Ekonomi

Harga Bahan Baku Mahal, Pengrajin Tempe Mogok Produksi

Senin, 31 Oktober 2022 - 22:19 | 16.61k
Tumpukan papan yang biasanya berisi tempe-tempe yang sedang difermentasi terlihat kosong di kediaman salah seorang perajin tempe asal Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Sabtu (29/10/2022). (FOTO: Fani Ferdiansyah/TIMES Indonesia) 
Tumpukan papan yang biasanya berisi tempe-tempe yang sedang difermentasi terlihat kosong di kediaman salah seorang perajin tempe asal Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, Sabtu (29/10/2022). (FOTO: Fani Ferdiansyah/TIMES Indonesia) 

TIMESINDONESIA, GARUT – Sejak hari Sabtu kemarin (29/10/2022), tempe sulit ditemukan di sejumlah pasar di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hilangnya keberadaan makanan berbahan dasar kedelai itu disebabkan karena para pengrajin tempe melakukan aksi mogok produksi. 

Berdasarkan informasi dari paguyuban pengrajin tempe, aksi mogok produksi ini akan berjalan selama tiga hari dari hari Sabtu 29 Oktober 2022 hingga Senin 31 Oktober 2022.

Advertisement

Salah satu pengrajin tempe asal Kecamatan Pangatikan, Robal Amin (25) mengatakan, penyebab aksi mogok produksi karena harga bahan baku tempe yang tidak stabil.

"Harga bahan baku tempe sekarang tidak stabil. Di mana dulu sekitar Rp9 ribu, namun semakin ke sini naik tidak menentu dari Rp13 ribu hingga Rp14 ribu. Untuk itu, semua pengrajin tempe menggelar aksi mogok produksi selama 3 hari," ujar Amin, Senin (31/10/2022). 

Tumpukan-papan-2.jpg

Amin memaparkan, saat ini harga jual tempe di pasaran masih relatif tetap. Sedangkan harga bahan baku terus mengalami kenaikan. Sehingga hal tersebut menjadi kendala bagi para pengrajin tempe.

"Kami jadi kesulitan untuk berproduksi. Kami tidak mungkin secara spontan menaikkan harga jual. Pembeli juga pasti berpikir kalau harga tempe menjadi mahal," paparnya.

Bahkan untuk saat ini, menurut Amin, daya beli tempe di pasaran berkurang. Ia pun mengurangi produksi tempe, dari biasanya 1,2 kwintal kini menjadi 70 kilogram.

"Saat ini saya beli masyarakat pada tempe jelas berkurang. Ketika kami menaikkan harga per potong Rp500, pembeli yang biasanya beli tempe Rp20 ribu, jadi Rp15 ribu," imbuh Amin.

Ia berharap di tengah kesulitan yang dihadapi para perajin tempe, pemerintah bisa menangani dengan cara menstabilkan harga kedelai. Agar para perajin bisa menentukan patokan modal pasti untuk memproduksi tempe.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (Disperindag ESDM) Garut, Nia Gania Karyana, menuturkan, kelangkaan dan naiknya harga kedelai ini menjadi masalah nasional.

Ia menjelaskan ada tiga faktor kelangkaan dan mahalnya kedelai. Pertama kelangkaan kapal kargo dari negara luar ke Indonesia, kemudian kelangkaan kontainer serta adanya faktor geopolitis.

"Jika kita memecahkan per kabupaten agak sulit karena kebijakannya berada di Kementerian Perdagangan, dan ekspor impor. Menurut informasi dari Departemen Pertanian, kebutuhan kedelai diperkirakan sekitar 2.842.222 ton per tahun, ini bergantung kepada negara Amerika atau negara luar," jelsnya.

Permasalahan harga kedelai ini, tambah Nia, menjadi dilema tersendiri. Berdasarkan keterangan dari Kadisperindag ESDM Garut, jika kedelai impor mampu menjual ke Indonesia dengan harga Rp5 ribu, maka para petani kedelai lokal tidak akan mampu menjual dengan harga yang sama.

"Ini satu kondisi yang sebetulnya sangat menyakitkan. Tatkala impor kedelai menjadi prioritas, sementara kacang kedelai kita tidak mampu memiliki daya saing. Dan ini menjadi tugas kita bersama," katanya.

Berkaitan dengan kelangkaan tempe di pasaran, ia menilai masih ada pedagang-pedagang tempe yang berdagang walaupun para pengrajin mengurangi dari sisi kuantitas produksinya.

"Kami telah diinstruksikan oleh Bupati Garut untuk tetap menjaga stabilitas harga dan menjaga agar distribusi barang tetap ada. Selain itu, kami juga sedang mengkaji subsidi bagi para pengrajin. Seperti apa jenis subsidinya, karena bagaimanapun ini memerlukan kajian yang cukup," paparnya.

Nia mengungkapkan, dalam upaya menstabilkan harga salah satunya dengan menambah pasokan. Di mana Pemerintah Kabupaten Garut melalui Disperindag telah melakukan koordinasi dengan bulog untuk operasi pasar bagi pengrajin tempe.

"Kita juga harus mendorong agar kedelai lokal memiliki daya saing dan menguntungkan petani, terlebih Indonesia sudah hampir 12 tahun bergantung pada kedelai impor," tandasnya terkait aksi mogok pengrajin tempe(*) 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES