Advertisement
Serba-Serbi

Darah Biru Arema 2 dan Pesan Moral untuk Para Fans

Tak kalah seru dari film sebelumnya, Darah Biru Arema 2 berhasil menjadi film yang patut dibanggakan arek Ngalam.

TIMES Indonesia,

MALANG Tak kalah seru dari film sebelumnya, Darah Biru Arema 2 berhasil menjadi film yang patut dibanggakan arek Ngalam.

Diceritakan dari 3 sudut pandang, film Darah Biru Arema 2 menggambarkan kecintaan suporter terhadap tim kesayangannya, Arema.  Ketiganya adalah sudut pandang Aremanita yang berjuang membangkitkan semangat rekan-rekannya, sudut pandang Aremania rantau dan Aremania yang jiwa Aremanya sudah mendarah daging.

Advertisement

Satu sudut pandang adalah Pacho Rubio (Muhammad Aminudin), seorang siswa SMP yang menjadi suporter fanatik Arema. Baginya Aremania sudah menjadi bagian dari hidup. Bahkan ia menjadi kapten di tim sepakbolanya dengan penuh semangat Arema. 

Dari sisi lain, ada kisah Sekar (Justine Viddy) berhasil membangkitkan semangat Aremanita yang mulai luntur karena gender. Cita-citanya membuat lagu Arema yang dikenal seantero Indonesia pun berhasil diwujudkan. Namun naas, Sekar meninggal saat akan mendukung tim Arema karena ia mengalah memberikan helmnya kepada salah satu teman.

Kisah di atas tak lain pesan moral bagi Aremania yang kerap kali mengabaikan safety riding saat mendukung tim kesayangannya, baik ke stadion maupun saat melakukan konvoi. Perjuangan Sekar tersebut harus diteruskan sang adik, Sari (Triwida Wulandari).

Selain itu, ada kisah Rochman (Dimyati), Aremania yang tengah merantau di Kalimantan bersama istrinya, Ana. Sebagai penjual bakso, Rochman selalu menyediakan tempat dan uangnya nonton bareng laga Arema di warungnya. Keinginannya untuk menonton pertandingan Arema secara langsung di Stadion Kanjuruhan Malang pun terwujud berkat bantuan teman-temannya.

Dari kisah di atas, betapa pesan moral yang disampaikan film ini kepada penonton sangat gamblang. Meski digambarkan dari tiga sudut pandang berbeda, film ini mampu diramu menjadi sebuah cerita yang real menggambarkan kehidupan nyata Aremania.

Advertisement

Meski begitu, secara visual film ini masih memiliki banyak kekurangan seperti kualitas gambar, juga font translater yang kurang cantik dikemas. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Tria Adha
PenulisJurnalis dan fotografer yang telah bergabung di TIMES Indonesia sejak Agustus 2016. Merupakan lulusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang. Memiliki minat khusus dalam peliputan berita sosial, budaya, dan olahraga.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia