Advertisement
Gaya Hidup

Mengenal Kapur Barus, Getah Pohon yang Diincar Raja Mesir

Kapur barus telah dikenal oleh pedagang Mesir, Arab dan Timur Tengah sejak abad ke 7-16 masehi. Mereka menggunakan kapur barus untuk mengawetkan mayat. Pedagang tersebut menganggap kapur barus dari Sumatera punya kualitas yang paling bagus. 

TIMES Indonesia,
Mengenal Kapur Barus, Getah Pohon yang Diincar Raja Mesir
ILUSTRASI - Kapur Barus. (FOTO: Brilio.net)
A-AA+

JAKARTA Siapa tak kenal kapur barus? Ya pewangi yang biasa diletakkan di kamar mandi maupun di lemari itu telah digunakan sejak lama. 

Selain untuk menghilangkan bau, kapur barus juga dapat mengusir ngengat maupun rayap. Kapur barus juga digunakan sebagai pengawet mayat. 

Advertisement

Dulu kapur barus dijual hanya berbentuk kristal, ada pula yang telah dihaluskan. Kini kapur barus dapat dijumpai dengan berbagai bentuk, ukuran, warna dan aroma.

Tahukah Anda asal mula kapur barus?

Kapur barus berasal dari pohon kamper atau nama ilmiahnya Dryobalanops aromatica. Getah dari pohon itulah yang kini disebut kapur barus. 

Sebutan kapur barus sendiri mengaju pada kata Barus, daerah penghasil kamper di pesisir barat Sumatera.

Kapur barus telah dikenal oleh pedagang Mesir, Arab dan Timur Tengah sejak abad ke 7-16 masehi. Mereka menggunakan kapur barus untuk mengawetkan mayat. Pedagang tersebut menganggap kapur barus dari Sumatera punya kualitas yang paling bagus. 

Advertisement

Raja-raja Mesir pun mengincar kapur barus asli Nusantara. Konon Mumi Ramses II dan Ramses III diawetkan dengan cara dibalsem menggunakan kapur barus yang dicampur rempah-rempah lainnya. 

Sayangnya kini pohon kamper sulit dijumpai. Dikutip dari Kompas, di daerah Barus sendiri pohon kamper sudah sangat sulit ditemukan. Kata Mustafa Simanulang, pemerhati sejarah Barus, pohon kamper banyak ditebang. 

International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menyebutkan status pohon kapur barus ini masuk kategori daftar merah, yaitu keberadaannya kritis atau terancam punah. IUCN merupakan lembaga konservasi keanekaragaman hayati. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia