Ekonomi

Bantu Tingkatkan Skill UMKM, Founder Sales Academi Kerja Sama dengan KADIN Bandung

Senin, 09 Oktober 2023 - 19:00 | 44.01k
Narasumber psikologi selling, Didiek Harry Setiyawan. MM., MBA.,berfoto bersama peserta seminar. (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)
Narasumber psikologi selling, Didiek Harry Setiyawan. MM., MBA.,berfoto bersama peserta seminar. (Foto: Djarot/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Pelaku UMKM sampai sekarang masih saja ada yang belum memahami apakah kegiatan yang mereka harus dahulukan dalam berbisnis atau membuka usaha. Apakah menjual, memasarkan, atau membuat personal branding terlebih dahulu yang harus dilakukan? 

Ada yang sudah menjalankan personal branding atau mengenalkan diri dan produknya ke masyarakat sehingga dikenal. Ada juga yang memasarkan produk tetapi lupa terhadap fokus penjualan. 

Manakah dalam hal ini yang patut dikerjakan terlebih dahulu bagi pelaku usaha mikro atau UMKM? 

"Sebaiknya pelaku usaha UMKM baik dari pelaku usaha mikro kecil, usaha kecil dan seterusnya berfokus pada penjualan produknya terlebih dahulu, sebab mereka perlu perputaran modal dan kelanjutan produksi produk agar tetap bisa berjualan," ujar Didiek Harry Setiyawan. MM., MBA., CT.FT., CT.MR., KADIN Kota Bandung, Senin (9/10/2023). 

"Dan saat berjualan, usahakan melakukan jual beli secara cash, tidak ada penjualan dengan tempo atau bahkan credit sebab penjualan seperti itu akan memperlambat perputaran roda usaha para pelaku umkm," tutur owner Soes Cemonk menjelaskan. 

Didiek mengungkapkan selain berjualan dengan pola jual beli cash, pelaku umkm sebaiknya memahami keilmuan penjualan berdasarkan psikologi si pembeli. Artinya, pelaku umkm tahu apa kebutuhan calon pembelinya. 

Ia menuturkan bila ilmu ini dikuasai maka usaha atau bisnis yang ditekuni lambat laun akan bertumbuh dengan baik dan sehat. Apalagi, bila usaha yang ditekuni mampu memutarkan modal dari yang dimiliki tanpa perlu berhutang terlebih dahulu. 

Owner Soes Cemonk ini pun memaparkan memang tak dipungkiri, salah satu keluhan dari pelaku umkm berujung pada kurangnya modal, padahal modal sebenarnya adalah kembali kepada pemilik usaha.

UMKM-KADIN-Bandung.jpgPeserta seminar, pelaku UMKM KADIN Bandung menyimak paparan Didiek (Foto : Djarot/TIMES Indonesia)

Keahlian dirinya dan jejaring serta kejujuran pelaku usaha umkm bisa menjadi jalan untuk persoalan yang dihadapi. 

Didiek menjelaskan bahwa modal itu bisa diurutan kesekian tetapi dipercaya orang lain karena penjualan produknya bagus dan ia bisa dipercaya, maka orang lain bisa saja menaruh kepercayaan uangnya untuk diputar sebagai tambahan modal. 

"Kita juga harus bisa menata kata-kata yang keluar dari diri agar apa yang keluar dari mulut adalah ucapan positif yang nanti akan menjadi tarikan kesuksesan di usaha kita," terang Didiek. 

"Orang tidak tahu bahwa alam bawah sadar diri itu benar-benar kuat dan mengendalikan perilaku kita sehingga jika seseorang ingin usahanya tetap eksis dan bertumbuh, maka ia harus mampu mengarahkan alam bawah sadar dirinya bahwa usaha yang ditekuni akan berujung sukses dan bermanfaat untuk diri dan orang lain," imbuhnya. 

Didiek menerangkan bahwa keterkaitan antara penjualan produk dan kekuatan keyakinan penjual itu begitu erat. Begitu ia sangat yakin, produknya diminati dan laku, hasilnya akan laku. Begitu juga sebaliknya. 

Trainer yang sudah jadi langganan BUMN Pertamina ini menjelaskan bahwa orang tahu menjual itu adalah mengantarkan produk yang dimiliki kepada calon pembeli tapi tidak paham bahwa calon pembeli itu tidak suka ditawari tetapi senang membeli jika sudah suka. 

Didiek menjelaskan bahwa jika psikologis calon pembeli bisa diraih, produk akan mudah dijual dan pendapatan penjualan akan membantu perputaran usaha. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES