Ekonomi

Harga Jual Tembakau Probolinggo Tembus Rp52 Ribu, Petani: Pupuk Sulit dan Mahal

Senin, 26 September 2022 - 12:48 | 31.12k
Salah satu petani tembakau di Paiton, Kabupaten Probolinggo sedang melipat tembakau untuk dirajang.(Foto: Dicko W/TIMES Indonesia)
Salah satu petani tembakau di Paiton, Kabupaten Probolinggo sedang melipat tembakau untuk dirajang.(Foto: Dicko W/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Harga jual tembakau di tingkat petani di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, di musim tanam 2022 saat cukup mahal. Harga jualnya berkisar Rp 38 ribu hingga Rp 52 ribu per kilogram. Meski begitu, sebagian besar petani tembakau mengeluhkan mahalnya harga pupuk bersubsidi jenis urea dan sulit untuk didapat.  

Menurut sejumlah petani tembakau di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, kondisi cuaca saat cukup memungkinkan sehingga membuat tanaman tembakau menghasilkan kualitas yang bagus, tidak sama dengan tahun sebelumnya. Tanaman tembakau tahun ini tidak diserang yang namanya penyakit, seperti ulat dan penyakit lainnya.

Advertisement

“Harga jual tembakau memang mahal tahun ini, harganya berkisar Rp 38 ribu sampai Rp 52-54 ribu per kilogramnya. Tapi, meskipun harga jualnya mahal, harga pupuk bersubsidi jenis urea sangat mahal dan itupun sulit untuk didapat, saat awal tanam,” kata Syarif, salah satu petani tembakau di Paiton, Senin (26/9/2022).

Syarif bilang, jika dibandingkan dengan perawatan dan harga pupuk yang mahal, harga jual tembakau Rp 50 ribu bukan suatu keuntungan yang luar biasa bagi para petani, karena biaya perawatan dari awal tanam sangat banyak.

“Harga pupuk jenis urea saat awal tanam mencapai Rp 420 ribu per sak (50 kilogram). Sedangkan kebutuhan pupuk kalau tanaman tembakau menghabiskan banyak. Harga jual tembakau mahal, tapi harga pupuk juga mahal. Banyak petani yang mengeluhkan hal itu,” paparnya.

Rosadi, petani lainnya di Paiton, juga mengungkapkan hal yang sama. Jika tanaman tembakau luas kata dia, maka biaya perawatan dan kebutuhan pupuknya juga semakin banyak. Jika harga pupuk masih berkisar Rp 400 ribu lebih, hasil panen tembakaunya tentu menipis.

“Bagi yang tidak tahu tentang tanam tembakau, mereka menganggap tahun ini adalah berkah bagi petani tembakau. Memang berkah dengan harga segitu, tapi bagaimana dengan harga pupuk dan sulit untuk didapatkannya,” kata Rosadi, saat ditemui di sawah miliknya, di Desa Karanganyar, Paiton.  

Petani-tembakau.jpgPanen tembakau sudah mencapai daun atas milik petani di Paiton, Kabupaten Probolinggo.(Foto: Dicko W/TIMES Indonesia)

Diketahui, dalam Keputusan Menteri Pertanian No. 771//KPTS/SR.320/M/12/2021 tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi, didapati harga sebagai berikut, Pupuk Urea sebesar 2.250/Kg, SP-36 2.400/Kg, ZA 1.700/Kg, NPK 2.300/Kg, Pupuk Organik 800/Kg,  dan Pupuk Organik Cair sebesar 20.000/Liter.

Sementara berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, harga tembakau saat ini berkisar di angka Rp 35 ribu hingga Rp 52 ribu perkilogram. Tergantung kualitas dari pada tembakau itu sendiri. Harga itu juga dibandrol pada tembakau jenis Paiton VO.

Harga tersebut dipasarkan pada tembakau yang berada di 9 kecamatan, yaitu Kecamatan Pakuniran, Paiton, Kotaanyar, Besuk, Krejengan, Pajarakan, Maron, Gading, dan Kraksaan.

Harga itu akan terus bertambah mahal di panen tembakau selanjutnya. Biasanya, di tanaman tembakau ini, petani bisa panen hingga 3-4 kali panen. Namun karena cuaca kurang baik, rata-rata saat ini petani bisa panen hingga 3 kali saja. Setiap kali panen harga yang ditawarkan berbeda-beda.

Karena anomali cuaca ini, produktifitas tembakau menurun dan sulit untuk memenuhi target daerah. Areal tanam pun tidak bisa terpenuhi lantaran banyak petani yang alih penanaman. Itu sebabnya, harga tembakau saat ini meroket dan cukup mahal.

Saiful Najib, petani tembakau asal Desa/Kecamatan Krejengan, mengungkapkan. Harga tembakaunya di panen pertama terjual dengan harga Rp 47 ribu perkilogram. Pada panen kedua, tembakaunya terjual di harga Rp 52 ribu perkilogram. Sedangkan di panen ketiga ini, tembakaunya dibandrol dengan harga Rp 57 ribu perkilogram.

Sekadar informasi, berdasarkan Analisis Data Tembakau Jawa Timur 2018 yang dirilis BPS Jatim, Kabupaten Probolinggo merupakan penghasil tembakau nomor empat di Jatim. Produksi tembakau Probolinggo sebanyak 10.042 ton pada tahun 2018.

Di atas Kabupaten Probolinggo, ada Kabupaten Sumenep dengan produksi 13.135 ton. Kemudian Kabupaten Jember dengan produksi 13.391 ton. Adapun penghasil tembakau tertinggi adalah Kabupaten Pamekasan dengan produksi 27.508 ton.

Tahun ini, areal tanam tembakau Probolinggo jenis Paiton VO di Kabupaten Probolinggo seluas 6.833 hektar, produksi yang sedang berlangsung mencapai 3.636 ton.

Namun, sebagian petani tembakau di Paiton, Kabupaten Probolinggo, meski harga jual tembakau tinggi, namun mereka mengeluhkan mahalnya harga pupuk bersubsidi dan sulit didapat pada saat masa awal tanam, sehingga banyak mengeluarkan biaya.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Muhammad Iqbal
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES