Cek Fakta Fakta atau Hoaks

[CEK FAKTA] Salah, Bahaya ADE pada Vaksin Covid-19

Senin, 27 September 2021 - 10:12 | 60.07k
Unggahan tangkapan layar disertai narasi mengenai bahaya ADE (Antibody Dependent Enhancement) pada vaksin Covid-19.
Unggahan tangkapan layar disertai narasi mengenai bahaya ADE (Antibody Dependent Enhancement) pada vaksin Covid-19.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beredar unggahan mengenai potensi bahaya ADE (Antibody Dependent Enhancement) pada vaksin Covid-19. Unggahan berupa tangkapan layar disertai narasi itu beredar di media sosial Facebook.

Akun Zena M Dzarqi (https://www.facebook.com/asmaul.husnah.71465572)  mengunggah tangkapan layar tersebut. Dia  mengunggah tangkapan layar seorang pria yang tertulis sebagai Ketua Tim Riset Corona & Formulasi Vaksin PNF, Chairul Anwar Nidom. Dalam tangkapan layar itu terdapat logo stasiun TV CNN Indonesia. Dalam tangkapan layar titu terdapat tulisan: 

Advertisement

gimana nasib saudara kami yg udah di vaksinasi
ternyata vaksinasi beresiko tinggi

Akun Zena M Dzarqi juga menyertakan narasi sebagai berikut:

Bagaimana kalau sudah begini...ini Dokter peneliti yg ngomong di Transmedia....sialan, ternyata; #VAKSINASI_BERISIKO_TINGGI_DAN_MENYEBABKAN_KEMATIAN 

cek fakta bahaya ADE vaksin covidSumber: Facebook (https://www.facebook.com/asmaul.husnah.71465572/posts/341154384386504)

CEK FAKTA

Tim Cek Fakta TIMES Indonesia menelusuri sumber dengan menggunakan kata kunci tertentu sebagaimana tertera pada tangkapan layar tersebut.

Kami menemukan video yang identik dengan tangkapan layar yang diunggah akun Zena M Dzarqi.
Video tersebut berjudul Potensi Bahaya Vaksin Covid-19 yang diunggah pada 18 September 2020.

Dalam video tersebut menjelaskan tentang penelitian dari Professor Nidom Foundation mengenai 40 virus Covid-19 asal Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara serta Wuhan. Hasilnya, virus yang diteliti memiliki motif Antibody Dependent Enhancement (ADE) dan 57,5% mengalami mutasi dari virus Covid-19 dari Wuhan. 

Prof Nidom menjelaskan adanya fenomena ADE dapat menyebabkan virus yang kembali masuk ke tubuh semakin ganas setelah vaksinasi dikarenakan sistem antibodi tubuh merespon virus dengan mengikat virus tersebut sehingga virus lainnya dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh.

cek fakta bahaya ADE vaksin covid 2Sumber: VIDEO: Potensi Bahaya Vaksin Covid-19 | CNN Indonesia

Selanjutnya, kami menelusuri terkait informasi potensi bahaya ADE (Antibody-dependent enhancement) pada vaksin Covid-19. Kami menemukan pernyataan berupa bantahan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Kami menemukannya pada artikel Cek Fakta TIMES Indonesia yang dipublikasikan pada 19 Juli 2021 berjudul: [CEK FAKTA] Vaksin Covid-19 Berbahaya.

Ketua PB IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dr Daeng Mohammad Faqih membantah adanya reaksi ADE setelah vaksinasi Covid-19 dikarenakan vaksin Sinovac sudah diuji klinis oleh PT Bio Farma dan peneliti dari Universitas Padjajaran. Hasil dari penelitian tersebut tidak ditemukan adanya reaksi ADE dan telah dilaporkan ke BPOM.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Unpad Kusnandi Rusmil juga membantah hal tersebut. Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad ini menyatakan fenomena ADE sejauh ini baru terlihat pada dengue. Fenomena ADE pada kasus MERS, SARS, Ebola, dan HIV pun juga hanya ditemukan in silico (simulasi komputer) dan in vitro (percobaan di cawan petri laboratorium).

Menurutnya, pada uji klinis saat ini, tidak ditemukan adanya efek samping serius yang disebabkan oleh vaksin maupun vaksinasi, termasuk pada uji klinis fase 1 dan 2 sebelumnya. Kusnandi menambahkan dalam penelitian vaksin COVID-19 yang dilakukan di dunia, saat ini lebih dari 140 calon vaksin sudah dibuat, sebagian di antaranya sudah dalam tahap uji klinis pada manusia.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menegaskan tidak ditemukan fenomena Antibody Dependent Enhancement (ADE) pada semua jenis vaksin Covid-19 yang didistribusikan secara global, termasuk vaksin virus Corona yang beredar di Indonesia.

Ketua Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI, Iris Rengganis, menegaskan bahwa fenomena ADE hanya ditemukan pada vaksin dengue atau demam berdarah.

"Pada vaksin Covid-19 tidak ditemukan ADE, yang ada pada vaksin dengue atau demam berdarah. Untuk yang beredar saat ini mulai dari Sinovac, Sinopharm, Cansino, yang akan masuk, Sputnik AstraZeneca, Moderna, Pfizer dan lainnya yang ada di dunia semua tidak ada ADE-nya," katanya.

cek fakta bahaya ADE vaksin covid 3Sumber: [CEK FAKTA] Vaksin Covid-19 Berbahaya | TIMES Indonesia

KESIMPULAN

Menurut hasil penelusuran Tim Cek Fakta TIMES Indonesia, klaim potensi bahaya ADE (antibody-dependent enhancement) pada vaksin Covid-19 adalah salah. Klaim tersebut dibantah oleh para ahli.
 
Menurut misinformasi dan disinformasi yang dikategorikan First Draft, informasi tersebut masuk dalam kategori misleading content (konten menyesatkan). Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.
 
Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

----

Cek Fakta TIMES Indonesia

TIMES Indonesia adalah media online yang sudah terverifikasi faktual di Dewan Pers. Dalam kerja melakukan cek fakta, TIMES Indonesia juga bekerja sama dengan 23 media nasional dan lokal, untuk memverifikasi berbagai informasi hoaks yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA TIMES Indonesia di email: [email protected] atau [email protected] (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Fakta atau hoaks?
Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini.

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES