Gaya Hidup

Semilir Ecoprint: Melestarikan Budaya dan Lingkungan Melalui Keindahan Motif Alam

Selasa, 19 September 2023 - 19:00 | 152.71k
Berbagai motif alam hasil ecoprint ramah lingkungan kreasi Semilir Ecoprint, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Instagram @semilir_ecoprint)
Berbagai motif alam hasil ecoprint ramah lingkungan kreasi Semilir Ecoprint, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Instagram @semilir_ecoprint)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTASemilir Ecoprint merupakan salah satu dari banyak penggiat ecoprint atau eco printing di Indonesia. Membawakan filosofi ramah lingkungan dan pemberdayaan masyarakat dalam setiap produknya, hasil karya ecoprint dari Semilir banyak diminati dan dicari oleh masyarakat.

Teknik Eco Printing seperti yang digunakan Semilir Ecoprint adalah teknik cetak dengan pewarnaan kain alami secara sederhana namun dapat menghasilkan motif unik dan otentik. Teknik pewarnaan ini banyak dipakai untuk memberikan kesan eksklusif dan alami kepada sebuah kain, membuatnya memiliki nilai jual tinggi dan dapat diaplikasikan di berbagai bahan.

Digagas pertama kali oleh Alfira Oktaviani pada tahun 2018 di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Semilir Ecoprint berawal dari kata dalam bahasa Jawa 'silir' yang berarti angin yang menyejukkan. 

Makna ‘Silir’ juga menjadi filosofi Semilir dalam menghasilkan produk ecoprint ramah lingkungan namun di saat bersamaan juga memberdayakan masyarakat setempat. Semilir Ecoprint ini diharapkan bisa menyejukkan bagi alam, bagi masyarakat dan budaya.

"Semilir Ecoprint punya misi bukan hanya untuk melestarikan budaya melalui inovasi ecoprint, namun juga melestarikan lingkungan dengan menghasilkan produk ramah lingkungan dan juga memberdayakan masyarakat setempat,” ungkapnya kepada TIMES Indonesia melalui pesan singkat, Selasa (19/9/2023).

Melalui teknik ecoprint, Alfira memberikan warna dan motif otentik kepada kain tradisional seperti Kain Lantung khas Bengkulu. Hal itu membuat kain tradisional yang biasanya berwarna polos menjadi unik dan memiliki harga jual lebih tinggi.

Salah satu produk unggulan Semilir Ecoprint adalah Kain Lantung khas Belitung. Kain tradisional berbahan dasar kulit kayu pohon Terap (Trap) yang dipukul dengan perikai (sejenis pemukul berbahan dasar tanduk kerbau) hingga halus dan rata.

Kembangkan Ecoprint Kain Lantung Sejak 2019

Alfira-Oktaviani.jpg

Alfira membeberkan, eksplorasi ecoprint Kain Lantung khas Bengkulu telah dimulai sejak tahun 2019. Mengaplikasikan ecoprint ke media baru diakui sebagai tantangan sulit dan membutuhkan banyak trial dan error pada awal pengembangannya. 

"Ecoprint biasanya diterapkan di kain, sedangkan Kain Lantung ini kan dari kulit pohon, jadi memang harus trial error terlebih dahulu sebelum akhirnya menemukan racikan dan metode yang pas. Beruntung, karena seratnya bersifat alami jadi dapat dengan mudah kita eksplorasi," jelasnya tentang proses eksplorasi ecoprint kain lantung.

Selain melestarikan budaya, eksplorasi ecoprint kain lantung itu juga diakui sebagai upaya untuk melestarikan lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat setempat. Hal itu dicapai dengan proses produksi yang mempekerjakan warga sekitar sebagai tenaga kerja utamanya.

“Banyak yang tidak tau, Kain Lantung ini sudah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sejak tahun 2015, namun masih belum banyak tahu. Dengan ecoprint ini kami mencoba memberikan inovasi, membuat kain tradisional yang biasanya polos menjadi lebih unik dan diminati oleh masyarakat,” jelas Alfira.

Perempuan itu menambahkan, meski terbuat dari serat alami, Kain Lantung tergolong kokoh namun elastis sehingga bisa diaplikasikan menjadi berbagai kebutuhan. Mulai dari baju, celana, tas hingga item fesyen lainnya.

“Karena seratnya alami, proses ecoprinting tergolong mudah dan warna bisa meresap dengan baik. Selain itu, Kain Lantung ini tergolong kokoh dan kuat. Dalam sejarahnya, kain ini awalnya dipakai sebagai alat bantu untuk menggendong hasil alam,” beber penggagas Semilir Ecoprint itu.

Merintis Semilir Ecoprint sejak tahun 2018, Alfira mengaku perjalanannya tidaklah mudah. Beberapa kali ia harus dihadapkan dengan dilema dan cobaan selama mengembangkan produk ecoprint miliknya. 

“Kain Lantung ini kan terbuat dari kulit pohon, jika dieksploitasi berlebihan bisa merusak alam. Oleh karena itu, kita harus menghadirkan inovasi dan memang kami produksi secara terbatas agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan,” bebernya.

Menjaga Budaya dan Lingkungan Melalui Keindahan Ecoprint

Berkat konsistensi dan komitmen Alfira melestarikan kebudayaan bangsa dan menjaga lingkungan melalui keindahan ecoprint, dirinya berhasil memperoleh penghargaan dalam Satu Indonesia Award tahun 2022 oleh Astra International sebagai tokoh inspiratif bidang kewirausahaan.

"Setelah  menerima apresiasi ini, kami akan tetap terus mengedepankan tiga pilar kami kedepannya. Pertama tentu mempromosikan budaya Indonesia dalam setiap produk kita, berkolaborasi dan terus meng-empower masyarakat dan terus menerapkan konsep sustainable kedepannya," pungkas penggagas Semilir Ecoprint itu.

Langkah kecil dan konsisten Alfira dan Semilir Ecoprint merupakan gambaran nyata, bahwa apa yang kita lakukan hari ini dapat memberikan dampak nyata di masa yang akan datang. Melalui keindahan ecoprint, Alfira menjaga kelestarian budaya sekaligus menjaga lingkungan untuk generasi akan datang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES