Pengunjung Gunung Raung Bondowoso Membeludak, Jalur Klasik Jadi Primadona
Musim libur, jalur klasik pendakian Gunung Raung via Sumberwringin dipadati ratusan pendaki, menggerakkan ekonomi warga dengan tetap mengutamakan SOP keselamatan.
BONDOWOSO – Musim libur membawa berkah bagi jalur pendakian klasik Gunung Raung melalui Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, Jawa Timur. Jumlah pendaki yang datang pada periode liburan kali ini melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan akhir pekan biasa.
Jika pada akhir pekan normal jumlah pendaki hanya berkisar puluhan orang, kini ratusan orang memadati jalur menuju gunung setinggi sekitar 3.332 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang berada di perbatasan Kabupaten Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember tersebut.
Salah satu pengelola pendakian Gunung Raung, Kurniawan mengatakan, lonjakan kunjungan tidak hanya berasal dari pendaki lokal maupun Jawa Timur. Jalur klasik Raung juga menarik perhatian pendaki dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
"Pendaki paling jauh dari Indonesia ada empat orang yang datang dari Papua. Selain itu juga ada dari Sulawesi dan beberapa negara di Eropa," katanya, Sabtu (11/7/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Cadas tersebut, para pendaki memiliki pola perjalanan yang beragam. Sebagian memilih bermalam dengan mendirikan tenda di area yang diperbolehkan, sementara lainnya memilih pendakian sistem tek-tok, yakni naik dan turun dalam satu perjalanan tanpa menginap.
Daya tarik utama Gunung Raung, kata dia, adalah panorama matahari terbit dari ketinggian serta pemandangan megah Kaldera Kawah Raung yang menjadi lokasi favorit untuk berfoto.
Status Raung sebagai salah satu puncak dalam daftar Seven Summits Pulau Jawa juga menjadi magnet tersendiri bagi para pecinta alam.
"Raung menjadi salah satu tujuan yang ingin ditaklukkan para pendaki karena termasuk Seven Summits Pulau Jawa," ujarnya.
Meski jumlah pengunjung meningkat signifikan, pengelola memastikan seluruh aktivitas pendakian tetap mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku.
Hal itu kata dia, dilakukan untuk menjaga keselamatan, terutama karena semakin banyak pendaki pemula yang mencoba jalur tersebut.
Setiap calon pendaki diwajibkan mengikuti briefing sebelum keberangkatan. Dalam pengarahan itu, petugas juga mengingatkan peserta agar membawa obat-obatan pribadi apabila memiliki riwayat penyakit tertentu.
"Sebelum naik semua mengikuti briefing. Kalau memiliki riwayat penyakit, wajib membawa obat-obatan pribadi sesuai kebutuhannya," jelas Kurniawan.
Sementara itu, Camat Sumberwringin Probo Nugroho menilai meningkatnya kunjungan pendaki membawa dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Jasa ojek menuju Pos Pondok Motor menjadi salah satu sektor yang paling merasakan manfaat. Pada akhir pekan, satu pengemudi ojek bahkan dapat memperoleh pendapatan hingga sekitar Rp500 ribu dalam sehari.
Selain itu, warga juga memperoleh tambahan penghasilan dari jasa pemandu pendakian, penyewaan perlengkapan, hingga penginapan yang sebagian besar dikelola masyarakat setempat.
"Perputaran ekonomi masyarakat ikut bergerak seiring meningkatnya aktivitas pendakian," katanya.
Probo berharap popularitas jalur klasik Gunung Raung terus meningkat dan diimbangi dengan pengembangan fasilitas pendukung serta pelestarian lingkungan. Ia mengapresiasi kegiatan bersih gunung yang rutin dilakukan BUMDes Raung Asri dan berharap program tersebut dapat terus berlanjut.
Di sisi lain, ia mengingatkan seluruh pendaki untuk selalu memperhatikan informasi aktivitas vulkanik Gunung Raung sebelum melakukan pendakian.
"Status aktivitas Gunung Raung dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, pendaki harus selalu mematuhi arahan petugas pos pengamatan dan pihak berwenang demi keselamatan bersama," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


