Ekonomi

Cerita Founder Start Up Desain Asal Malang yang Produknya Mendunia

Kamis, 25 April 2024 - 19:33 | 122.75k
Founder Estungkara Ahmad Hafidh Azkia Alam (baju biru) saat menunjukkan produk miniatur mobil buatanya ke pengunjung. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
Founder Estungkara Ahmad Hafidh Azkia Alam (baju biru) saat menunjukkan produk miniatur mobil buatanya ke pengunjung. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Cerita perjuangan dan keberhasilan Ahmad Hafidh Azkia Alam di dunia desain 3 dimensi (3D) ini mungkin bisa menjadi inspirasi banyak orang. Founder Estungkara Digital, start up yang bergerak di bidang desain 3D itu punya banyak pengalaman dan kisah menarik sebelum akhirnya bisa membuat perusahaanya sendiri.

Pria yang akrab disapa Haqi itu menceritakan, minatnya di dunia desain dan tekhnologi sebenarnya telah dia miliki sejak kecil. Namun, kala itu dia belum mampu mendapatkan fasilitas yang memadai untuk mengembangkan apa yang dia inginkan.

Minatnya mulai mendapatkan wadah ketika dia duduk di bangku SMA. Bukan menggunaan fasilitas pribadinya, melainkan dengan cara menumpang gratis di Warnet. 

"Jadi dulu kalau malam saya ikut jaga parkir di warnet. Karena sering disitu, kalau malam pas operatornya ngantuk, saya disuruh pakai salah satu komputer, untuk ikut jaga agar tidak ada motor yang hilang," ucapnya.

Bermodal seadanya, dia terus berusaha mengembangkan minatnya. Aktivitas semacam itu berjalan cukup lama. Hingga akhirnya orangtuanya mampu untuk membelikannya sebuah komputer pada saat dia sudah di tengah semester pada saat kuliah. Apa yang dia tekuni pun bisa semakin berkembang dan diakui.

Hingga pada 2010 dia diterima bekerja di perusahaan video game Codemasters yang sekarang diakuisisi Electronic Arts (EA). Perusahaan multinasional yang menghasilkan beragam macam produk multimedia. Beberapa game terkenal yang pernah dia garap seperti Dirt 3, F1, Grid 2, dan lainya.

Tak puas disitu, dia terus mengembara untuk mewujudkan keinginannya, sekaligus mengembangkan skill yang dia miliki. Berbagai perusahaan besar di bidang multimedia pun pernah dia jajaki. Dia juga sukses menjadi salah satu bagian dari produksi game kelas dunia yang masih banyak dimainkan hingga saat ini.

"Seperti Final Fantasy 15, Street Fighter V, Remnant 2, dan lainya," ucapnya.

Dengan segala lika-liku, percobaan, dan pengamalan, dengan modal ilmu yang matang di bidang desain 3D, Haqi akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang Sosiopreneur, dan mendirikan Estungkara Digital.

"Ada puluhan orang yang sekarang bekerja disini. Mereka berasal dari background yang berbeda-beda. Semua yang ingin disini, kita tampung dan kita ajari," kata dia.

Pihaknya mengaku, dengan mendirikan perusahaan sendiri, dia bisa tak terlalu terpaku dengan target profit. Yang lebih dia inginkan dari persoalan profit adalah memberikan wadah yang benar bagi mereka yang punya minat di bidang tersebut. Tak peduli dari background apapun. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya karyawan yang hanya lulusan SMP atau SMA, yang bahkan waktu awal masuk tidak punya skill yang memadai dalam bidang desain.

"Waktu kecil saya merasakan, punya minat tapi tidak bisa terfasilitasi.  Sehingga saya ingin orang lain tidak merasakan hal tersebut," tuturnya.

Kini bisnisnya bisa dibilang berkembang sangat pesat. Hanya dalam kurun waktu 2 tahun, atau sejak didirikan pada tahun 2022, sudah ada banyak project besar, baik dari dalam dan luar negeri yang dipercayakan kepada Haqi dan tim. Garapan timnya pun diakui punya kualitas yang tinggi. 

"Saat ini salah satu project yang sedang kita kerjakan adalah membuat film animasi 3D untuk sebuah museum di Jawa Tengah," terangnya.

Dari desain 3D ini, Haqi juga terus memperluas bisnisnya dengan menggarap miniatur mobil dan diorama, yang dibuat dari 3D printer. Timnya membuat miniatur beberapa model mobil seperti BMW M4 versi 1, Kijang Super, dan beberapa mobil lainya.

Produknya laris manis hingga terjual ke beberapa negara di belahan dunia.  "Konsumen kita ada dari dalam negeri dan luar negeri seperti Amerika, Jerman dan Filipina," terangnya.

Meski start up biayanya sudah diperhitungkan di tingkat internasional, namun Haqi mengaku, ingin tetap menjadikan perusahaanya sebagai ladang untuk membentuk orang-orang yang "tidak punya rumah", menjadi pribadi yang bisa menebar banyak manfaat untuk orang lain.

Saat ini berbagai instansi pendidikan dan industri pun banyak merapat ke Estungkara Digital untuk bekerjasama, menularkan ilmu untuk pengembangan desain 3D, game, dan lainya.

Dari Haqi, orang bisa belajar bahwa untuk mengembangkan minat dan bakat tak harus selalu menunggu fasilitas yang diinginkan tersedia. Keterbatasan malah sering kali membuat seseorang bisa semakin mempunyai daya juang, dan dapat memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES