Gaya Hidup

Hypnagogia, Melukis Mimpi Bernuansa Gelap Sarat Misteri

Senin, 24 Oktober 2022 - 03:33 | 27.54k
Seorang pengunjung sedang memotret karya seniman seni rupa, Dedy Suherdi di Galeri Pusat Kebudayaan, Kota Bandung. (Foto: Megha Nugraha/TIMES Indonesia)
Seorang pengunjung sedang memotret karya seniman seni rupa, Dedy Suherdi di Galeri Pusat Kebudayaan, Kota Bandung. (Foto: Megha Nugraha/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Bertempat di Galeri Pusat Kebudayaan, Kota Bandung, Dedy Suherdi menggelar pameran tunggalnya bertema Hypnagogia. Menerjemahkan mimpinya lewat karya lukisan yang bernuansa gelap serta sarat misteri. 

Pameran lukisan karya alumnus Desain Grafis Institut Teknologi Bandung (ITB) ini dihelat dari 23 Oktober – 1 November 2022.

Advertisement

Kurator pameran, Aa Nurjaman mengatakan tema tersebut merupakan pengalaman keseharian dialog antara alam sadar dan dunia mimpinya Dedy Suherdi sesuatu hal yang tak asing baginya sejak kecil hingga sekarang ini.

“Bahkan dunia mimpi itu menjadi jalan solusi bagi setiap persoalan yang dihadapinya,” jelasnya.

Hypnagogia sendiri merupakan masa transisi kesadaran manusia ketika hendak tidur. Pada situasi ini, manusia biasanya tengah merasakan kantuk dimana gelombang dalam otak mulai memudarkan kesadaran. Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa dalam masa transisi ini otak seseorang sebenarnya berada dalam tingkat kreativitas yang tinggi.

Aa Nurjaman menulis peristiwa itu dari sudut pandang psikoanalisa Sigmund Freud untuk memaparkan kepada pengunjung bagaimana karya–karya yang dipamerkan akhirnya dapat dimengerti oleh kesadaran seseorang.

Dalam tulisan kuratorialnya Aa Nurjaman menjelaskan secara rinci bagaimana setiap lukisan diungkapkan dalam wujud yang tidak realistik walaupun bukan surealistik dan beberapa karya nampak representasional serta penuh misteri.

Beberapa hal misteri yang ia ungkapkan dalam karya-karyanya yang hampir semuanya dibuat tahun 2022 antara lain ‘Eros dan Thanatos’, ‘Ketika Sang Sinar Mendekat’, ‘Good Things Happen to Me 1’. Begitu pula pada ‘Good Things Happen to Me 2’, ‘Poek’, ‘Dua Tebing yang terus Mendekat’ hingga ‘Rembang Gumilang’.

Lukisan-2.pngKarya seniman seni rupa, Dedy Suherdi berjudul 'Poek' yang dipamerkan di Galeri Pusat Kebudayaan, Kota Bandung. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Secara keseluruhan, kata Aa karya-karya yang dipajang mengutarakan alam bawah sadarnya Dedy Suherdi mengenai pengalaman mimpi-mimpinya ke dalam karya-karya lukisannya. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa pengalaman seni memiliki kesamaan dengan pengalaman mimpi dan sangat berbeda dengan pengalaman empirik.

“Kehidupan nyata yang kita lakukan adalah pengalaman empirik, sedangkan pengalaman mimpi adalah pengalaman hasrat atau khayalan,” jelas Aa di Galeri Pusat Kebudayaan, Kota Bandung Minggu (23/10/2022).

Ia menambahkan, pameran tunggal ini pada akhirnya membuka pikiran semua orang bahwa gagasan Dedy Suherdi sangat melekat dalam keseharian dirinya.

“Dia tidak harus keluar jauh mencari isu tapi justru masuk lebih dalam mengingat selain mengenali kembali dan bukan pula sebagai pemurnian diri. Peristiwa dalam mimpi bagaimana pun menjadi daya yang sangat besar bila diekspresikan secara estetik,” paparnya.

Alam seni seperti halnya alam mimpi, segala sesuatunya dilihat sebagai ‘benda hidup’. Alam mimpi dan alam seni menurut Sigmund Freud berasal dari alam yang sama. Alam ketidaksadaran disebut Id, Ego, atau Superego. Suatu alam yang terisi penuh oleh imajinasi.

Kedua alam itulah yang mampu melahirkan simbol-simbol. Meskipun yang membentuk secara harfiah adalah alam ego yang didasarkan pada bentuk-bentuk rasional.

Lukisan-3.pngKarya seniman seni rupa, Dedy Suherdi berjudul 'Eros dan Thanatos' yang dipamerkan di Galeri Pusat Kebudayaan, Kota Bandung. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Sejumlah karya Dedy Suherdi yang dipamerkan kali ini didominasi oleh warna hitam. “Warna itu bukan dimaksudkan sebagai unsur estetik tetapi didasarkan kepada perwujudan nilai rasa yang kerap dialaminya,” ucap Aa.

Dalam karyanya yang berjudul berbahasa Sunda ‘Poek’ yang berarti gelap, Dedy mengungkapkan alam ritual laut yang biasa disaksikannya semenjak masa kanak-kanak.

Sebagai seorang yang dibesarkan di lingkungan pesisir pantai, ritual laut menjadi pengalaman mendalam yang sampai terbawa ke alam mimpinya.

Aa menjelaskan, bahwa menurut psikoanalisis kecemasan yang terjadi di alam mimpi dikarenakan tekanan dari nalar atau ego. Sebagai pembatas keliaran alam hasrat dalam memuaskan keinginannya.

“Poek atau gelap adalah suatu makhluk yang bergerak sesuai waktunya. Dan sesuatu yang gelap di dalam mimpi kerap menjadi simbol kecemasan,” katanya.

Sementara itu, Dedy yang tumbuh di pesisir pantai Pamanukan mengungkapkan bahwa karya yang didominasi warna hitamnya itu merupakan sebuah representasi mimpinya yang diselimuti misteri. “Warna hitam itu misteri, karena aku tidak tahu kenapa selalu muncul di alam mimpiku,” ungkap Dedy soal karya lukisannya yang dipamerkan di Galeri Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Kota Bandung.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES