di lahan basah, dinding sel kayu menjadi rapuh dan jenuh air.
Jika dikeringkan secara konvensional, material kayu dipastikan akan menyusut dan pecah secara ekstrem.
Oleh karena itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya melakukan tindakan konservasi bertahap dari tahun 2011 hingga 2018.
Pada 2011, dimulai proses perendaman menggunakan larutan Polyethylene Glycol (PEG) untuk menggantikan kandungan air di dalam sel kayu agar strukturnya tetap stabil saat mengering.
Tahun berikutnya, pihak terkait membangun tanggul penahan air pasang dan tanggul pengaman di sekeliling situs untuk mencegah erosi.
Proses perendaman intensif menggunakan larutan PEG 4000 dengan konsentrasi hingga 35 persen disertai pemanasan suhu 60 derajat Celsius terus berjalan hingga mencapai puncaknya pada 2017.
Tahap akhir konservasi diselesaikan pada 2018 dengan membersihkan sisa-sisa bahan kimia dan membongkar mangkuk pemrosesan (treatment), yang kemudian dilanjutkan penataan kawasan situs pasca-konservasi pada 2019.
Potensi Wisata dan Edukasi
Kini, Situs Perahu Kuno Punjulharjo telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Rembang.
Tingkat kunjungan wisatawan tercatat mencapai 800 hingga 1.500 orang per bulan, yang didominasi oleh masyarakat umum, pelajar, hingga mahasiswa.
"Pengunjung tidak hanya datang dari lingkup lokal atau luar Jawa saja, tetapi juga dari luar negeri seperti Belanda, Prancis, dan Jepang," ujar Iksan.
Iksan berharap pemerintah daerah dan instansi terkait terus memberikan perhatian penuh terhadap pelestarian situs ini.
Penemuan perahu kuno ini menjadi bukti otentik bahwa pada abad ke-7, peradaban Nusantara yang saat itu beriringan dengan masa Mataram Kuno dan Sriwijaya telah menguasai teknologi maritim yang maju untuk jalur perdagangan rempah-rempah dan kapur barus.
"Sebagai warga Rembang kita layak bangga, karena situs perahu dengan kelengkapan seperti ini sangat langka di Indonesia bahkan di Asia. Semoga ke depan situs ini bisa semakin dikenal luas secara internasional," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


