Advertisement
Wisata

Turis China ke Jepang Merosot 56 Persen, Ketegangan Diplomatik Jadi Pemicu

Jumlah wisatawan China ke Jepang merosot lebih dari 50 persen pada paruh pertama 2026. Penurunan tajam ini dipicu memburuknya hubungan diplomatik Tokyo dan Beijing setelah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terkait Taiwan.

TIMES Indonesia,
Turis China ke Jepang Merosot 56 Persen, Ketegangan Diplomatik Jadi Pemicu
Suasana kawasan belanja di Tokyo yang menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan mancanegara. Berkurangnya turis China mulai dirasakan pelaku industri pariwisata dan ritel Jepang.
A-AA+

JAKARTA Industri pariwisata Jepang menghadapi tantangan baru pada 2026. Salah satu pasar wisata terbesar mereka, yakni China, mengalami penurunan drastis. Dalam enam bulan pertama tahun ini, jumlah wisatawan asal Negeri Tirai Bambu yang berkunjung ke Jepang turun lebih dari separuh dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dilansir dari Antara yang mengutip Kyodo, jumlah wisatawan China yang datang ke Jepang hanya mencapai sekitar 2,06 juta orang, atau turun 56,4 persen secara tahunan. Penurunan tersebut menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa tahun terakhir dan langsung memengaruhi kinerja sektor pariwisata Jepang.

Advertisement

Selama bertahun-tahun, China menjadi salah satu penyumbang wisatawan asing terbesar ke Jepang. Wisatawan asal negara itu dikenal memiliki tingkat belanja tinggi, mulai dari produk fesyen, kosmetik, elektronik hingga kuliner. Karena itu, penurunan jumlah pengunjung dari China langsung terasa bagi pelaku usaha pariwisata, hotel, pusat perbelanjaan, hingga maskapai penerbangan.

Meski pasar China melemah, Jepang masih mampu mempertahankan arus kunjungan wisatawan dari negara lain. Data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO) menunjukkan jumlah wisatawan asing secara keseluruhan mencapai 21,1 juta orang pada semester pertama 2026. Angka tersebut memang turun sekitar 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, namun penurunannya jauh lebih kecil berkat meningkatnya kunjungan dari Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat.

Pada Juni 2026 saja, Jepang menerima sekitar 3,15 juta wisatawan mancanegara. Namun, angka itu juga masih turun 6,8 persen dibandingkan Juni tahun sebelumnya. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa hilangnya pasar China belum sepenuhnya dapat ditutup oleh pertumbuhan wisatawan dari negara lain.

Penurunan kunjungan wisatawan China tidak terjadi tanpa sebab. Memburuknya hubungan diplomatik Tokyo dan Beijing menjadi faktor utama yang memengaruhi minat masyarakat China untuk berlibur ke Jepang.

Ketegangan meningkat setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyampaikan pernyataan mengenai kemungkinan dampak penggunaan kekuatan militer China terhadap Taiwan. Menurut Takaichi, situasi tersebut berpotensi menjadi ancaman bagi keamanan Jepang. Pernyataan itu kemudian ditegaskan kembali sebagai sikap resmi pemerintah Jepang.

Advertisement

Respons Beijing datang tidak lama kemudian. Pemerintah China mengeluarkan imbauan kepada warganya agar menghindari perjalanan wisata ke Jepang. Imbauan tersebut diikuti gelombang pembatalan perjalanan, pengurangan penerbangan, hingga penyesuaian layanan dari sejumlah maskapai China.

Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pariwisata. Berbagai analisis sebelumnya memperkirakan penurunan wisatawan China dapat mengurangi pendapatan industri perjalanan Jepang hingga miliaran dolar apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama.

Meski menghadapi tekanan, pemerintah Jepang dan pelaku industri wisata terus berupaya menjaga daya tarik destinasi mereka di mata wisatawan internasional. Promosi ke pasar Asia lainnya, Amerika Utara, dan Eropa diperkuat untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu negara.

Pertumbuhan kunjungan dari Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat menjadi sinyal positif bahwa Jepang masih memiliki daya tarik kuat sebagai destinasi wisata global. Namun, pasar China tetap memiliki peran strategis karena kontribusinya yang besar terhadap belanja wisata.

Situasi ini sekaligus menunjukkan bahwa hubungan diplomatik dapat memberikan dampak langsung terhadap sektor ekonomi. Ketika hubungan antarnegara memanas, industri pariwisata menjadi salah satu sektor pertama yang merasakan efeknya.

Kini, pelaku usaha wisata di Jepang berharap hubungan Tokyo dan Beijing dapat kembali membaik. Dengan pulihnya kepercayaan wisatawan China, sektor pariwisata Jepang berpeluang kembali mencatat pertumbuhan yang lebih kuat pada tahun-tahun mendatang.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizal Dani P
PenulisRizal Dani PSarjana Ekonomi Manajemen Universitas Merdeka Malang (2022). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia