Ekonomi

Membangkitkan Kesejahteraan Petani Banyuwangi melalui Pupuk Organik

Senin, 23 Oktober 2023 - 12:45 | 39.78k
Petani sekaligus peternak asal Dusun Pandan, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, Bakuh Fiar Akbar, memberi makan sapi miliknya. (FOTO: Anggara Cahya/TIMES Indonesia)
Petani sekaligus peternak asal Dusun Pandan, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, Bakuh Fiar Akbar, memberi makan sapi miliknya. (FOTO: Anggara Cahya/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Menjadi petani tidaklah tugas yang mudah. Petani seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk masalah pupuk dan fluktuasi harga pangan. Namun, kisah sukses seorang petani asal Dusun Pandan, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur, Bakuh Fiar Akbar, layak dicontoh.

Bakuh berhasil memaksimalkan hasil pertaniannya sambil mengurangi biaya operasional pertanian hingga lima kali lipat. Kuncinya? Membuat pupuk organik sendiri.

Bakuh, seorang petani berusia 53 tahun, telah lama menghadapi tantangan dalam menghasilkan keuntungan yang substansial dari pertaniannya. Salah satu hambatan terbesarnya adalah ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan seringkali sulit ditemukan.

"Pada tahun 2012, hasil panenan padi saya selalu menghasilkan keuntungan yang tipis, jadi saya mulai memikirkan cara untuk mengurangi biaya operasional," ujarnya, Senin (23/10/2023).

Bakuh mengidentifikasi tiga aspek biaya utama dalam pertanian yang perlu dipangkas: biaya tenaga kerja, pembelian pupuk kimia, dan penggunaan obat-obatan pertanian seperti pestisida.

Dari ketiga aspek tersebut, Bakuh memutuskan untuk mengurangi biaya dengan fokus pada penggunaan pupuk kimia.

"Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat pupuk organik sendiri, dan sekarang saya bisa lepas dari ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal dan sulit ditemukan," ungkapnya dengan bangga.

Keputusan Bakuh untuk beralih ke pupuk organik membawa hasil yang mengesankan. Hasil panennya tetap tinggi, berkisar antara lima hingga enam ton per hektar.

Namun, ketika ditanya tentang anggapan bahwa pertanian organik mahal, Bakuh dengan tegas membantahnya. Baginya, penggunaan pupuk organik justru lebih ekonomis dan membantu memangkas pengeluaran.

"Iya, sebagian orang berpikir bahwa pertanian organik mahal. Tetapi sebenarnya yang membuat mahal adalah pembelian pupuk jadi. Jika Anda membuat pupuk sendiri, biayanya jauh lebih rendah," jelas Bakuh, yang merupakan ketua kelompok pertanian (Poktan) Mekar Makmur tersebut.

peternak-2.jpgKandang sapi dan tempat membuat media persemaian pupuk organik Bakuh. (FOTO: Anggara Cahya /TIMES Indonesia)

"Sama halnya dengan pestisida organik. Jika membeli pestisida organik sebanyak 100 gram, harganya bisa mencapai 50 ribu rupiah. Tetapi jika petani memiliki kemampuan untuk membuat pestisida alami sendiri, biayanya hanya sekitar 20 ribu rupiah per liter," tambah Bakuh.

Proses pembuatan pupuk organik tidaklah rumit. Bakuh hanya perlu menggabungkan kotoran sapi, arang sekam, dan serbuk sabut kelapa , lalu membiarkannya selama beberapa hari. Hasilnya adalah pupuk organik yang bisa digunakan di sawah dengan sangat efektif.

Dalam perjalanannya, Bakuh belajar dari komunitas yang mengkhususkan diri dalam pertanian organik. Sekarang, selain menjadi petani yang berhasil, Bakuh juga menjual pupuk organik dan pestisida alami. Dengan memiliki 7 ekor sapi dan sejumlah kambing, dia dapat menghasilkan pupuk organik serta media persemaian alami.

Yang membuatnya unik adalah dia hanya menggunakan kotoran hewan ternak, tanpa memanfaatkan susu atau dagingnya.

Setiap harinya, satu sapi menghasilkan sekitar 20 kilogram kotoran. Dengan tujuh sapi yang dimilikinya, dia menghasilkan sekitar 1,4 kuintal kotoran setiap hari. Dalam sebulan, ini berarti 4 ton kotoran sapi yang digunakan untuk pupuk organiknya.

Bakuh juga telah menjadi petani percontohan dalam kerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi. Dia memberikan pelatihan kepada petani lainnya di Bumi Blambangan agar mereka juga bisa merasakan kesuksesan yang dia capai dengan penggunaan pupuk organik.

Kerjasama antara Disperta Banyuwangi dan Bakuh menciptakan kelompok pemberdayaan petani dengan nama Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) Poktan Mekar Makmur. Ini merupakan salah satu langkah alternatif untuk mengatasi keterbatasan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

"Pemikiran ini bisa menjadi salah satu jalan alternatif untuk mengatasi keterbatasan dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia," kata Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Dispertan Banyuwangi, Ilham Juanda.

Dengan semangat dan inovasi petani seperti Bakuh Fiar Akbar, terlihat bahwa pertanian organik bukan hanya lebih berkelanjutan tetapi juga ekonomis. Di tengah tantangan pertanian yang kompleks, Bakuh membuktikan bahwa dengan tekad dan pengetahuan yang tepat, petani dapat memaksimalkan hasil panen mereka sambil mengurangi biaya operasional. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES